CerpenSex

Cerpen sex versi Indonesia

Sang Napi

Comments Off on Sang Napi

tumblr_lwq4asaE3Q1qg7w69o1_500

CerpenSex | Ryani adalah seorang mahasiswi program profesi pada sebuah fakultas psikologi di sebuah universitas di Solo. Saat itu berumur 25 tahun, kulit putih, sopan. Sosoknya amat cantik dan menarik hati pria yang memandang dan tidak heran bila ia telah di pertunangkan dengan seorang pria yang berprofesi sebagai pegawai pemda setempat.

Kejadiannya bermula saat untuk menyelesaikan tugas akhir dari kampus, dan yang menjadi objek penelitiannya adalah tentang perilaku narapidana selama proses asimilasi. Untuk itu Ryani sering mondar mandir masuk kedalam LP dikota itu untuk melakukan penelitian. Iapun mengambil sebuah contoh kasus dari seorang napi yang bernama Marto. Marto adalah napi yang terhukum selama 9 tahun dalam kasus pembunuhan. Ia telah menjalani masa tahanan selama 7 tahun dan karena berkelakuan baik maka ia sering mendapat remisi.Umurnya 49 tahun, sosoknya pendek, hitam, perut buncit.
Untuk keperluan penelitiannya Ryani pun sering berada bersama Marto, kadang-kadang karena ada kelonggaran dari LP maka Marto boleh keluar tahanan siang hari dan malamnya kembali masuk untuk asimilasi dengan dunia luar. Ryanipun sering memanfaatkan waktu Pak Marto saat keluar itu untuk kepentingan penelitiannya. Karena sering bersama dan selalu berdua dengan, Martopun akhirnya merasa jatuh hati pada Ryani, Marto hanya memendamnya dalam hati. Dan…

Suatu hari, untuk mendapatkan bahan bagi penelitiannya, Ryani menyetujui untuk brengkat bersama Marto mengunjungi orangtuanya di desa. Mereka berangkat pagi -pagi sekali menggunakan bis. Bis yang mereka tumpangi melaju dalam kecepatan normal. Membelah pagi hari dengan deru knalpotnya. Bersisian mereka duduk. Tak terpikirkan sedikitpun di benak Ryani kemungkinan-kemungkinan terburuk dari perjalanannya ini. Tekadnya hanya satu, mendapatkan data seakurat mungkin untuk kepentingan penulisan tugas kampusnya.

Mengenakan kaos berbalut jaket tak mengurangi kecantikannya. Rambut berkucirnya tak dapat menyembunyikan kemulusan kulit tengkuknya yang berbulu halus. Juga balutan jeans pada kakinya semakin menunjukkan bentuk tubuhnya yang indah. Menjelang sore sampailah mereka di terminal dan dengan menggunakan angkutan setempat melaju menuju rumah tinggak orangtuanya Marto. Selang 30 menit kemudian merka turun di halaman sebuah rumah dengan halaman yang luas. Rumah kayu yang cukup asri. Marto melangkah masuk diikuti oleh Ryani. Dan seperti biasanya rumah di desa, rumah itupun tak di kunci.

Pandangan Ryani jatuh berkeliling pada ruangan tamu yang di penuhi jendela pada sisi – sisinya. Memandang melalui jendela ke seberang, menikamati suasana yang tenang dengan kehijauan tanaman di kejauhan. Menyaksikan betapa rumah-rumah disini terletak berjauhan dengan halaman yang rata rata luas.

‘Uh….panasnya’ batin Ryani seraya melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di punggung kursi panjang yang ada di ruangan tersebut. Dengan bertelekan pada kusen jendela sambil memejamkan mata memajukan wajahnya ayunya untuk di tiup angin semilir…damai rasanya.

“Ini mba’…silakan minum hanya air putih…..”ucapan Marto menyadarkannya dari kedamaian perasaanya.
“Ga usah repot-rept pak Marto……”sahut Ryani. Melangkah menyisiri jendela dan duduk di kursi kayu jati yang terletak di sampingnya.
“Segar sekali………..”ucap Ryani. Menikmati aliran air putih tersebut mengalir membasahi kerongkongannya yang cukup lengket karena sedari tadi belum di aliri air setitikpun.
“Gimana ya mba….? ujar Kemudian..
“Ada apa…pa…? tanya Ryani memandang raut wajah bingung lelaki yang masih gagah itu.
“Ngg….Ng…, ini kedua orang tuaku lagi ga disini, mereka sedang berkunjung ke rumah paklik ku di desa sebelah..”ujarnya terbata-bata.
“Tadi aku ketemu sama pak Warjo itu tetangga di sebelah, beliau yang bilang …” sambung nya lagi.
” Ya sudah ngga pa pa……., “sahut Ryani.
“Kita tunggu saja mereka…., tanggung sudah sampai sini…”sambung Ryani lagi.

Waktu pun berlalu dengan cepat. Malampun datang dengan kegelapannya. Syukurlah didesa ini listrik telah masuk, sehingga kegelapan tidaklah merajalela di desa ini. Begitu juga dengan rumah orangtuanya Marto. Beberapa lampu listrik telah dinyalakan biarpun dengan cahaya alakadarnya sehingga tidaklah membuat Ryani berada di wilayah yang asaing baginya.

Tadi sore Marto dengan keramahan ala desa telah mempersilakan Ryani untuk mendiami kamar paling depan. Cukup bersih karena jarang sekali di pergunakan. Dengan mengenakan sehelai kain panjang yang melilit pinggangnya Ryani tengah duduk di ruang tengah, mempelajari dan menelaah kembali data – data yang telah di kumpulkannya selama bersama Marto. Marto dengan sebatang rokok duduk di kursi lainnya pada meja yang sama. Mengepulkan asap rokoknya dengan nikmat, sembari matanya tak lepas dari bagian dada gadis cantik yang tengah menunduk menghadapi kertas-kertasnya.

“Belum mengantuk mba..?”tanyanya kepada Ryani.
“Hmm..belum pak………….”jawab Ryani tak memalingkan wajahnya. Tetap berkonsentrasi pada kertas – kertas yang ada di hadapannya.
“Kalau Pak Marto udah mengantuk,.duluan saja…saya masih membereskan pekerjaan ini menjelang kantuk saya datang…”sambung Ryani tak menoleh.
“kalau begitu saya duluan saja ya mba…….”ujar Marto sembari beranjak meninggalkan kursinya melangkah ke arah kamar satunya dimana dia biasanya berada apabila berada di rumah ini.
“Kalau perlu sesuatu saya berada di sebelah kamar mba ko…..”tambah Marto dari dalam kamar.

Terdengar suara gemerisik kaln bergeser.., Ini dikarenakan sebagaimana biasanya rumah di desa tidak mengunakan pintu sebagai pembatas kamar , hanya menggunakan sehelai kain yang di lekatkan pada kusen pintu. Dan kain itulah yang menjadi batas wilayah ruang yang satu dengan ruang lainnya.

Tak terasa waktu berjalan, menimbulkan tanda-tanda pada tubuh agar segera menghentikan aktifitas. Meminta waktu untuk memulihkan pada kondisi idealnya. Menuntut agar beristirahat. Begitu juga pada gadis ayu ini. Beberapa kali ia menguap… Perjalanan dan pekerjaannya malam ini telah menyita energinya. Tubuhnya tak dapat berkompromi dengan kepenatan yang amat sangat. Ryani pun membereskan kertas-kertasnya, beranjak melangkah menuju kamar yang diperuntukkan buatnya. Langsung begitu rebah di pembaringan tak ingat apa-apa lagi…tertidur pulas.

Di tengah kepulasannya Ryani merasakan secercah sentuhan pada betisnya, sangat ringan tetapi sangat nyaman. Ia menggeliat sejenak. Sentuhan tersebut tak berhenti… makain naik pada lututnya…, makin nyaman dan sebersit rasa aneh yang sangat nyaman mulai tumbuh di dasar perasaannya. Sentuhan itu benganti dengan elusan. Kedua lutut gadis itu kini mendapatkannya secara bergantian. Menggelitik sisi keperempuanannya yang masih lugu. Ryani mengeluh..

Tapi alam kesadarannya segera bangklit. Otaknya langsung bekerja… Bukankah saat ini ia sedang tak dirumahnya sendiri… Bukankah tadi pada pagi ia bepergian bersama Pak Marto… bukankan saat ini ia tengah berada di rumah Pak Marto…. Bukankah saat ini ia tidur di rumah Pak Marto… Lalu apakah atau siapakah yang mengelusi kakinya…. jangan – jangan…..

Rayani langsung tersentak bangun dan langsung duduk bersandar pada punggung ranjang. Mata indahnya membelalak… dengan seruan tertahan hampir keluar dari bibirnya.

“Apa – apaan pak Marto…?”serunya tertahan. Terkejut melihat Marto telah berada di kamarnya. Memandangnya dengan seringai tersungging di bibirnya.
“Saya sudah lama memendam ini mba…”ujarnya ringan.
“Mba juga tau sudah berapa lama saya di penjara….., tak sekalipun saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan perempuan… Tapi saat ini saya tak dapat menahan diri lagi…” tambah marto
“Mba sangat cantik….,”ujarnya memuji.
“Tapi…,tapi kenapa harus saya Pak Marto…? Ryani melontarkan pertanyaan yang tak harus di jawab.
“Lebih baik mba terima saja.., sekali mba berteriak saya tidak segan – segan menghabisi mba… bagi saya penjara adalah rumah kedua…”ucap Marto dengan nada tegas memandang tajam.

‘Oh tuhan…., kenapa nasib saya begini……’ keluh Ryani dalam hati.
‘Apakah salah saya sehingga harus menghadapi kenyataan seperti ini….?

Marto bergerak naik ke atas pembaringan. Merangkak mendekati gadis ayu yang ketakutan bersedekap memeluk dadanya sendiri. Marto meraih kedua tangan yang tengah bersedekap itu… melepaskannya hingga turun disisi tubuhnya. Meraih wajah ayu tersebut… menengadahkannya.

“Tak usah takut mba… saya takkan menyakiti mba….”ujar Marto.

Perlahan kedua mata Ryani yang terpicing terbuka, memandang dalam sinar takut ke wajah Marto. Perlahan Marto mendekatkan wajahnya… menjatuhkan kecupan ringan di pelupuk mata Ryani… di barengi jilatan pada kelopaknya. Kedua tangan Marto melai merengkuh bahu gadis ayu itu. Menariknya mendekat. Tak kuasa menolak Ryani menuruti kehendak Marto.

Marto membaringkan tubuh gadis itu dengan perlahan. Kembali wajahnya mendekat. Kini kecupan dan jilatan lidahnya mampir pada sisi wajah Ryani. Menjilati cuping telinga yang lancip… menjilati bagian belakangnya dengan lidahnya yang kasap… Turun ke bawah menelusuri urat leher yang tegas menopang kepalanya.. mampir di sepanjang belikatnya. Mata Ryani bekerjap-kerjap. Antara ketakutan dan rasa nikmat yang timbul oleh lidah dan mulutnya Marto. Tak sadar beberapa kali keluhan terbit di bibir mungil gadis ayu tersebut.

Tangan Marto pun tak tinggal diam… Kini telah berada di permukaan daster yang dikenakan Ryani menangkupi bukit padat di dadanya… Ahhh… Ryani mendesah merasakan betapa permukaan telapak tangan itu bergerak di sepanjang bulatan dada kirinya… Rasa itu langsung menyentuh kulit di bawah dasternya yang tak mengenakan bra… Kini jemari Marto bergerak menyelusuri lereng bukit membusung tersebut menuju puncaknya… Menemukan puncaknya dengan stupa mungil yang mencuat… Memijit-mijitnya dengan perlahan… Lalu memilin-milinya…

Tubuh Ryani menggeliat kegelian. Tak merasa cukup, dengan menggunakan tangannya Marto melucuti kancing daster gadis ayu tersebut… menyibakkannya ke samping… Menampilkan kulit putih mulus….. sangat indah di terangi oleh lampu yang temaram.

“Ahhh…..” keluh Ryani pendek. Bibir Marto kini telah mencucupi puncak dadanya yang sebelah kiri… Menjilatinya mengelilingi puncaknya… Mengulum dan melingkari puncaknya dengan lidah kasapnya… bergantian yang kanan dan kiri tak ada yang terlewatkan. Terus turun ke bawah… menyelusuri cekungan garis perut yang bergerak-gerak gelisah….. menemukan cekungan di bawahnya… mencucupi dengan lincah.

Ryani yang belum pernah merasakan hal sejauh ini hanya bisa diam dan menggeliat-geliat gelisah. Satu sisi dirimya merasakan hal ini tidaklah benar tapi sisi lainnya tubuhnya tak dapat menolak…

Saat bibir Martto mampir di sepanjang batas karet pakaiannya yang terakhir, gelinjang tubuhnya makin hebat. Gelitikan lidah Marto semakin menggila di sana. Tak berhenti… lidah dan bibir Marto menemukan sisi dalam batang paha kiri Ryani… Kembali menjilati… menyeluri bagian dalam batang paha tersebut ke bawah… hingga lututnya… berpindah ke bagian sebelahnya….. memberikan perlakuan yang sama di sana…. Tak memberikan jeda pada Ryani untuk berfikir jernih… berusaha membangkitkan birahinya yang selama ini terpendam…

Gadis ayu itu pun tak tahu kapan pembalut bagian tubuhnya yang sangat pribadi di lucuti. Yang ia rasakan hanyalah serbuan rasa nikmat yang amat sangat menerpa seluruhpenjuru tubuhnya… Tak dapat berfikir kenapa tubuhnya begitu peka terhadap sentuhan Marto… tak dapat lagi berfikir untuk menyudahi selagi belum terlambat… Tak dapat berfikir lagi…. Tubuhnya begitu menikmati… begitu bereaksi….. begitu terbakar nafsunya sendiri…

Yang dia tahu Marto telah bergerak menindih tubuh telanjangnya….

“ja…. jangan Pak Marto…………”bisik Ryani terbata-bata.
“Mba lebih baik diam….. saya bisa bertindak brutal apabila mba tidak bekerja sama…” ujar Marto. Ucapan yang halus tetapi cukup tegas. Ryani tak bisa apa apa lagi selain menurutinya. Tak dapat dibayangkannya akibat yang timbul oleh penolakannya.

Air mata menggenang di matanya saat Marto duduk di hadapan pinggulnya. Marto menyibakkan kedua batang paha mulus tersebut ke samping tubuhnya. Merapatkan Pinggulnya pada wilayah pribadi Ryani.

“Uhh…..”lenguh Ryani saat ujung bulat kejantanan Marto menggosok lepitan kewanitaannya. Birahinya yang tadi surut kembali mengalir menuju puncaknya.

Marto menggosok-gosokkan ujung kejantannanya pada lepitan yang masih rapat tersebut. Memberikan kembali rasa nikmat yang lebih dibandingkan aksi sebelummnya. Ryani hanya dapat menggeliat-geliat dengan nafas yang tersengal-sengal. Kepalanya berulangkali terbanting kekiri dan kekanan. Jemari lentiknya mencengkeram kedua lutut Marto. Perlahan tapi pasti cairan hangat timbul pada kewanitaan Ryani…, Membasahi… mempersiapkan diri untuk penetrasi…

Peluh telah bercucuran di tubuh tegap Marto. Begitu juga pada Rayni…Peluh telah membuat sekujur tubuhnya mengkilap, sebagian lagi mengalir dipermukaan kulitnya… Menuruni puncak dadanya dengan bulir-bulir berkejaran…. Marto bergerak… Mengangkat kedua belah kaki lenjang gadis ayu tersebut mendekati dadanya. Memposisikan dirinya setengah berjongkok. Berkerjab-kerjab mata Ryani menantikan aksi Marto selanjutnya… Marto mulai mendesak…. mendorongkan pinggulnya… Mendesakkan ujung membola kejantanannya pada lepitan kewanitaan Ryani… Mencoba menembus lepitan yang ketat tersebut.

“Uhf…..”keluh Ryani. Membeliakkan mata indahnya saat ujung membola kejantanan Marto mendesak kuat… menyibakkan lepiatn kewanitaannya yang basah… memberikan jalan untuk pertama kalinya bagi sebuah benda asing… Sedikit perih terbit di sana… Ryani hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar jeritan tak keluar dari mulutnya. Hanya kuku jemari lentiknya makin mencengkeram pada kedua lutut Marto.

Marto kembali mendesak… menuntaskan segala hasratnya… mendorong pinggulnya. Terasakan oleh Marto betapa liang kewanitaan tersebut begitu ketat mencengkeram. Bahkan terasakan berapa deretan cincin-cincin melingkar di sepanjang liang tersebut berderik-derik membuka diri bagi batang hangat tersebut. Perlahan tapi pasti batang pejal tersebut terus maju mili demi mili hingga… seolah-olah terhambat suatu halangan..

‘Inilah saatnya…….’batin Marto.

Kembali menghela napas dan mengumpulkan tenaga pada pinggulnya… mendorong kembali dengan tenaga penuh… terasa sesuatu berdetus… putus… dalam liang tersebut dan di barengi dengan meluncurnya batang pejal kejantanannya hingga amblas terbenam seutuhnya… Terlihat Ryani tersengal-sengal dengan mata berair… habislah harapannya untuk mempersembahkan miliknya pada suaminya kelak…. Martopun diam… Waktu seolah – olah berhenti…

Baca Juga Teman Suamiku

Marto kembali bergerak… Perlahan-lahan menggerakkan pinggulnya memacu birahinya… Sebagai seorang lelaki ia menyadari bahwa dengan kelembutanlah persetubuhan ini akan menjadi sempurna. Tubuh tegapnya bergerak perlahan mencoba menghapuskan rasa perih gadis ayu tersebut dan menggaqntikannya dengan rasa nikmat. Batang pejalnya perlahan tapi pasti bergerak bolak-balik disepanjang liang kewanitaan Ryani. Terkadang diam dan mengedut…

Ryani mendelik merasakan kedutan tersebut memijit setiap tombol birahinya.. Menyirami api nafsunya dengan bahan bakar yang di butuhkannya… Mengelorakan setiap ombak nikmat di sekujur tubuhnya… Rayni merintih…. mengelinjang…. Marto kembali bergerak… menghujamkan batangnya…. makin lama makin cepat…. Merebahkan tubuhnya menelungkupi tubuh indah tersebut. Ryani tak sadar merengkuh tubuh tegap tersebut…..

Marto mulai bergerak mundur batangnya…. perlahan-lahan…. Ryani semakin menggeliat …. Marto mendorong maju lagi…. mundur… maju …. semuanya dengan perlahan-lahan …. kedua tangan Ryani kini tak tinggal diam…. ia juga menginginkan rasa ini dapat dinikmati dengan sempurna….. bibirnya menganga dan sesaat kemudian telah berubah menjadi desah dan rintihan…. tubuhnya menggelinjang-hebat ….. mengangkang lebih lebar…. Marto mencoba agak mempercepat gerak naik turunnya…. pinggul Ryani mulai bergerak gelisah mengimbangi…. Marto mempercepat gerakan…. Marto mempercepat lagi hingga batas yang memungkinkan…. Marto mempertahankan kecepatan itu tanpa mengurangi atau melebihinya…. Marto merasakan liang kenikmatan Ryani semakin membasah dan licin…. mulutnya tak henti-hentinya mendesah…. merintih… mengerang…. Marto mengerahkan seluruh tenaga untuk memompakan terus kenikmatan demi kenikmatan kepadanya…. Ryani semakin larut dalam deru birahi…. pinggulnya naik bergerak ke atas menyambut setiap gerak turun tubuh Marto…. seolah ingin membantu menghujamkan batang pejal Marto lebih dalam lagi ke dasar liang kewanitaannya ….

Keringat telah mengucur di seluruh tubuh Marto jatuh dan bercampur dengan keringat tubuh Ryani…. kedua tubuh mereka bagaikan di hempas gelombang badai…. terbanting-banting diatas ranjang…….. wajah Ryani kian memerah…. kedua alisnya semakin mengernyit…. Marto merasakan dinding-dinding rongga kenikmatannya semakin lama semakin menghimpit ….. otot-otot didalamnya semakin terasa meremas-remas…. Marto melihat kedua matanya sudah setengah terpejam…. mulutnya setengah terbuka dengan lidah mengambang di tengah-tengahnya… Ryani rupanya sudah berada di ambang puncak klimaksnya.

Tak lama kemudian ia mencengkeram sprei sejadi-jadinya………. Marto membenamkan batangnya sedalam-dalamnya…. hingga menyentuh dasar….. dan Marto membiarkan terdiam menekannya…. Marto menanti saat-saat yang paling mengesankan itu…. dan tak lama kemudian…. dinding-dinding liang kenikmatan Ryani mulai berkontraksi…. semakin lama semakin keras…. dan semakin keras…. berkontraksi dengan hebat …. Ryani memekik lirih…. Marto menggerakkan pinggul maju mundur perlahan-lahan…. sambil menekan dengan bertenaga…. Marto mendekap dengan erat bongkahan pantatnya…. kontraksi itu semakin berkelanjutan….. seiring dengan gerakan pinggul Marto…. dibarengi oleh pekikan-pekikan lirih Ryani….. seluruh tubuhnya bergetar hebat…. entah sudah berapa kali ia memekik…. hingga ia tak sanggup lagi meneriakkan pekik nikmatnya itu … agaknya kenikmatan itu terlalu memuncak baginya … tubuhnya terkulai …. lemas….!!!

Marto kembali bergerak… memacu nafsunya yang hampir menjelang.. bergerak maju mundur… Batang pejalnya terus menhujam tak kenal lelah… menggosok seluruh permukaan dinding liang kewanitaan Ryani dengan tergesa-gesa… terus bergerak…CerpenSex

Puncak telah semakin dekat…dengan satu hujaman… mendesakkan batang pejalnya hingga ke dasar liang tersebut dan menggeram….. lecutan-lecutan mengalir di sepanjang tulang belakang tubuhnya…. menjalar menuju pinggangnya…. terus mengumpul pada pangkal kejantannnannya… berkejaran di sepanjang pembuluh batang kejantantannya… memancur keluar dengan kuat… berkali-kali…. membasahi seluruh bagian dalam liang kewanitaan Ryani…. terkulai dan menggelosoh di samping tubuh indah berkeringat tersebut. Mereka terdiam beberapa detik lamanya…

“Maafkan aku mba…..”ujar Marto beringsut mengambil kembali pakaiannya. Ryani memalingkan wajahnya… terisak-isak… tak menjawab. Selangkangannya sedikit merasa terganjal. Tubuhnya terasa lengket. Badannya capai dengan pinggang serasa remuk.. ada juga sebersit rasa yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata timbul dalam dirinya… tak dapat ia pungkiri kejadian barusan sangat melenakannya

Semenjak kejadian itu Ryani selalu menjadi sarana pelampiasan nafsu Marto. Iapun tak dapat menolak, mengkin dikarenakan iapun menikmatinya. Dan Ryani di paksa Marto untuk memutuskan hubungannya dengan pacar. Sampai saat ini ia belum menemukan jalan keluar dari masalahnya ini..