CerpenSex

Cerpen sex versi Indonesia

Mertuaku

Comments Off on Mertuaku

cerpensex.com

Cerpensex | Aku bingung melihat sikap mertuaku padaku, akhir2 ini sering sekali dia mampir ke rumahku, terutama saat
suamiku belum pulang. Tingkahnya makin menjadi2, dia selalu mengeluh padaku karena gairah sexnya tidak
terpuaskan, ibu mertuaku kelihatannya sudah enggan meladeni napsu suaminya. Aku merasa dia sedang
merayuku untuk mau meladeni napsunya. Aku mula2 sungkan dengan tingkahnya, tetapi karena seringnya dia
melakukan hal yang sama, buatku menjadi biasa. Kalau berkunjung selalu dia membawakan sesuatu untukku,
makanan, buah2an, bahkan pakaian dan sepatu. Suamiku hanya tersenyum ketika kulapori ulah bapaknya, dia
bilang, itu tandanya papah sayang sama kamu.

Baca Juga Cerita Lain nya Cewek Hyper Sexx

Suatu sore mertuaku datang lagi ke rumahku, aku baru saja sampai dirumah, suamiku belum pulang, katanya
malem ini dia lembur, kemungkinan malah gak pulang karena besok adalah dead line proyeknya. Mertuaku
mendadak memelukku dari belakang, “Sin, kamu merangsang sekali deh”. Aku terkejut dengan ulahnya yang
belum pernah dilakukan, tapi aku membiarkannya saja. Aku malah merasa tersanjung dengan pujian yang
jarang sekali terucap dari suamiku. “Pah, nanti dilihat orang lo, pintunya masih terbuka”, kataku. Dia
melepaskan pelukannya dan menutup pintu rumahku.

Dia duduk di sofa dan minta aku duduk disampingnya, ketika aku duduk dia segera memeluk dan bibirnya
langsung menyambar bibirku. Aku kaget tapi akhirnya larut dalam lumatan bibirnya yang ganas, lidahnya
menyusup ke dalam mulutku dan melilit lidahku, spontan aku membalas aksinya dengan menyambut ciuman
ganasnya, akupun mengemut lidahnya yang menari2 didalam mulutku. “Papah nekatt..” kataku. “Abisnya kamu
ngegemesin sih..” Kembali dia mencium bibirku, tangannya kali ini menggerayangi tetekku, diremas2nya
pelan2 sehingga aku mulai terhanyut oleh napsuku yang mulai berkobar. Jemarinya menyusuri pahaku,
menyingkap rokku ke atas, sehingga terpampanglah pahaku, dia tambah bernapsu. Sambil terus mengulum
bibirku, tangannya mengelus pahaku makin keatas sehingga rokku makin tersingkap, sampai jarinya
menyentuh bukit mekiku. Otomatis pahaku merenggang memberi kesempatan jemarinya untuk bermain lebih
leluasa di bukit mekiku. Terasa jari nakalnya mulai menyusup kedalam CD ku dan mengilik itilku, aku
menggelinjang, napsuku makin berkobar saja. “Pah, aah”, erangku. “kenapa Sin, kamu dah napsu ya, ke
kamar yuk biar lebih asik”, jawabnya sambil bangkit dan setengah menyeretku ke kamar. Aku hanya ngikut
saja ketika dia menarikku ke kamar, kewarasanku sudah tertutupi napsuku yang berkobar, napsuku yang
memaksaku mengikuti kehendak mertuaku karena dorongan keinginan merasakan kepuasan di ranjang yang
jarang sekali aku peroleh.

Di kamar, langsung saja aku ditelanjanginya, bibirku diciuminya sambil meremas2 tetekku yang sudah
mengeras, pentilku di pilin2nya, aku hanya bisa ber ah uh karena rangsangan yang luar biasa itu. Aku
malah mengimbangi ciuman ganasnya, aku ditariknya ke ranjang. Pentilku langsung diserbunya, diemut2nya
dengan rakusnya sehingga pentilku langsung mengeras, sementara itu tetekku terus saja diremas2nya. Puas
mengemut pentilku, jilatan lidahnya turun ke arah perutku, terus ke bawah lagi dan mampir di mekiku.
Lidahnya segera membelah bibir mekiku dan menjilati itilku, aku mengangkangkan pahaku sehingga
mempermudah dia menggarap itilku. Aku mulai mengerang2 saking nikmatnya yang melanda tubuhku. “Aasshhg..
hngghh.. ssshhhg..” badanku melintir, bergeliat-geliat oleh kilikan jilatan di itilku. Dia makin
bersemangat karena eranganku. Tiba2 dia melepaskan jilatnnya, segera dia melepaskan semua pakaiannya.
batangnya yang besar dan panjang sudah sangat keras. Aku heran, bapak nya punya batang yang luar biasa,
kenapa suamiku batangnya udah kecil letoy lagi. Jangan2 dia anak pungut kali ya, batinku.

Baca JUga Cerita Hot Lain nya Di CeritaSexTerbaru.net

Dia segera menaiki tubuhku yang sudah telentang pasrah, siap untuk dienjot, dia membasahi kepala
batangnya dengan ludahnya kemudian ditempelkan ke bibir mekiku dan langsung ditusuk masuk. “Hhgghh..”
sekali lagi aku mengejang kali ini oleh sodokan batangnya. Tapi karena sudah cukup siap, dengan mudahnya
dia menancapkan batangnya ke dalam mekiku. Aku menggelepar ketika menyambut masuknya batangnya yang
cepat amblas ke dalam mekiku. Begitu tertanam didalam, aku menahan pinggangnya agar sodokannya jangan
terus berlanjut. Dia menungguku sampai sudah siap, baru batangnya dienjotkan keluar masuk pelan2. Mula2
terasa aneh ketika batangnya mulai memompa mekiku, terasa banget batangnya yang besar menyeruak masuk
mengisi lobang mekiku yang terdalam. “Hhsssh, dalemm bangett Paah..” spontan keluar eranganku. “He.ehh..
tapi kan nggak sakit?” tanyanya. “enggak kok Pah, malah nikmat banget rasanya”, jawabku terengah. Dia
terus mengenjotkan batangnya keluar masuk, aku merangkul lehernya dan kedua kakiku membelit pahanya.
“Gimana rasanya.. nggak sakit kan?” “Nggak.. enak malah Pah, geli sampe ke dalem-dalem sini.” jawabku
sambil mengusap-usap perut atasku. “Apanya yang enak?” “Ngg.. batang papah..” jawabku. Dia makin gencar
mengenjotkan batangnya keluar masuk sehingga aku makin menggeliat saking nikmatnya. “Paah ennakk Paaah..
Iyya.. Duhh dalem bangett masuknya Paah..Aaa.. dikorek-korek gitu Sintia pengenn kluarr. Ayyo Pah..
adduuh”, erangku gak karuan. “.. Iyya ayyo aaahhgh.. ssshgh.. hghrf.. ennaak mekimu Sin.. Papah juga mo
kluaarr.. sshmmmh..” “Hhsss.. aduuhh tobatt Paah.. hahgh ooghh.. batangnya kok masuk dalem sekali Pah,
gedee sekalli, aduuh.. Pah..” batangnya makin dipompa keras2, nikmat banget rasanya. Heg.. yaang kerass
Pah.. shh iya gittu..aduh..ssshgh.. heehh.. ayyo.. ayoo Paak.. aaahgh.. sshgh.. Iyya Pah, Sintia udah mo
nyampe.. aduhh.. hghshh.. hrrgh..” Dia meremas2 tetekku, sampai akhirnya akupun nyampe. Dadaku
membusung, seolah-olah tubuhku terangkat-angkat oleh tarikannya yang meremasi kedua tetekku. Tapi
menjelang tiba di saat dia muncrat, dia mencabut batangnya dan langsung tegak berlutut sambil menarik
kedua lenganku sehingga aku ikut bangun terduduk.Dia menekan kepalaku ke arah batangku yang tegang
mengangguk2 berlumuran cairan mekiku. “Ayo Sin isepin sampe keluarr..” Tanpa ragu-ragu aku langsung
mencaplok dan mengocok batangnya dengan mulutku. Tidak bisa semua, hanya tertampung kepalanya saja
dimulutku, tapi ini sudah cukup membuat dia muncrat di mulutku. Aku agak tersedak karena semprotan
maninya yang tiba2, dia terus menekan kepalaku supaya tidak melepaskan kulumanku sehingga maninya
tertelan olehku. Setelah keluar semua, aku melepas mulutku, langsung meringis. “Kenapa Sin, nggak enak
ya rasanya?” tanya nya geli. “Asin rasanya Pak..” jawabku ikut geli. “Maaf ya? Terpaksa Papah tumpahin
di mulut, soalnya kalo di mekimu nanti jadi lagi.” “Nggak pa-pa, sekali-sekali buat pengalaman baru
kok..” “Kalo sering-sering emang kenapa?” “Emang enak sih dikeluarin pake mulut?” kataku sambil bergerak
bangun untuk ke kamar mandi mencuci bekas-bekas permainan ini. “Oo.. sama kamu sih pasti enak aja.”
jawabnya sambil ikut bangun menyusulku.

di kamar mandi, dia memelukku dari belakang, aku belum sempet bebersih ketika tangannya mulai meremas
tetekku, pentilnya diplintir2 sambil menciumi kudukku. aku menggelinjang kegelian. Aku mencari
batangnya, astaga, sudah mulai tegang lagi rupanya. kuat banget dia, baru aja muncrat di mulutku sudah
mulai ngaceng lagi. “Kuat banget sih Pah, baru Sintia emut sampe muncrat udah ngaceng lagi”, kataku.
“Iya tadi kan muncrat dimulut kamu, sekarang pengen muncrat di meki kamu”, jawabnya sambil terus
meremesi tetekku. Leherku terus saja diciumi, dijilati dengan penuh napsu. Akupun tidak tinggal diam,
batangnya yang makin keras aku remes dan kocok2 biar sempurna ngacengnya. “Pah, Sintia isep lagi ya”,
kataku sambil jongkok di depannya. Ujung batangnya kujilati dan kemudian giliran kepala batangnya, terus
ke pangkalnya, kemudian ke biji pelernya. Dia mengangkat kaki kanannya supaya aku mudah menjilati
batangnya. Kemudian jilatanku naik lagi keatas, dan kepalanya langsung kukulum. Kepalaku mengangguk2
seiring keluar masuknya batangnya dimulutku, sambil ngisep, biji pelernya aku elus2. “AAh Sin, nikmat
banget deh”, erangnya. Dia memegang rambutku dan mendorong batangnya keluar masuk mulutku dengan pelan.
Sepertinya dia udah tidak tahan lagi, aku diseretnya keluar kamar mandi dan ditelentangkan di ranjang.
Pentilku menjadi sasaran jilatannya, jilatan berubah menjadi emutan, bergantian pentil kiri dan kanan.
kemudian jilatannya turun ke perut, kemudian ke pusar sampe akhirnya ke buluku. Jarinya mulai mengelus
bibir mekiku, kemudian jilatannya mulai menjelajahi mekiku yang sudah basah kembali. Jilatannya tidak
langsung ke itilku tapi berputar2 sekitar mekiku. ke daerah paha, terus kedaerah pantat dan naik lagi.
“Pah, nakal ih”, desahku, napsu sudah kembali menguasaiku. Jilatannya diarahkan ke itilku sambil
memasukkan jarinya ke mekiku. dia menggerakkan jarinya keluar masuk mekiku. “Paah”, desahku saking
napsunya. pinggulku menggeliat kekiri kekanan.

Akhirnya sampailah saat yang kutunggu2, dia menaiki badanku, ditindihnya aku, batangnya diarahkan ke
mekiku yang sudah basah banget. Kepalanya diusap2kan dibibir mekiku. Aku mengangkat pantatku ke atas
sehingga bless masuklah kepala batangnya membelah bibir vaginaku.Dia mulai mengeluar masukkan batangnya
ke mekiku, pelan2, makin lama makin cepat, sampe akhirnya dengan satu enjotan yang keras, seluruh
batangnya nancep dalem sekali di mekiku. “Paah, nikmat sekali”, jeritku. Aku menggelinjang makin gak
beraturan seiring dengan enjotan batangnya keluar masuk mekiku dengan cepat dan keras. Kakiku menjepit
pinggulnya, kemudian diletakkan di pundaknya, dia pada posisi berlutut, makin terasa gesekan batangnya
ke dinding mekiku, nikmat banget. mekiku mulai berdenyut2 meremes2 batangnya yang teruis bergerak lincah
keluar masuk. “Pah, Sintia udah mau nyampe nih, terus enjot yang keras pah, aah”, erangku lagi. Dia
makin semangat mengenjot mekiku.

Tiba2 dia berhenti dan mencabut batangnya, “Paah”, protesku. ternyata dia pengen ganti posisi. aku
disuruhnya nungging dan kembali batangnya melesak masuk mekiku dari belakang, cerpensex.com doggie style. pantatku
dipeganginya sementara dia mengenjotkan batangnya keluar masuk. tetekku yang berguncang2 seirama dengan
enjotan batangnya diraihnya, diremes2nya, pentilnya diplintir2, menambah kenikmatan yang sedang mendera
tubuhku. “Terus paah”, erangku lagi, aku mencengkeram seprei dengan kuat saking nikmatnya. aku memaju
mundurkan badanku supaya batangnya nancep dalem sekali di mekiku, sampe akhirnya, “Terus paah, Sintia
nyampe lagiii”. Dinding mekiku berdenyut2 mengiringi sampenya aku, dia terus saja mengenjot mekiku
dengan cepat. Aku neklungkup, capai banget rasanya meladeni napsunya mertuaku ini. Dia membaringkan
dirinya, batangnya masih tegak berdiri berlumuran cairan mekiku. “Sin, kamu yang diatas ya, papah belum
keluar neh”, pintanya.

Baca Juga Diana Oh Diana

Aku menempatkan diriku diatasnya, batangnya kupegang dan langsung kutancapkan ke mekiku, badan kutekan
kebawah sehingga langsung aja batangnya ambles semua di mekiku. Aku mulai menggoyang pinggulku, kekiri
kekanan, maju mundur, berputar2. biar cape, tapi nikmat banget rasanya gesekan batangnya ke mekiku.
tetekku diremes2nya sambil memlintir2 pentilnya. aku merubah gerakanku menjadi keatas kebawah mengocok
batangnya dengan mekiku. “Pah, nikmat banget pah”, erangku. Akhirnya aku tidak bisa menahan diriku lebih
lama lagi, aku ambruk didadanya karena nyampe untuk kesekian kalinya. “Pah, belum mau muncrat ya, Sintia
lemes pah”, desahku. “Tapi nikmat kan”, jawabnya. “Nikmat banget pah”.

Dia berguling tanpa mencabut batangnya dari mekiku sehingga sekarang dia ada diatasku. dia mulai lagi
mengenjotkan batangnya keluar masuk mekiku. kuat banget ya untuk orang seumur dia, mungkin dia makan
obat kuat. tapi aku gak perduli dengan hal itu, yang ada sekarang aku menikmati saja nikimatnya gesekan
batangnya di mekiku. “Sin, udah mau muncrat, didalem ya”, erangnya sambil mempercepat enjotannya.
“muncratin di dalem aja pah, kan papah pengen muncrat di dalem mekinya sintia”, jawabku terengah. Dia
terus mengenjotkan batangnya keluar masuk mekiku, sampe akhirnya, “Siin”, erangnya. terasa sekali
semburan maninya membanjiri mekiku. Kami berdua terkulai lemas.Cerpensex