CerpenSex

Cerpen sex versi Indonesia

Elly 2: Hancurnya Martabat

Comments Off on Elly 2: Hancurnya Martabat

Sunny_Leone_Hot_Pics-(9)

CerpenSexBeberapa hari setelah kiriman DVD dari Arman, kegelisahanku terbukti menjadi wujud nyata. Adrian, satpam rumahku, masuk ke dalam rumah menemuiku. Ia terlihat tegang. Aku jadi ikut kuatir, apa ada berita buruk?

“Adrian, ada apa?”, tanyaku dengan sedikit panik.
“Nyonya Elly, di luar.. ada pak Arman”, kata Adrian.

Aku terdiam.

“Nyonya, saya sudah usir dia pergi, tapi kata pak Arman, dia sudah buat janji sama nyonya, dan katanya nyonya bisa mendapat masalah kalau tak menemuinya”, kata Adrian.

Aku termangu. Iya… memang aku bisa mendapat masalah kalau kamu menyebarkan rekaman itu… bajingan kamu, Arman…

“Saya kuatir kalau itu benar, dan saya laporkan ke nyonya dulu. Apa nyonya ingin saya mengusirnya seperti biasa?”, tanya Adrian lagi membuyarkan lamunanku.

“Jangan… maksudku… Adrian, biarkan dia masuk. Saya memang ada perlu”, kataku tergagap.

“Baik nyonya”, kata Adrian.

“Eh Adrian!”, aku setengah berteriak menghentikan langkah Adrian.

“Iya nyonya?”, tanya Adrian.

“Pak Arman… dia sendirian atau membawa teman?”, tanyaku dengan tegang.

“Sendirian nyonya”, jawab Adrian.

Aku menangguk dan Adrian segera keluar. Jantungku berdegup kencang, walaupun aku sedikit lega. Kalaupun aku hari ini diperkosa Arman, paling tidak tak diperkosa ramai ramai seperti waktu itu.

Aku sudah tahu hari ini pasti akan tiba. Maka aku sudah berjaga jaga dengan minum pil anti hamil, karena aku tak yakin kapan masa tidak suburku akan berakhir. Aku tak mau sampai harus mengandung bayi dari Arman, apalagi dari kacung-kacungnya itu.

Dengan cepat aku ke kamar, memindahkan bayiku yang masih tertidur lelap ke kamar sebelah. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada bayiku. Aku mengunci kamar tempat aku menyembunyikan bayiku, dan kunci itu kutaruh di dalam tasku. Lalu aku keluar dan duduk di sofa ruang tamu, siap menerima malapetaka yang akan menimpaku.

“Halo Elly… bagaimana kabarmu?”, kudengar suara Arman.

Aku melihatnya dengan muak, tapi karena ada Adrian, aku terpaksa menjawab, “Ya, baik baik. Terima kasih”.

“Nyonya, apa nyonya masih perlu dengan saya?”, tanya Adrian.

“Tidak Adrian. Kamu boleh pergi”, jawabku dengan berat. Ingin rasanya aku minta tolong padanya untuk menjagaku dari, tapi itu tak mungkin kulakukan. Rekaman itu membuat posisiku benar benar harus pasrah pada kemauan Arman. Maka Adrian keluar dari sini, tinggal aku dan Arman yang memandangiku dengan senyum kemenangan.

“Elly, tunjukkan kamarmu”, kata Arman dengan suara yang menurutku mengerikan.

“Untuk apa?”, tanyaku dengan ketus.

“Elly, kamu mau melayani aku di ruang tamu ini supaya kelihatan orang, atau di kamarmu supaya kamu bisa melepaskan ekspresi kenikmatanmu dengan bebas?”, tanya Arman.

Aku tercekat. Dengan terpaksa aku berdiri, menuju kamarku diikuti oleh Arman. Setelah kami berdua ada di dalam, Arman mengunci pintu kamarku. Lalu ia meraih tubuhku, mendekapku dan melumat bibirku. Aku meronta dan berhasil melepaskan diri.

Ketika aku melayangkan tangan kananku untuk menamparnya, Arman menangkap pergelangan tangan kananku. Sakit rasanya… aku sampai menggigit bibir.

“Elly, jangan coba-coba! Kamu sebaiknya menuruti keinginanku. Jangan bertingkah, atau rekaman itu aku kirim ke meja kerja suamimu!”, ancam Arman dengan dingin.

Aku menggigit bibir, dan mengendurkan tanganku. Dengan mudah Arman kembali mendekapku, melumat bibirku. Aku hanya bisa menelan segala perasaan tak rela yang kurasakan, tapi aku sudah tak berani melawan. Arman makin bernafsu mencumbuiku dengan sepuas-puasnya, ia menciumi seluruh wajahku, mengecup kedua mataku, hidungku, daguku, kedua pipiku, dan akhirnya kembali melumat bibirku. Aku memejamkan mata, berharap hari ini cepat berakhir.

“Elly… kamu cantik sekali”, kata Arman setelah ia melepaskan lumatan pada bibirku.

Aku diam saja.

Tiba-tiba Arman mendorongku ke ranjang. Aku terbanting dan terbaring di ranjang. Dan Arman… ia naik ke ranjang ini… ranjang pengantinku…

Oh Tuhan… apakah aku akan diperkosa Arman di ranjang pengantinku? Maafkan aku Albert…

Kini Arman sudah menindih tubuhku. Ia menggumuliku sedangkan aku mulai menangis. Rasanya kini aku sudah tak lebih baik dari seorang pelacur. Aku tak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa membiarkan Arman menikmati tubuhku sesuka hatinya.

Setelah puas menggumuliku, Arman mulai menelanjangiku. Ia melakukannya dengan mudah, karena aku hanya mengenakan gaun tidur dengan bra dan celana dalam yang sexy, yang harusnya kupersembahkan hanya untuk suamiku. Semuanya dilemparkan Arman seenaknya begitu saja ke lantai kamarku. Setelah aku sudah telanjang bulat, Arman juga mulai melepaskan semua pakaiannya.

Aku menggigit bibir, memalingkan muka dan memejamkan mataku, supaya aku tak usah melihat saat-saat Arman sedang menjarah tubuhku. Beberapa saat kemudian, aku terbeliak ketika penis Arman sudah menerobos liang vaginaku. Rasanya sesak sekali.

“Elly… enak ya?”, ejek Arman.

Lagi lagi aku diam.

‘Plakkk’… Arman menamparku.

“Kalau aku tanya itu jawaab!!”, bentak Arman dengan kejam.

“I.. Iya Arman”, aku menjawab sambil menangis.

‘Plakkk’… lagi lagi bajingan ini menamparku.

Baca Ceita Sebelum nya di Elly Terjebak Hadiah

“Iya apa? Jawab yang jelaaas!!”, bentak Arman lagi.

“Iya… Iya Arman… E.. Enak…”, aku menjawab dengan panik, sambil menangis dan memegangi kedua pipiku terkena tamparan Arman.

Arman tertawa tawa mendengar jawabanku. Ia mulai menggenjotku. Aku mengernyit menahan sakit dan sesekali aku merintih kesakitan, karena gerakan Arman begitu kasar. Setiap tusukan penis Arman terasa menyakitkan, apalagi aku belum terangsang sama sekali, jadi liang vaginaku belum basah.

Kurasakan Arman mulai meremasi kedua payudaraku. Sebentar ia meremas lembut, tapi tiba-tiba ia meremas dengan kasar. Puting susuku dipilin dan dicubit oleh Arman.

Aku menggigit bibir, kali ini aku mulai terangsang.

“Elly. Kamu suka ya kalau susumu diremas seperti ini?”, tanya Arman dengan nada yang sangat melecehkanku.

Aku takut kena tampar lagi.

“Iya Arman… aku suka”, aku memaksakan diri menjawab, walaupun sesungguhnya aku muak, dan sesungguhnya aku sangat tak ingin menjawabnya.

Arman tertawa tawa, ia makin cepat memompa liang vaginaku.

Aku mulai kewalahan. Perlahan rasa sakit di liang vaginaku berganti rasa nikmat. Akhirnya liang vaginaku sudah basah oleh cairan cintaku, dan mungkin sudah beradaptasi sepenuhnya akan keberadaan penis Arman di dalam situ. Aku menggigit bibir dan tubuhku mulai gemetar. Sebenarnya aku ingin sekali tak menunjukkan keadaanku yang sekarang, dimana aku merasa nikmat walaupun diperkosa. Tapi aku tak berdaya untuk melakukan itu, rasanya tubuhku panas sekali, dengan kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhku.

“Arman… eeengghh…”, aku mulai tak tahan.

Tubuhku menggeliat kesana kemari, dan tanganku mencengkeram sprei dengan erat.

Arman tertawa senang melihat reaksiku, tapi aku sudah tak bisa menahan semua gerakanku lagi seingin apapun aku melakukannya. Aku menggigit bibir, tubuhku mengejang dan tersentak sentak setiap Arman menghunjamkan penisnya yang bersarang begitu dalam di liang vaginaku.

“Arman… amm… eenggghhh… ammpuuun…”, aku mengerang. Rasa nikmat yang melanda vaginaku semakin dahsyat, akhirnya aku mencapai orgasmeku. Kedua pahaku rasanya kaku, dan kedua betisku rasanya tertarik. Perutku sedikit kram, sementara badanku bergetar tak karuan.

“Eennggghhh… aduuuuh… Armaaan… hentikaaan… eeenggghh…”, aku melenguh lenguh tanpa daya.

Tapi Arman tak memperdulikanku.

Yang kudengar hanya ‘slebb… slebb…’

Bunyi penis Arman yang terus merasuk dalam liang vaginaku.

Vaginaku rasanya ngilu sekali.

Aku sudah tak mampu melenguh, tapi hunjaman penis Arman makin gencar mengaduk liang vaginaku.

Maka akhirnya aku mulai pening. Kamarku rasanya seperti berputar. Semuanya gelap…

Samar samar aku mendengar suara wanita merintih. Aku mulai mendapatkan kesadaranku kembali. Dan ketika semuanya sudah jelas, aku melihat TV di kamarku, sedang memperlihatkan rekaman waktu aku diperkosa oleh dua kacung Arman. Dan lebih celaka lagi, ketika aku melihat sekelilingku, aku melihat Arman yang tersenyum dengan menjijikkan padaku, sementara Adrian, satpam rumahku, dan Jono tukang kebunku, juga Sugeng, sopirku, semua sedang berada di kamar ini, semuanya melihat rekaman laknat itu.

“Kalian…”, kataku lirih, sambil beranjak duduk dan menutup tubuhku sebisanya dengan selimut.

Tentu saja mereka pasti sudah melihat tubuh majikan mereka yang telanjang bulat ini, yang terbaring polos… di atas ranjang pengantinnya.

Aku malu sekali, melihat mereka semua begitu memperhatikan layar TV, ketika aku harus disetubuhi oleh Seto sementara Anto mendapatkan servis oral dariku.CerpenSex

Aku memejamkan mata, menunggu mereka selesai menonton rekaman itu. Dalam hati aku mengutuki Arman, yang tega berbuat sejauh ini padaku. Beberapa menit kemudian, adalah akhir dari rekaman itu. Akhir dari keadaan yang begitu memalukan buatku. Tapi aku tahu, ini adalah awal dari jatuhnya aku ke dalam penderitaan yang baru. Kehancuran martabatku di rumahku sendiri…

“Gimana pendapat kalian semua? Nyonya kalian yang cantik ini… memang menggairakan bukan?”, tanya Arman pada mereka bertiga.

Semuanya menunduk, tapi sesekali mencuri pandang ke arahku.

Aku tahu aku tak mungkin mengharap pertolongan apapun pada mereka.

Mereka bertiga adalah lelaki normal, yang tentu saja… terangsang hebat melihat keadaanku sekarang ini…

Apalagi setelah mereka baru saja selesai melihat adegan film porno yang kubintangi itu…

“Tubuhnya benar benar kencang, meskipun baru melahirkan. Sexy sekali. Juga susunya nyonya kalian ini, enak sekali rasanya. Kalian tak ingin mencobanya?”, tanya Arman lagi.

Mereka semua tetap menunduk, dan kulihat mereka menelan ludah.

“Kamu”, kata Arman sambil menunjuk Sugeng.

“Kamu yang beruntung jadi yang pertama dari kalian bertiga, yang boleh mencicipi susu nyonyamu”, sambung Arman.

Aku menggigil, tanpa sadar aku menangis, tanpa suara.

“Elly, buka selimut itu. CEPAT!”, bentak Arman.

Aku tersentak, dan perlahan aku menurunkan selimut ini.

Arman menyalakan handycamnya. Ia sudah bersiap merekamku, merekam saat-saat aku harus menjadi budak seks ketiga orang ini.

Kini tubuhku terpampang di depan Sugeng yang sudah mendekatiku, dan ia memandangku dengan bernafsu sekali. Aku bergidik, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, dan membiarkan sopirku ini naik dan duduk di sebelahku, di ranjang pengantinku…

“Nyonya”, kata Sugeng, dengan suara bergetar, dan dari pandangannya aku tahu kalau ia sangat menginginkanku.

Aku diam saja saat Sugeng sudah mulai meremas payudaraku. Dan sesaat kemudian Sugeng mendekatkan mulutnya ke puting susuku. Semua itu disorot Arman dengan sangat intensif. Aku memejamkan mata, ketika Sugeng sudah mulai menyusu. Ia menyedot puting susuku dengan penuh gairah, sesekali kurasakan ia meremas kuat payudaraku seperti yang dilakukan oleh kacung-kacung Arman itu.

“Ssssh…”, aku mendesis.

“Elly. Kamu menikmatinya kan?”, tanya Arman, aku melihatnya mengarahkan handycamnya ke wajahku.

Aku kembali memejamkan mata, dan memaksa diri mengangguk dengan wajahku yang terasa sangat panas.

“Kamu ingin yang lebih enak kan Elly?”, tanya Arman lagi.

“Aku…”, aku terlalu malu untuk menjawab.

“JAWAB!!”, bentak Arman.

Aku sampai membuka mata karena terkejut, bahkan Sugeng yang rupanya juga ikut terkejut sampai melepaskan kulumannya pada puting susuku.

“Iya Arman. Aku… aku ingin yang lebih enak”, aku lagi lagi terpaksa harus menyenangkan hati Arman.

“Kalau begitu, kamu!”, tunjuk Arman pada Jono dengan menggunakan handycamnya.

“Bantu temanmu memuaskan nyonyamu! Cicipi susunya sepuasmu, nyonyamu suka kalau ada yang menyusu padanya”, kata Arman, dengan nada yang sangat melecehkan aku.

Tanpa disuruh dua kali, Jono langsung berdiri dan mendekatiku.

Ia segera menuju ke payudaraku yang masih menganggur, dan bersama Sugeng kini mereka berdua mencucup puting susuku.

“Ssssshh…”, aku kembali mendesis.

Diiringi sorotan handycam Arman, remasan demi remasan dari mereka yang kurasakan perlahan mulai merangsangku kembali. Tubuhku bergetar menerima semua ini. Air susuku entah sudah disedot berapa banyak oleh mereka berdua ini, yang entah sampai kapan baru akan puas menyusu padaku.

Beberapa menit kemudian, saat aku sudah makin terangsang, dan hampir saja merintih karena sedotan-sedotan pada puting susuku dan remasan-remasan pada payudaraku, tiba tiba Arman menghentikan mereka.

“Sudah, hentikan”, kata Arman.

Mereka berdua berhenti menyusu padaku, dan menatapku dengan penuh nafsu.

“Bagaimana rasanya susu nyonya kalian?”, tanya Arman.

“Enak, pak”, jawab Sugeng.

“Nggak cuma enak goblok”, kata Jono pada Sugeng, dan ia segera menoleh ke arah Arman dan menyambung, “Sangat enak, pak”.

“Bagus”, kata Arman.

“Sekarang berikan kesempatan pada teman kalian ini”, kata Arman sambil menunjuk Adrian.

Adrian hanya menunduk saat wajahnya disorot handycam Arman.

“Hei satpam goblok! Kamu nggak mau susu nyonyamu?”, bentak Arman.

Adrian menatapku dengan ragu, kemudian ia menjawab Arman, “Pak, saya kasihan pada nyonya”.

Aku cukup terkejut melihat sikap Adrian. Ia memang selama ini baik terhadapku. Cuma aku nyaris tak percaya pada pendengaranku. Kedua rekannya, Sugeng dan Jono, sudah membuktikan mental bejat mereka. tapi Adrian masih menunduk, tak tega untuk ikut ambil bagian menodaiku!

“Terima kasih Adrian”, kataku dalam hati. Diam diam aku makin kagum padanya. Adrian memang lain. Ia selalu menghormatiku dan berlaku sopan padaku.

“Kamu jangan sok suci!”, bentak Arman dengan gemas, dan ia menoleh pada Sugeng dan Jono yang masih ada di samping kanan dan kiriku.

“Kalian berdua! Telanjangin satpam goblok ini. Paksa dia untuk menyetubuhi nyonya kalian!”, kata Arman dengan geram.

Adrian melawan. Ia dengan gagah berusaha memukul roboh Sugeng dan Jono. Tapi Arman sialan itu, dari belakang ia memukul kepala Adrian, hingga Adrian harus roboh. Dan Adrian yang sudah tak berdaya itu harus menerima hujan pukulan dan tendangan dari mereka bertiga. Mereka terus memukuli Adrian.

Aku tak tega melihat Adrian dihajar seperti itu, terpaksa aku menguatkan hatiku dan berteriak, “Hentikan!!”.

“Adrian, lakukanlah. Kamu tidak perlu berkorban untukku. Aku toh sudah ternoda”, kataku lirih sambil menangis.

“Aku ingin tahu apa kamu masih bisa berlagak sok suci kalau sudah merasakan liang nyonyamu”, ejek Arman sambil mengarahkan handycam ke arah Adrian. Kini Adrian sudah dilucuti pakaiannya oleh Sugeng dan Jono, dan Adrian digeret ke atas ranjang pengantinku. Ranjang dimana aku sudah dinodai adik iparku, dan dimana aku harus pasrah menyusui tukang kebunku juga sopirku.

Adrian masih mematung di depan selangkanganku, walaupun aku tahu ia terangsang hebat melihatku, dari penisnya yang sudah ereksi dengan gagah. Oh… penis itu… aku sempat bergidik ketika aku melihat mengira ngira ukuran penisnya, panjangnya sekitar 15 cm. Diameternya memang hanya sekitar hampir 4 cm, tapi kepala penisnya besar, mungkin diameternya lebih dari 5 cm. Ia memiliki penis yang lebih panjang dari semua laki laki yang pernah menyetubuhiku. Dan… aku suka melihat penis Adrian yang sudah disunat ini, begitu sexy dan merangsang di mataku.

“Kalau dia tidak segera mulai, hajar dia”, kata Arman dingin.

Aku tak ingin Adrian menerima pukulan lagi, dan aku menarik tangannya hingga ia menindihku.

“Adrian… lakukan saja”, kataku.

Entah kenapa aku merasa rela kalau Adrian menyetubuhiku. Ia memang tampan, badannya atletis, dan ia selalu baik padaku. Apalagi tadi ia sampai rela menerima pukulan dan tendangan, hingga banyak bagian tubuhnya yang membiru.

“Nyonya… maafkan saya”, kata Adrian lirih.

Aku mengangguk lemah.

“Sssshh…”, aku mendesah dan menggigit bibir ketika kepala penis dari Adrian mulai membelah bibir liang vaginaku.

“Sakit nyonya?”, tanya Adrian kuatir.

Aku menggeleng dan tersenyum padanya.

Penis itu terus merangsek masuk ke dalam liang vaginaku, dan aku menggeliat.Cerpensex.com Sakit? Tidak sama sekali. Memang penis itu terasa kasar, tapi Adrian benar benar melakukan dengan lembut. Lagipula rasanya enak sekali, bibir vaginaku tak terkuak begitu besar, tapi terasa seperti ada bola besi besar yang mengaduk liang vaginaku di bagian dalam sana.

Aku memandang Adrian sayu, ia pun memandangku dengan cara yang sama. Ia terus memompa liang vaginaku, dan aku merasakan kemesraan dari tiap genjotan yang kuterima darinya. Aku tak perduli pada mereka bertiga yang menonton dengan iri, aku tak perduli lagi kalau semua ini direkam oleh handycam Arman. Malah aku sengaja memamerkan sikapku kalau aku suka aja disetubuhi Adrian. Tak ada yang perlu aku pikirkan ataupun aku sesalkan lagi, toh aku memang sudah ternoda sebelumnya. Aku bukan lagi seorang istri yang suci.

“Adrian…”, desahku di antara geliat tubuhku yang mulai keenakan.

“Iya nyonya?”, Adrian menanggapi, suaranya bergetar sekali, tanda bahwa dia sangat terangsang.

Ingin aku mengatakan padanya… jangan panggil aku nyonya…

Ingin aku menjerit padanya… panggil aku Elly, sayang… aku milikmu… sepenuhnya…

Tapi di sini ada orang lain selain kita…

Aku memejamkan mata, membentuk bibirku seperti akan menyambut ciuman lelaki.

Sesaat kemudian, kurasakan nafas Adrian yang hangat berhembus menerpa wajahku.

Kecupan Adrian pada bibirku begitu lembut, dan penuh perasaan. Aku melingkarkan betisku ke pinggang Adrian, dan memeluk lehernya dengan kedua tanganku. Kini aku dan Adrian benar benar menyatu, hunjaman penis Adrian terasa makin dalam saja. Dan aku… aku melayaninya… dengan segenap perasaanku, aku cium Adrian dengan sepenuh hati, sampai akhirnya kami melepas ciuman kami dan saling berpandangan, tersenyum mesra.

“Ohh… Adrian… eengghhh…”, aku kembali harus menikmati saat saat kepala penis Adrian mengorek seluruh dinding liang vaginaku. Tubuhku sampai bergetar hebat dan pinggangku melengkung ke atas, aku tak bisa menggambarkan nikmat yang sedang kurasakan ini. Apalagi aku menyerahkan diriku sepenuhnya pada Adrian, maka rasa nikmat ini makin menjadi jadi.CerpenSex

Dan aku makin tak kuasa menahan nikmat ketika Adrian mulai menjarah payudaraku. Ia meremas begitu lembut, ia memainkan buah dadaku dengan kelembutan yang tak pernah kubayangkan, belaian yang begitu halus dan mesra, tak sedikitpun Adrian melecehkanku. Aku hanya bisa menggeliat penuh kenikmatan. Sesekali aku mendesah, saat jari jari Adrian dengan nakal memencet puting susuku, memilin dengan lembut. Sementara itu aku merasakan liang vaginaku makin becek oleh cairan cintaku.

“Aaah… eeengghh… Adrian…”, aku melenguh keenakan ketika kepala penis Adrian menyentuh dinding rahimku. Kepalaku terpental ke kanan dan ke kiri, aku menggeliat hebat. Ketika kemudian kepala penis itu bergerak kembali menuju ke arah luar, aku merasa seperti ada bola besi besar di dalam liang vaginaku, yang tertarik keluar dengan perlahan. Hal itu benar benar membuat aku tergetar hebat dan menggigil dalam kenikmatan.

Aku tahu sebentar lagi aku akan orgasme. Aku menatap Adrian dengan nafas tersengal-sengal. Kutarik lehernya dan kulumat bibirnya sejadi jadinya. Kugerakkan pinggulku hingga vaginaku menyambut tiap tusukan penis Adrian.

Adrian sendiri keadaannya juga sudah tidak karuan, nafasnya sudah seperti orang yang lari marathon.

Tapi ia cukup perkasa untuk mengantarku orgasme duluan.

“Adriaaan… eenggghhh…”, aku melenguh panjang.

Aku orgasme… orgasme yang luar biasa…

Tubuhku menggelepar, rasanya seluruh otot di tubuhku mengejang. Aku sempat sampai setengah tak sadar, rasanya begitu nikmat, seakan rohku sempat terlepas dari tubuhku.

Vaginaku berdenyut tak karuan, serasa akan meledak. Tapi aku sudah lemas. Rasanya seluruh tenagaku sudah tersedot keluar bersama orgasme ini. Untuk melenguh pun aku sudah tak punya tenaga.

Dan tiba tiba Adrian juga melolong panjang…

“Ellyyy….”, dalam keadaan seperti ini, Adrian bahkan lupa menyebut nyonya padaku…

Ia meneriakkan namaku… aku suka itu…

Kurasakan lahar panas dari penis Adrian yang perkasa, menyembur dengan banyak, berkali kali, hingga terasa begitu menghangatkan liang vaginaku. Maka sempurnalah persetubuhan kami.

Aku memandang Adrian dengan mesra, dalam kepuasan yang amat sangat. Adrian sendiri ambruk di atas tubuhku, dengan penis yang masih bersarang dalam liang vaginaku. Kurasakan degup jantung Adrian yang amat keras, ketika kedua payudaraku menempel seluruhnya pada dada Adrian yang bidang.

Aku memeluk Adrian, kukecup bibirnya dengan mesra. Kubelai punggungnya dengan lembut. Adrian sendiri mencumbuiku. Aku memejamkan mataku senang ketika ia mengecup kedua mataku dengan lembut. Adrian benar benar memperlakukan aku dengan penuh perasaan. Ia membelai kedua pipiku, telingaku, rambutku… aku bisa merasakan kalau semuanya ia lakukan untuk memuji kecantikanku. Aku malu bercampur senang, mungkin aku sedang tersenyum malu sekarang.

Tapi kebahagiaanku ini direnggut paksa oleh Arman. Ia menarik tubuh Adrian yang masih menindihku hingga penis Adrian terlepas dari liang vaginaku. Aku sampai membuka mata dan hampir mengeluh karena kecewa.

“Sudah, giliran yang lain goblok!”, bentak Arman.

Aku benci padanya… ia merenggut Adrian dariku…

Kulihat Adrian dilempar ke bawah ranjang. Dan kini, sesuai instruksi Arman, Sugeng dan Jono kembali naik ke ranjang. Dengan bernafsu sekali, mungkin karena melihat aku begitu total melayani Adrian, mereka berdua segera meyergapku.

Jangan harap aku akan melayani mereka seperti aku melayani Adrian tadi…

Mereka dengan kejam mulai memperkosaku bersamaan. Sugeng melebarkan pahaku, dan dengan tanpa perasaan ia menjebloskan penisnya ke dalam liang vaginaku. Selagi aku ternganga kesakitan, Jono membenamkan penisnya dalam mulutku. Aku harus melayani mereka berdua.

Aku melayani mereka tanpa ekspresi…

Mereka tak memberiku kenikmatan… Mereka hanya memuaskan diri mereka sendiri…

Kurasakan penis Sugeng sudah berdenyut keras, dan pemiliknya mengerang-ngerang. Mungkin ia terpengaruh sekali dengan live show persetubuhanku dengan Adrian tadi. Untung saja, karena aku tak harus berlama-lama melayani dia.

Aku membiarkan saja sperma sopirku ini menodai vaginaku.

Bahkan Jono juga segera menyusul, ia mengeluarkan lahar panasnya dalam mulutku.

Padahal aku sama sekali tak mengulum penisnya…

Semua itu disorot oleh Arman dengan bersemangat.

Adrian kelihatan puas melihatku baru saja jadi bulan-bulanan dua orang tadi. Ia memeriksa hasil rekamannya sebentar, sementara Sugeng dan Jono tertawa puas. Aku tak memperdulikan mereka, dan aku mencari cari Adrian dengan pandangan mataku. Akhirnya aku menemukan Adrian, ia terlihat memandangku, pandangan yang meluluhkan hatiku.

Itu adalah pandangan seorang laki laki yang merasa bersalah, yang tak bisa melindungi gadisnya.

Itu adalah pandangan seorang laki laki yang mencintai seorang perempuan…

Oh Adrian… apakah kamu memang mencintai aku?

“Elly. Aku tak ingin mendengar kamu memecat mereka bertiga ini. Karena kalau kamu memecat salah satu saja dari mereka, dua DVD rekaman kamu akan sampai ke meja Albert”, lagi-lagi Arman memberikan ancamannya padaku.

Aku diam saja, sementara Sugeng dan Jono bersorak.

Adrian juga diam saja.

Arman pergi keluar dari kamarku, diikuti oleh Sugeng dan Jono. Sempat kudengar mereka berterima kasih pada Arman. Benar-benar biadab. Mereka berterima kasih karena mendapat kesempatan memperkosa aku, majikan mereka. Dan mereka tertawa tawa, membuatku makin muak.

Kini tinggal Adrian yang belum keluar, dan sebelum keluar dari kamarku, Adrian sempat meminta maaf sekali lagi padaku.

“Maafkan saya… nyonya”, kata Adrian, yang menundukkan kepalanya dengan sedih.

Aku perlahan mengangguk, dan tanpa sadar aku berkata, “Terima kasih Adrian”.

Aku terkejut sendiri dan tersenyum malu padanya. Adrian keluar dari kamarku dengan langkah gontai. Ingin aku meneriakkan isi hatiku pada Adrian, kalau ia jangan merasa bersalah, karena aku amat menikmati saat-saat bersetubuh dengannya tadi. Tapi aku diam saja. Aku memang merasa kalau Adrian mencintai aku, tapi itu kan hanya perasaanku saja. Bagaimana kalau ternyata perasaanku salah?

Maka selesailah penderitaanku hari ini, dan aku tahu entah kapan, tapi aku pasti akan menerima kebiadaban lain dari Arman.

Tapi aku tak menangis…

Aku membersihkan diriku di kamar mandi. Setelah itu aku memeriksa keadaan rumahku, dan aku memastikan Arman sudah tak ada lagi. Maka aku mencari tasku dan mengambil kunci kamar tempat aku menyembunyikan bayiku. Aku melihat bayiku menangis pelan, dan dengan rasa bersalah aku segera menggendong anakku. Aku tahu bayiku ini sedang lapar, maka aku segera menyusuinya… dengan puting susuku yang telah dijarah oleh beberapa lelaki…

Aku memikirkan kejadian tadi.

Ada satu kenikmatan luar biasa yang kuperoleh hari ini, yaitu ketika aku bersetubuh dengan Adrian.

Dan sejujurnya, aku ingin mengulanginya lagi…