CerpenSex

Cerpen sex versi Indonesia

Kontrak Kerja Akhir Tahun

Comments Off on Kontrak Kerja Akhir Tahun

8883050b-761d-47e6-9759-a06b2cf03223

CerpenSex | Pengalaman saya ini terjadi pada akhir tahun 2010 yang lalu, saat itu aku bekerja pada sebuah perusahaan multinasional yang tidak perlu saya sebutkan disini nama perusahaannya. Beberapa klien kami adalah perusahaan luar negeri yang juga besar dan tidak bisa dipandang remeh.

 

Awal mula cerita ini terjadi saat salah satu perusahaan asing dari singapura yang akan menegoisasikan kontrak dengan perusahaan kami, sebagai manajer marketing aku bisa saja menunjuk salah satu staf-ku untuk menyelesaikan urusan itu, namun tidak kulakukan karena saat itu adalah akhir tahun dan aku paham sekali kalau staf-staf pasti akan mulai berlibur bersama dengan keluarga mereka. Oh iya, sebelumnya perkenalkan, namaku Budi, umurku sekarang 30 dan pada saat kisah ini terjadi aku masih lajang, tidak memiliki pacar meskipun ada beberapa perempuan yang dekat denganku secara khusus dan tanpa status.

29 Desember 2010. hari itu aku memanggil staf satu persatu ke ruangan untuk memberikan mereka sekedar bonus akhir tahun extra dariku pribadi, ada 5 staf-ku dan masing-masing memang mendapatkan bonus akhir tahun yang berbeda-beda, selain berdasarkan achievement mereka, aku juga memberikan extra bonus pada staf perempuan yang dekat denganku.

“Bos, beneran gpp nih mau handle sendiri presentasinya ?” tanya salah seorang staf-ku yang bernama Dina,

dia adalah seorang perempuan yang cantik, dengan body yang amat sangat sexy, Dina ini seorang perempuan yang cantik, badannya tinggi semampai, belum lagi ditambah dengan high heelsnya, wajahnya cantik dan nafsunya besar sekali, payudaranya menantang dan bulat mengacung, ukurannya 36D. Seringkali dia berkunjung ke apartemenku hanya untuk ml meskipun dengan alasan untuk mengkonsultasikan pekerjaan, dulu aku memang selalu memberi job kepada Dina untuk menyelesaikan kerjaan yang finishingnya harus dengan persetujuanku, dan lagi karena aku tinggal sendirian di apartemen, tidaklah menjadi masalah sama sekali untuk kami bercinta kapanpun, namun sejak ia memiliki tunangan yang dijodohkan oleh orang tuanya, aku mulai menjauhinya untuk menghindari masalah.

“its allright dina, kamu berlibur saja dengan pacarmu, ini sudah tanggung jawabku kepada perusahaan” jawabku.
“thank you bos ku yang ganteng, eh, makasih ya bos untuk bonus akhir tahunnya” katanya lagi sambil mencium bibirku dengan mesra dan ini membuat gairahku sedikit bangkit,

secara naluri aku meraba payudaranya, payudara Dina ini sejak awal dia masuk kerja 2 tahun yang lalu sudah menjadi obsesiku, saat melamar kerja waktu itu dia mengenakan blazer, dan payudaranya membuatku menelan ludah saat mewawancarainya, Aku tidak menyerahkan perekrutan staf kepada HRD, karena aku butuh orang yang sesuai dengan kebutuhan, dan pemilik perusahaan menyetujui sepenuhnya keinginanku karena aku selalu melampaui target penjualan dari perusahaan.

“mmhh.. si bos ih.. nakal banget tangannya, nanti Dina jadi horny lho” protesnya.
“you know that I’m always obsessed to your boobs dear” jawabku singkat sambil terus meraba payudara Dina dari luar blazernya.
“mmmhh.. Bud, udah dong.. nanti kalo ada yang masuk gimana ?” katanya, tanpa melawan, malah tangannya membenamkan wajahku ke payudaranya.

Ini membuatku semakin bersemangat dan bergairan lagi, pelan-pelan kuraba dan mulai kuremas payudara kanannnya, sementara tangan kananku meraba-raba puting payudara kirinya yang mulai mengeras.

“oohh Budi.. shit.. I feel so hot..” katanya dengan mata terpejam dan semakin mempererat dekapannya.

kemudian aku berdiri dan membuka kancing blazernya dan melepaskannya, kuangkat kaus dalamnya, dan membuka kait bra-nya, kaitnya ada didepan, jadi sangat memudahkanku untuk membukanya, payudaranya yang besar itu langsung tampak tumpah saat kubuka kaitnya.. besar, bulat dan putingnya mengacung, langsung saja kujilat dan kulahap payudaranya, tanganku tak lepas meremas-remas payudaranya. Tak menunggu lama, Dina membuka reseleting celana dan kemudian merogoh kedalam celanaku, penisku sudah sangat mengeras.

“aduh Bud, aku pengen kontolmu yang gede ini..” katanya mulai meracau, selain nafsunya yang besar, payudara Dina sensitif sekali, jadi jika sudah disentuh, pasti Dina jadi horny banget. Penisku cukup membanggakan untukku, dengan diameter 6cm dan panjang sekitar 18cm, rasanya sudah cukup untuk membuat perempuan manapun merasakan kepuasan sex denganku, Dina termasuk salah satu perempuan yang sangat suka sekali ml denganku.

Dengan tergesa-gesa diturunkan celananya dan celana dalamnya, bongkahan kenyal pantatnya sungguh bulat dan sempurna, mulus dan putih sekali. Dina kemudian kurebahkan di meja kerjaku yang cukup besar, tangannya tak mau lepas dari penisku, seolah takut kehilangan benda yang paling berharga untuknya, aku mengikuti permainannya. Kemudian segera saja dia menmbuka lebar-lebar kedua pahanya dan mengarahkan penisku ke vaginanya yang sudah sangat basah, pelan-pelan diarahkan penisku menuju ke lubang kenikmatannya, aku mendorongnya pelan.. dan kami selalu merasa sedikit kesulitan saat memasukkan penisku ke vaginanya. Dina tampak meringis menahan sakit dan enak yang bersamaan.

“Auuhh Budi, kontolmu gede banget sayang.. masa berkali-kali ngentot sama kamu masih susah masuknya”, lenguhnya saat kepala penisku mulai memasuki lubang vaginanya.
“memekmu aja yang tetep sempit sayang, luar biasa enak rasanya” kataku menyenangkannya.
“aku masukin semua ya” lanjutku.
“pelan yah.. mmmhhh.. ampun enak sayangkuu.. aahh kontolmu enak sayang” racaunya sambil memegang erat-erat pinggiran meja seolah dia berusaha menahan agar tubuhnya tidak ikut terdorong.
“shit.. enak banget memekmu Din..”, dan memang jujur rasanya sangat nikmat sekali memek Dina, rasanya seluruh batang penisku yang akhirnya bisa masuk semua ke vaginanya dipijit-pijit dan diperas agar segera keluar.

Pelan-pelan aku memasukkan dan mengeluarkan penisku, bagiku sex adalah sebuah permainan, sebuah pertandingan, yang mana tiap pemain berusaha saling memenangkan pertandingan dengan bertahan lebih lama untuk tidak orgasme, dan pada suatu percakapan, Dina pernah mengatakan hal yang sama dan itu yang membuat kami akhirnya sama-sama saling membutuhkan dan memuaskan.

Setelah vaginanya mulai terbiasa, aku mulai mempercepat tempo permainan, tentunya kami tak ingin berlama-lama bercinta di ruangan kantorku, kalau ada yang masuk, bisa-bisa ketahuan dan berantakan semuanya. Payudaranya yang besar tampak bergoyang-goyang dengan cepat, tanganku menggenggam erat payudara sebelah kirinya dan tangan kananku menopang beban tubuhku sendiri sambil terus memompakan penisku ke vaginanya, sesekali penisku kudorong dalam-dalam sampai rasanya mentok dan itu membuat dina mendelikkan matanya sambil menahan suaranya, mulutnya membuka seolah meng-ooh panjang, ini yang kusuka, menyiksa perempuan dengan kenikmatan.

“oh my god.. oh my god.. oh my god.. aku mau nyampe Bud.. aku mau nyampe Bud.. aku nyammpeee aaaahhhppp…”, Dina yang meracau dengan cepat segera kubungkam mulutnya dengan bibirku dan mempererat dekapanku,

dadanya yang bulat terasa sangat hangat dan mengganjal di dadaku, aku tak mau Dina melolong keras saat dia mendapatkan orgasme, nanti staf diluar bisa curiga. Bibirku dikulumnya dengan sangat liar dan bernafsu sambil nafasnya terengah-engah, orgasme yang membuatku semakin bernafsu untuk memuaskannya. Semakin kupompa dalam-dalam penisku dan mengurangi temponya, dicengkeramnya punggungku kuat-kuat sambil terus melumat bibirku dengan penuh nafsu, tubuhnya setengah mengejang-ngejang dan terasa semakin hangat vaginanya.

“Budih…budih.. auuhh.. ahh.. ahh.. aaahhh.. kontolmu enak sayang.. mmhh..” katanya setelah melepaskan bibirku,

matanya tampak berkaca-kaca dan bahagia menatapku, ini yang selalu kusuka dari Dina, tatapan matanya saat orgasme, seolah-olah kebahagiaan luar biasa selalu terpancar dari matanya, kedua tangannya dikedua sisi pipiku terasa lembut meski vaginanya masih tetap terasa memeras-meras penisku.

“giliran aku ya sayang..” kataku padanya, gelombang kepuasan sudah mulai terasa.
“iyah.. Budi.. mmmmhh.. aahh shit.. kontolmu tambah gede rasanya.. oh my god.. penuhnya.. gedenyaaa..” racaunya.
“aaaahhh… enakknya Budiii..” serunya, aku juga merasakan hal yang sama enaknya dan tak tertahankan lagi vaginanya terasa semakin menjepit dan meremas-remas.

Kemudian kupompa penisku dalam-dalam, sedalam-dalamnya dan crott..crott..crooott.. rasanya seperti kutumpahkan semua isi penisku kedalam vaginanya, rasanya gelap, terang, puas dan ada beban lepas terangkat dari kepalaku, seperti lepas dan mengambang diatas kepalaku.

“henak.. Budih.. henak banget kontolmu.. haahhh…hahhh…hhh..” nafasnya seperti memburu dan menggapai-nggapai, aku mengeluarkan penisku pelan-pelan, mengambil sapu tangan dari laciku dan kemudian mengelapnya. Dina mengambil tisu basah dan mengelap spermaku yang tampak mulai meleleh keluar dari vaginanya yang indah, putih mulus sekali dengan rambut kemaluan yang tipis dibagian atas saja.

Tiba-tiba ada suara ketukan di pintuku, aku dan Dina sama-sama terkejut setengah mati, telepon di meja sekretarisku sedang rusak, dan belum diganti, hari ini seharusnya sudah diganti, tetapi rupanya belum. Tanpa banyak pikir lagi, aku berkata tanpa suara kepada dina dan menunjuk kebawah meja.

“masuk kebawah meja cepet” kataku sambil menunjuk bawah mejaku dan kemudian aku duduk di kursiku dan membuka sebuah buku.
“Ya, masuk” jawabku berusaha santai,

kemudian mengambil sapu tangan dimejaku dan mengelap keringat yang ada di keningku. Dengan meja yang besar, aku yakin sekali akan sangat aman untuk Dina bersembunyi disana, tidak akan terlihat oleh tamu atau siapapun yang akan masuk ke ruanganku.

“maaf bos, saya tadi dipanggil sekretaris pak Rudi, dan ini berkas yang untuk penawaran besok diperiksa dulu sebelum ditanda-tangani sama pak Rudi” kata Vina, sekretarisku.
“iya taruh di mejaku dulu sini saja” jawabku singkat.
“tapi pak Rudi sudah mau pulang bos, katanya disuruh nunggu dan saya disuruh nganterin kesana, beliau mau berangkat ke Phuket pak” sambungnya lagi.
“oke bawa sini” kataku, aku sedikit merapatkan dudukku, meskipun tidak terlihat, tetapi deg-deg juga, dibawah mejaku ada Dina yang sedang bersembunyi.

Ada sekitar 15 lembar berkas penawaran, aku menyuruh Vina untuk duduk dan kemudian segera membuka-buka berkasnya dan Vina pun duduk di hadapanku.

Tiba-tiba terasa sebuah rabaan di pangkal pahaku, Dina memegang penisku yang belum sempat aku masukkan kembali kedalam celanaku kemudian dielus-elusnya kedua biji penisku. Aku berusaha menahan dan memberikan expresi datar saja sambil tetap memeriksa berkas-berkas dihadapanku. Vina tampak duduk dan diam saja memperhatikan aku membuka-buka berkas.

“intercom-mu belum diganti Vin” tanyaku sambil tetap berusaha berkonsentrasi membaca berkas, sekilas aku meliriknya.

Wajahnya yang cantik memang sangat menyenangkan untuk dilihat.

“belum bos, katanya teknisinya sedang ngerjakan di BCA, nanti sore baru kesini ngganti intercom-nya” jawabnya.

Penisku terasa hangat dan basah, aku merasakan sapuan lidah Dina, sekarang dia mengulum penisku, dan tak ayal lagi langsung mulai berdiri, karena baru saja orgasme penisku masih sangat sensitif kalau disentuh, ini malah dikulum oleh Dina. Aku berdehem untuk menyembunyikan ekspresi kenikmatan yang kurasakan.

“bos lagi ga enak badan ?” tanya Vina
“enggak, kenapa Vin?” tanyaku dengan tetap berusaha mempertahankan ekspresi datar.
“wajahnya agak merah, kirain bos kenapa.. kan Vina khawatir” katanya lagi sambil tersenyum
“ah masa sih Vin? kamu khawatir kenapa Vin?” aku menatapnya,

dan kemudian tanpa sengaja aku melihat kancing sebelah atas dari pakaiannya terbuka, dua kancing tepatnya dan otomatis itu membuat sebagian besar payudaranya yang tak kalah besar dengan Dina jadi terlihat jelas, belahan yang mulus ditengahnya ada sebuah liontin yang membuat belahan dada Vina semakin tampak indah.

“itu kancing bajumu kebuka lho” kataku mengingatkan.
“eh maaf bos” katanya segera sambil menutupi dadanya dan mengancingkan kembali kancing bajunya.
“tapi sebenernya nggak papa juga sih, kan yang liat bos sendiri’ sambungnya lagi.
“wah kalau begitu dibuka sekalian saja Vin” kataku menggoda, kami memang biasa bercanda nyerempet-nyerempet kalau

sedang berdua, tetapi sampai hari ini kami saling menghormati, dan aku tidak mau memulai terlebih dahulu, bisa-bisa kalau kege-eran malah dikira melecehkan.

Dibawah meja Dina melepaskan kulumannya dan menghentikan elusannya, wah marah nih si Dina, pikirku. Dan karena penisku tidak digenggam dina, berdirilah dengan tegak penisku dan tanpa kusadari kepala penisku sedikit menyembul dari balik meja.

Baca Juga Cerita Lain nya di Sang Janda

“Bos.. anu.. itu..” kata Vina sambil menunjuk kearah penisku mengintip.
“apa Vin ? eh.. sorry..sorry, anu.. tadi dari toilet lupa reseleting” kataku sambil berusaha memasukkan penisku,

karena sambil duduk dan penis yang setengah berdiri, penisku tidak bisa masuk kedalam celana, mungkin karena malu, aku langsung berdiri tanpa pikir panjang dan berusaha memasukkan penisku yang tegak berdiri, aku benar-benar gugup dan ditambah lagi sekarang aku tersadar kalau Vina sepenuhnya bisa menatap penisku yang mengacung tegak.
“eh.. maaf-maaf Vin, aduh.. maaf Vin” kataku kebingungan berusaha menutupi penisku, akhirnya aku taruh sapu tanganku menutup penisku dan malah terlihat lucu, sapu tanganku seperti tergantung menutupi sebuah tongkat di bagian depan celanaku.

“waw si bos.. kontolnya besar banget.. panjang lagi.. pasti pacarnya termemek-memek itu kalo dimasukin kontol yang segitu gedenya” katanya sambil tertawa kecil.

aku setengah gugup segera berusaha melepas sabuk celanaku dan berusaha memasukkan penisku kedalam celanaku.

“kamu ngeliatin terus sih Vin” sambungku lagi sambil berusaha memasukkan penisku,

sia-sia sepertinya, sapu tanganku tentunya ikut masuk kedalam celana dalamku, dan akhirnya aku lepaskan sapu tanganku dan sekali lagi Vina melihat penisku dengan bebas dan akhirnya menjadi sebuah sensasi tersendiri melihat seorang perempuan terpana dan kagum pada penisku, terasa penisku berdenyut-denyut dan itu membuatnya nampak seperti mengangguk-angguk pada Vina.

“ah… uratnya sampai segitunya si bos, ya ampun bos.. Vina jadi pengen..” katanya sambil tersipu dan tersenyum malu.
“ah sudah..sudah.. kamu ini ada-ada aja Vin” aku berusaha santai dan memasukkan penisku kedalam boxerku dengan sedikit susah payah, karena boxerku longggar, maka penisku pun tetap tercetak dengan jelas, setelah berhasil memasukkan penisku dan memakai celanaku lagi.

Kulihat sedikit ekspresi kecewa di wajah Vina, tapi segera saja dia menatapku dan tersenyum dengan lucu.

“oke, daripada lama-lama kamu disini, nanti bisa kuperkosa kamu, sudah berkas ini kamu sampaikan ke bos Rudi dan mintakan tanda-tangannya, semuanya sudah sesuai dan lengkap”, aku sebenarnya berusaha untuk tidak tampak menginginkan Vina,

belahan dadanya yang tadi tampak jelas sungguh-sungguh membuat aku sangat bergairah kepada Vina.

“baik bos, saya bawa ke pak Rudi dulu, nanti saya serahkan kembali kesini” katanya sambil melangkah menuju pintu keluar kantor,

kali ini entah kenapa aku menatap ke pinggulnya yang sangat menggoda, beberapa rekananku selalu mengatakan bahwa aku beruntung mendapatkan Vina sebagai sekretarisku, orangnya molek dan seksi kata mereka, tapi baru kali ini aku menyetujuinya, dan terasa penisku berkedut lagi.

“oh iya bos, itu yang punya high heel, lain kali kalo mau ketinggalan sepatunya, kakinya ngga usah ditinggal sekalian, ntar dikira badannya juga ada dibawah meja lho bos” katanya sambil tersenyum dengan sangat nakal,

kemudian dia menyorongkan bibirnya seolah memberikan ciuman, mengedipkan sebelah mata kemudian berbalik keluar dan menutup pintunya kembali.

aku hendak mengatakan sesuatu untuk menyangkal, namun tidak bisa terpikirkan satu alasanpun untuk membantah.

“Bud, gimana ini..” kata Dina sambil keluar dari persembunyiannya, payudaranya yang besar masih tampak mengacung, sungguh hari yang sangat menyenangkan pikirku.
“nggak papa, Vina itu sekretaris yang bisa menjaga rahasia, kalau dia macam-macam ya tinggal aku berhentikan saja dengan alasan kalau dia menyebarkan gosip tidak benar tentang kita”, kataku menenangkan Dina yang sedang membenahi pakaiannya dan kemudian dengan gesit dia merapikan rambutnya agar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“kamu yakin Bud ?” tanyanya sambil mengikat rambutnya dan memastikan bahwa tidak ada bekas pergumulan kami yang akan nampak ditubuhnya.
“iya, tenang saja” jawabku, sebenarnya aku juga berusaha menyakinkan diriku sendiri juga.
“ya sudah kalau gitu, aku mau keluar dulu dan sekalian pulang deh sayang” Dina menciumku dan kemudian meraba penisku yang masih setengah keras.
“lain kali disambung ya dedek besar” katanya lagi sambil mencium penisku dari luar celana, penisku mendenyut sedikit mengeras dengan tingkah Dina yang sangat nakal.
“thanks bonus akhir tahunnya ya bos, bonus yang besar..” kata Dina sambil mengedipkan mata.

Aku kemudian bangkit dari kursiku, mengeluarkan sebotol black label dan mencampurnya dengan diet cola, kemudian aku duduk di kursiku sambil memikirkan Vina.

Sore hari itu aku lembur, aku tinggal sendiri dan lembur bukanlah suatu hal yang luar biasa untukku, bagiku mengejar karir saat ini masih sangat menyenangkan, menyelesaikan tugas dan membuat atasanku senang dengan hasilnya juga menjadi kepuasan pribadi, selain itu bonus dari atasanku juga sangat menarik, tidak perlulah untukku khawatir jika aku tidak bekerja selama setahunpun, saat ini depositoku juga sudah bernilai tiga digit dan bunganya saja sudah cukup untuk membuatku hidup di Surabaya ini. Tetapi aku sadar akan ambisiku sendiri, dan menurutinya akan sangat menguntungkan untuk masa depanku.

Quicky dengan Dina tadi siang sudah cukup menguras tenagaku dan ditambah dengan lembur sore ini membuat kantukku tak tertahankan lagi, akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat sebentar, tidur barang 15 menit mungkin akan membuatku lebih bugar pikirku. Ruangan kerjaku memiliki satu set sofa yang cukup nyaman, aku biasa tidur disana apabila aku terlalu lelah mengerjakan sesuatu, biasanya aku aktifkan alarm di ponsel untuk waktu 15 menit, dan itu sudah cukup untuk membuat aku kembali bugar. Aku pun merebahkan diri dan tanpa menunggu lama, aku tidur dengan pulas.
Aku terbangun karena aku merasakan sebuah sentuhan ditubuhku, ketika aku membuka mata, aku melihat Vina sedang memakaikan selimut ke tubuhku.

“eh maaf, kamu jadi terbangun ya.. sudah tidur lagi saja, nanti kubangunkan kok bos” katanya sambil tersenyum, manis sekali senyumannya.
“iya Vin, kirain kamu selimutnya” kataku sekenanya sambil memejamkan mata lagi.
“yee.. maunyaa..” jawabnya.

tidak lama kemudian aku sudah tetidur, mungkin karena sebelumnya melihat Vina, akhirnya aku bermimpi sedang berdua bersamanya di Apartemenku, mimpi yang sangat erotis, di dalam mimpiku itu Vina hanya mengenakan celemek untuk memasak, dia sedang ada di dapur dan sedang memasak sesuatu, sungguh pemandangan yang amat sangat erotis buatku, seorang perempuan cantik tengah memasak dengan telanjang bulat dan hanya mengenakan celemek, punggungnya yang mulus benar-benar putih, melihat pinggulnya dan pantatnya yang membulat dan mulus membuatku gemas sekali, dan akhirnya di mimpiku itu aku meyetubuhi Vina dengan gemas dan dengan berbagai gaya, menumpahkan madu di dadanya yang sangat montok dan menjilatinya sampai bersih. Karena sungguh-sungguh menikmati mimpi itu, tanpa sadar aku memanggil-manggil namanya saat terlelap, di mimpiku itu Vina memanggil-manggilku saat orgasme dan aku terus memompa vaginanya dalam-dalam.

“bos.. bos..” , antara sadar dan tidak,aku melihat Vina dan memeluknya, melanjutkan meremas-remas dadanya yang montok dan besar.
“bos !!” tiba-tiba suara Vina membentak, dan aku pun tersadar bahwa ini bukan mimpi dan wajah Vina tampak bersungut-sungut kesal, sepertinya tadi aku benar-benar memeluk dan meremas dadanya.
“eh.. maaf Vin, tadi aku pikir sedang mimpi.. maaf” pintaku kebingungan.
“alasan pasti, bohong pasti” jawab Vina, mukanya dibuat-buat cemberut, kemudian dia tertawa kecil.
“kamu mimpi apa tadi bos, kok manggil-manggil Vina ?” tanyanya sambil membenahi kancing bajunya yang terbuka lagi, meskipun sempat melihat bra hitamnya, tapi aku pura-pura tidak melihatnya.
“ga kok.. engga mimpi apa-apa, bukan apa-apa” jawabku agak gugup
“kalo bos ga jawab jujur, kulaporin nih, pelecehan seksual nih” katanya lagi, sambil mukanya merengut lucu,

Vina ini kadang sikapnya kekanak-kanakan, tetapi kalau sedang bercanda soal seks, pasti dia nyambung banget, ini yang membuatku beruntung dan meski baru pertama kalinya aku benar-benar meremas dadanya, namun jika kami bercanda berdua, seringkali kusinggung soal betapa besar dadanya.

“apaan sih, orang ga sengaja kok, lagian siapa suruh bangunin orang tidur?” jawabku pura-pura kesal.
“lha.. tadi katanya disuruh bangunin 15 menit lagi, ya dibangunin, eh malah mau diperkosa” balasnya.
“eh iya ya..”
“emang mimpi apa sih ? pasti mesum ya, emang belum puas sama mbak Dina tadi ?” tanya Vina sambil melihat keatas dan tersenyum-senyum.
“eh..” aku bingung, aku benar-benar diposisi serba salah.
“hihihi.. mbak Dina itu gede banget ya bos toketnya ?” tanyaya lagi,

sekarang dia duduk disebelahku di sofa.

“ya gitu deh” jawabku singkat
“jadi tadi pas kontolnya berdiri, itu diapain sama mbak Dina ?” tanyanya semakin berani
“cuma kesenggol aja”
“kesenggol lidah?” nadanya menyindir
“sebenernya sih karena kamu pamer toket tadi Vin” aku asal menjawab
“yeee.. itu kan ga sengaja, dasar bos aja yang suka ngintip” jawabnya mengelak
“sapa yang ngintip, orang kamu buka didepanku kok, ya masa mata ini ga bisa liat toket bengkak segitu didepan mata” kataku sambil tertawa,

suasananya mulai mencair lagi

“iiiihh.. siapa yang bengkak sih bos” jawabnya gemas sambil memukul lenganku.
“hahaha.. ya kamu Vin, sapa lagi, malah pake pamer pake bra item lagi” kataku semakin menggodanya
“uuuhh tukang ngintipp.. timbilan bener lho ntar matanya” katanya gemas sambil memukul-mukul kecil lenganku.
“aduh..aduh.. udah dong.. ya kamu kalo niat pamer yang bener, jangan dikit-dikit” kataku berusaha menangkap tangannya sambil tertawa-tawa.CerpenSex
“iiihh.. nakal yaaa” kata Vina sambil berusaha mengelak.
“hahaha.. udah..udah Vin, ntar malah dikira ngapain lagi sama orang-orang diluar” jawabku melepaskan pegangan tanganku di pergelangannya.
“yee ngarep dia, lagian udah pada pulang kok, ini tadi aku bangunin soalnya kasian kalo sampe dikunci ama satpam,
tidur sofa ampe pagi kamu bos disini” jawabnya.
“jam berapa sih sekarang ?” tanyaku sambil melihat jam,

di atas pintu keluar jarum jam menunjukkan bahwa sekarang sudah pukul 8, diluar langit sudah gelap sekali.

“lho, kamu kok ga banguin aku dari tadi sih Vin, kataku sambil berdiri,

aku menuju mejaku dan menata mejaku, menumpuk berkas-berkas dan kemudian mengambil sebuah amplop di laci meja.

“ini bonus akhir tahun buat kamu Vin” kataku sambil menyerahkan amplop berisi uang kepada Vina,

aku memang sengaja memberikan bonus kepada semua staf ku, dan karena Vina sudah sangat banyak membantuku menyelesaikan pekerjaanku, aku memberikannya sedikit extra uang untuk bonusnya.

“asik, si bos baik deh” kata Vina sambil menyambar amplop ditanganku dengan cepat, kemudian dia memelukku dan memberiku ciuman di pipi,
“makasih ya bos ganteng” aku yang terkejut dengan ulahnya yang berani cuma bisa kaget dan terdiam,

dadanya yang besar dan kenyal menempel dan membuatku merasakan geli di penisku, aroma rambut dan tubuhnya yang sangat segar membuat gairahku bangkit perlahan-lahan. Penisku mulai berdiri dan mendorong keluar, perutnya tepat ada di penisku.

“iiihh.. si bos nakalnyaaaa” katanya, dan tiba-tiba tangannya berada di penisku dan meremasnya.
“nakal..nakal..nakal” katanya lagi sambil meremas-remas di tiap kata-katanya menekankan rasa gemasnya.
“eh.. Vin”, Aku benar-benar bengong dengan ulahnya,

kami memang biasanya bercanda, tetapi dia sekarang menggenggam penisku di tangannya dan meremas-remasnya dengan gemas, yang terjadi sudah jelas bisa ditebak, penisku semakin membesar di tangannya. Dan dari ekspresi wajahnya, aku tahu kalau dia sungguh kagum.

“wih.. bisa tambah besar” katanya lagi sambil mulai menggosok naik turun dan tersenyum lebar.
“ehh… udah..udah.. ini ntar muncrat jadinya” kataku memegang tangannya, menghentikan gosokannya pada penisku yang masih didalam celana, meskipun nafsuku sudah sangat meninggi, namun aku masih berusaha untuk bisa mengontrolnya.
“yaah.. emang bisa muncrat ya bos ?” tanyanya.
“ya bisa lah Vin, kayak kamu ga tau laki-laki aja” jawabku
“ya emang ga tau bos, kan Vina baru tadi siang liat kontol beneran,

biasanya cuma liat di bokep aja” jawabnya polos, matanya kembali menatap ke penisku.

“hah ? yang bener Vin ? kamu masih perawan ?” tanyaku takjub
“iya.. baru tadi liat kontol, kayak punya bule kontolnya, kalo lokal kan ga segitu gedenya..” katanya lagi
“oalah.. kirain kamu udah pengalaman Vin” jawabku lagi,

dan kemudian muncul pikiran iseng dikepalaku, belum lagi ditambah cenut-cenut di kepala penisku.

“kalo gitu kamu boleh pegang lagi deh” kataku sambil meletakkan tangannya di penisku lagi.
“ah..” Vina tampak terkejut mengetahui reaksiku yang malah memberikan penisku padanya.
“disini aja” kataku sambil menuntunnya ke sofa kembali,

aku mengarahkannya agar dia duduk di lantai sementara aku duduk bersantai di sofa, tanpa meminta ijinnya terlebih dahulu, aku membuka celanaku untuk mengeluarkan penisku, Vina yang malah seperti kerbau yang dicokok hidungnya, dia menurut dan membantuku membuka celanaku dan mengeluarkan penisku. Sesaat setelah penisku keluar dari celanaku dia nampak melihatnya dengan takjub dan senang sekali.

“gede dan panjang banget..” katanya lirih, kemudian aku menuntunnya untuk menggenggam penisku dan mengocok-ngocoknya.
“mmmhh.. tanganmu enak banget rasanya di penisku”, tangan Vina terasa hangat menyelimuti penisku,

dengan lembut diurutnya penisku naik-turun, sensasi luar biasa yang kudapatkan mungkin karena baru pertama kalinya penisku dimainkan oleh Vina.

“kamu kayaknya pengalaman banget maininnya” komentarku ke Vina yang menjadi lebih banyak diam,

wajahnya sedikit memerah dan membuatnya tampak semakin cantik.

“ini pertama kalinya megang kontol beneran.. enak nggak ?” tanyanya penuh perhatian.
“banget..” jawabku singkat sambil merasakan penisku berdenyut-denyut ditangan Vina.

Aku mengelus rambutnya, pipinya dan mengelus lehernya pelan.

“kamu cantik banget Vin..” tanpa sadar aku memujinya, aku benar-benar terpesona melihat Vina yang duduk dilantai sambil memainkan penisku, dia tampak sexy sekali dalam keluguannya, rambutnya yang hitam dan panjang tampak tergerai dan tak berhenti aku mengelusnya lembut, kucium dengan hati-hati sekali keningya, sungguh nikmat rasanya, seperti saat pertama kali mengenal sex, aku merasa lugu.

Elusan tanganku perlahan-lahan sampai pada dadanya, aku tak ingin membuatnya terkejut, aku mengelus dadanya pelan dan lembut dari balik pakaian kerjanya, sebenarnya aku tak tahan ingin menumpahkan isinya keluar dan menikmatinya, tapi aku ingin menikmati momen bersama Vina ini dengan perlahan, apalagi dia masih pertama kalinya bercumbu seperti ini. Kubuka satu kancing bajunya yang paling atas, Vina menatapku dengan tatapan yang menolak namun pada saat yang bersamaan penasaran. Aku tersenyum, menenangkannya. Satu demi satu kancing bajunya kulepas, sampai empat kancing terbuka, aku takjub dengan pemandangan dihadapanku, begitu bulat dan sangat sempurnya, bra hitam yang dipakainya membuat dadanya yang putih tampak sangat kontras. Perlahan kuraba bagian atas dadanya, mengelusnya dengan hati-hati.

“geli..” bisiknya perlahan dan suaranya serak tertahan, aku cuma tersenyum memuji.

Perlahan tanganku kuselusupkan kedalam bra hitamnya, kurasakan putingnya dan kemudian mengelusnya, perlahan tapi pasti kurasakan putingnya mengeras oleh jari-jariku. Nafas Vina sedikit memburu, terasa detak jantungnya semakin cepat dan wajahnya semakin merona merah, kadang dia tersenyum dan memejamkan mata dengan ekspresi yang sangat bergairah. Kudekatkan wajahku dan mencium bibirnya yang sedikit terbuka, naluri Vina sepertinya telah mengambil alih, ciumanku dibalasnya dan kami saling melumat bibir seolah tak mau berakhir.

Kuberanikan meraba punggungnya dan melepaskan kait bra hitamnya, tidak mudah, dadanya yang besar seolah menarik kait itu mengencang. Vina tampaknya memahami keinginanku dan dia melepaskan ciuman dan sambil tersenyum dia melepaskan pakaian kerjanya dan kemudian tangannya melepaskan bra hitamnya, sekarang di hadapanku terpampang buah dada yang sangat kenyal dan bulat indah, mengerucut mengacung ke ujung putingnya yang telah mengeras.

“indah banget Vin” kataku sambil tak lepas menatap kedua bongkahan indah dihadapanku.
“aku malu bos..” katanya sambil menyilangkan tangan menutupi dadanya,

tidak mungkin tertutup semua, malah sia-sia saja, Vina hanya bisa menutupi putingnya saja, dan ini membuatnya tampak semakin sexy dan menggairahkan, keluguannya justru menjadi daya tariknya.

“jangan panggil bos lagi ya sayang” kataku kepadanya sambil membuka tangannya yang menyilang menutupi dadanya.

Vina menunduk, aku meletakkan telunjukku di dagunya dan mengangkatnya hati-hati, aku menatap matanya dengan penuh kasih sayang. Vina menatapku dan kemudian tersenyum lembut penuh rasa percaya.

Kuangkat badan Vina dan memangkunya, kuelus pelan dan hati-hati, rasanya nyaman sekali berada sedekat ini dengan Vina, kukecup putingnya pelan.

“ah..” Vina terkejut pelan.

Kemudian kuciumi lagi putingnya dan kukulum dan menjilatinya, nafas Vina semakin memburu, tangannya seolah menahan kepalaku agar tidak terlalu memberikannya rasa nikmat yang tak bisa ditahannya, aku mengarahkan tangannya kembali ke penisku, dan Vina langsung menggenggamnya tanpa ragu sedikitpun, dielus dan dikocok-kocok lagi penisku dengan lembut. Aku merubah posisi duduknya di pangkuanku, sekarang Vina duduk mengangkangi pangkuanku, aku meletakkan penisku di vaginanya, terasa hangat sekali, rasanya, sambil perlahan-lahan aku letakkan penisku di belahan vaginanya, Vina menurut dan menggigit bibir bawahnya sambil mendesis perlahan. Ini kenikmatan yang baru untuknya.

“enak ?” tanyaku
“mmhh..” Vina menggangguk pelan, tatapan matanya sayu.

Aku tidak ingin terburu-buru, aku ingin Vina merasakan kenikmatan yang luar biasa, aku ingin dia orgasme tanpa harus aku menjebol keperawanannya, entah kenapa aku merasa ingin melindunginya. Aku memeluknya dan menciumi dadanya yang besar, karena duduk dipangkuanku, maka kedua dadanya tampak mengacung didepan wajahku, menantang untuk dinikmati, kulumat seluruh dadanya dengan sangat bernafsu, kuelus pelan-pelan dadanya dan meremasnya dengan hati-hati sekali.

“uuhh… mmmhhh” Vina sekarang menjadi semakin pendiam, dia cuma mendesah dan menikmati.

Perlahan aku menuntung pinggulnya untuk bergerak, saat bergerak, kurasakan penisku yang diantara belahan vaginanya tergeser pelan. Tak lama kemudian dia sendiri yang menggerakkan pinggulnya maju mundur, menggesek-gesekkan Vaginanya menjepit penisku.

“aahh.. ahhh..” Vina mendesah perlahan,

semakin lama semakin cepat gerakannya menggesek penisku, aku merasakan bibir vaginanya yang masuk menggembung rapat itu berkedut, dan semakin liar pula Vina menggesekkan Vaginanya mengejar kenikmatan yang semakin diraihnya, aku mencium dan mengulum putingnya, semakin kusedot dan kuremas dadanya. Tak lama kemudian punggungnya semakin menegang dan Vina suara desahannya semakin keras, takut kalau-kalau satpam atau ada orang yang mendengar suaranya, aku mengulum bibirnya dan menciuminya.

“mmppphhh…” Vina menjerit tertahan ciumanku.

Ciuman Vina semakin kuat menyedot bibirku dan kemudian kurasakan penisku semakin basah, Vina orgasme dan memelukku dengan erat, menjambak rambutku dan tubuhnya menegang sesaat, orgasme pertamanya. Aku kagum, Vina mudah sekali mencapai orgasme, sungguh-sungguh membuatku sangat bergairah.

“hhaaahh..haahhh.. sayang.. I love you.. I love you..” katanya sambil menciumi bibirku berkali-kali, ya namanya juga make love, membuat cinta pikirku sambil tersenyum.
“enak kan ? itu namanya orgasme” kataku sambil mengelus celana dalamnya yang sekarang basah kuyup.
“ahh.. enak sayang..” Vina menggerakkan pingganggnya mengikuti arah elusanku, menekan-nekankan vaginanya seolah mengejar jari-jariku agar terus ada disana. Pelan-pelan aku menggeser celana dalamnya agar bisa mengelus langsung vaginanya, sangat basah dan licin sekali.CerpenSex
“sayang belum keluar ya.. sekarang gantian aku muasin kamu sayang” katanya dengan mata yang sangat sayu.
“enggak apa-apa sayang.. yang penting kamu sudah puas, aku sudah senang dan bahagia banget” kataku,

entah kenapa aku benar-benar merasa ingin melindunginya saat itu, memeluknya tanpa ingin melepaskannya.

“I love you” katanya lagi sambil menatapku.
“…” aku terdiam, aku tidak tahu harus menjawab, menolak, atau bereaksi seperti apa.
“terima kasih sudah mengajariku kepuasan sayang” katanya, sambil tersenyum. Aku tahu dia kecewa.

Sesaat kemudian kami sudah sama-sama membenahi pakaian kami dan kemudian dia berjalan keluar ruanganku, sesaat kemudian dia berbalik dan sambil tersenyum dia berkata, “jangan difikirkan, its make love bos”.

Aku tertegun mendengar ucapannya, dan memberikan sebuah senyuman sebagai jawabanku.