CerpenSex

Cerpen sex versi Indonesia

Butuh Uang 2 : Dibayar

Comments Off on Butuh Uang 2 : Dibayar

Cerpen Sex Butuh Uang

Cerpensex | Part 2. Dibayar

“bang pandu kpn byr yg 500. BU nih.”
SMS itu dikirim Sherly ke nomor HP Pandu. Sudah beberapa hari sejak pemotretan yang berujung bugilnya Sherly di studio Pandu, tapi fotografer itu belum juga membayar sisa yang dijanjikan. Sebelum mengirim SMS itu Sherly ditelepon customer service kartu kredit yang mengingatkan tagihan sebesar 2,5 juta belum dibayar. Sebelumnya lagi Sherly ditagih temannya yang membayari dia beli diktat kuliah. Dan sebelumnya lagi Sherly diingatkan administrasi kampus bahwa kalau uang kuliahnya belum dilunasi, dia tak bisa ujian. Dan sebelumnya… ah sudahlah. Intinya Sherly dalam kondisi BU. Butuh Uang. Dan yang bisa dia tagih adalah janji Pandu. Pacarnya? Sebagai mahasiswa biasa yang kurang kreatif, pacarnya lagi-lagi tidak bisa bantu, dan malah mendorong Sherly untuk cari job modeling lagi. Sherly mulai merasa pacarnya sebagai cowok “mokondo” yang cuma ingin gituan gratis tanpa ngasih apa-apa. Bahkan kepuasan pun kemarin tidak dia kasih. HP Sherly bunyi lagi. MMS dari Pandu. Lho, kok malah dikirimi foto cewek berkebaya? Sesudahnya Pandu menelepon.
“Halo, Sher. Pakabar? Sibuk gak?” sapa Pandu.
“Eh, bang. Aku mau nanyain. Kapan mau…” kata Sherly, tapi langsung dipotong Pandu.
“Sudah lihat gambarnya kan? Aku mau bikinin photoshoot tema kebaya, ada teman yang mau beli. KT (koleksi terbatas) lagi. Bisa sekarang gak? Kalau bisa aku jemput deh. Soal yang kemarin, itu aku mau lunasin sekarang. Cuma adanya cash, jadi sekalian kamu datang ke sini yah?”
Dicecar seperti itu Sherly tidak sempat mikir, dan cuma bisa mengiyakan. Ketika dia bilang “mau” Pandu langsung girang dan suruh Sherly menunggu di depan kampusnya, nanti akan ada yang jemput. Lalu telepon langsung ditutup.

*****

Setengah jam Sherly menunggu di depan kampus, tiba-tiba muncul seorang laki-laki jelek di hadapannya naik motor yang sama jeleknya. Lelaki itu sudah tua, umurnya setengah baya. Rambutnya sudah mulai beruban. Tubuhnya kurus ceking.
“Non Sherly yah? Saya Kosim, disuruh jemput sama Pak Pandu. Katanya suruh cari yang paling cakep di depan kampus, hak hak hak…” kata orang itu menggombal, disambung ketawa yang juga jelek.
Giginya yang ompong dan gayanya yang sok playboy menambah kesan seram pada diri lelaki setengah baya itu. Walau ada sedikit ragu tapi Sherly naik ke motor Kosim. Keduanya pun berangkat ke tempat Pandu. Sherly sengaja tak memberitahu pacarnya, karena masih dongkol tidak dibantu. Menurut Sherly, Kosim tidak jago mengendarai motor. Kosim sering sekali mengerem mendadak dan sering salah memilih jalan yang tidak rata. Akibatnya bukan cuma satu kali payudaranya membentur punggung Kosim (yang jelas menikmati saat-saat itu). Makanya Sherly lega ketika akhirnya motor Kosim sampai di depan studio Pandu.
“Hai, welcome,” sapa Pandu yang menunggu di depan studio dengan tersenyum lebar dan penuh arti.
Dengan semangat Pandu menyalami Sherly, sekaligus curi-curi meraba tangan halus model amatir itu. Di sebelah Pandu ada seorang perempuan 30-an tahun yang Sherly belum kenal. “Sher kenalin ini Citra.”
“Sherly,” kata Sherly menjabat tangan Citra. Sepintas Sherly memperhatikan pakaian Citra: rok Citra pendek sekali, memamerkan kakinya yang jenjang dan pahanya yang masih mulus.
“Hai, aku Citra,” jawab Citra dengan nada genit. “Aku yang minta Pandu bikinin foto-foto tema kebaya. Buat salonku. Eh kamu manggil Pandu biasanya gimana, Mas apa Pak apa ‘Om Pandu’?”
“Biasanya sih Bang Pandu,” kata Sherly.
Citra menyikut Pandu. “Kalo sama cewek yang seumuran ini Pandu pantasnya dipanggil ‘Om’. Sherly, yuk ikut ke dalam? Kita siap-siap dulu.”
Sherly, Pandu, dan Citra masuk. Kosim tetap di luar, nyengir mesum melihat Sherly dan Citra. Lelaki setengah baya itu menatap nanar kedua buah pantat gadis itu dari belakang. Tanpa sepengetahuan mereka, Kosim meraba-raba penisnya yang dari tadi sudah berdiri tegak.

*****

Sherly merasakan tangan Citra memasang anting di kanan kiri kupingnya. “Nah, selesai,” kata Citra. Cukup lama juga Citra mendandaninya. Sherly sekarang mengenakan busana sesuai tema, sehelai kebaya pendek dari bahan menerawang yang cantik berhias payet, hanya sedikit menutupi kemulusan kulit bahu dan lengan Sherly. Di balik kebayanya Sherly dipakaikan kemben tipis yang oleh Citra ditarik turun sehingga belahan payudara Sherly yang bagus mengintip di bagian leher kebaya. Bawahannya kain—tapi bukannya panjang sampai ke mata kaki, kainnya hanya sampai setengah paha, jadi malah seperti rok mini. Secara keseluruhan kesannya lebih banyak sexy daripada anggun. Tadi selain memperhatikan rok Citra yang pendek dan suara Citra yang genit, Sherly juga menganggap pemilik salon berumur 30-an itu memakai make-up tebal. Mirip cewek nakal, pikir Sherly. Ternyata dia dibegitukan juga oleh Citra, dirias cukup serius. Lipstik merah dan eyeshadow biru. Sherly awalnya mau protes, tapi sesudah melihat hasil akhirnya dia suka, wajahnya jadi terkesan lebih sensual. Lagipula sehari-hari pun Sherly memang biasa pakai kosmetik untuk tampil di kampus. Rambut panjang Sherly disanggul sederhana di belakang atas kepala.
“Wuihhh… kereeen… kayak bidadari turun ke bumi…” puji Pandu ketika Citra mengantar Sherly masuk ruang pemotretan.
Sherly malu-malu, sambil bertanya seolah tidak percaya, “Beneran keren Bang?” yang dijawab anggukan dan senyuman Pandu. Tanggapan itu membuat Sherly tersipu-sipu, dan makin percaya diri.
“Ayo kita mulai.”
Sherly berdiri di sebelah bangku di depan latar belakang polos. Pandu mengagumi hasil karya Citra di penampilan si model. Sekaligus membayangkan apa yang bakal dia lakukan berikutnya. Tentu tak hanya memotret…
“Kita mulai pose duduk dulu, kamu duduk di bangkunya,” kata Sherly. Pandu memotret beberapa kali. Citra membantu mengarahkan Sherly berpose. Tak lama kemudian Citra bilang,
“Aku tinggal dulu ya. Bikin foto-fotonya yang cantik. Daah.”

Baca JUga Cerita Sex Lain nya di CeritasexTerbaru.Net

*****

Ketika Citra mau keluar dari ruang pemotretan, dia melihat Kosim mengintip di balik pintu.
“Heh!” kata Citra mengagetkan Kosim. “Hayo, lagi lihat apa?”
“Heeheeheehhee…” Kosim ketawa-ketawa tidak jelas. “Ngelihatin Non Sherly. Cakep sih.”
“Huuu, dasar mesum,” kata Citra sambil menoyor Kosim. “Pantesan betah banget kerja di sini. Pandu sering bawa cewek kan.”
“Iya… Iya Tante,” balas Kosim. “Apalagi Non Sherly ini. Wuiih. Tadi sih pas nganterin dia…”
“Kenapa?”
“Sempet ngerasain toketnya hihihi… Gede empuk, pasti enak tuh…”
“Emangnya kamu apain dia??”
“Tadi nyenggol-nyenggol pas di motor, Tante. Eh, kayaknya gedean punya dia deh daripada punya Tante…”
Citra panas. Dia langsung tarik kerah kaos Kosim.
“Enak aja panggil Tante, Tante. Lu kira gue udah setua itu hm?” katanya sambil pasang muka galak di depan Kosim yang tetap nyengir kurang ajar. Tapi lantas tangan Citra bergerak menggerayangi tubuh Kosim, sampai ke jendolan di depan celana Kosim. “Apa nih… Ckckck… Lu konak ya? Kenapa, konak juga sama tante-tante kayak gue?”
“Iya dong… biar Non Sherly toketnya lebih gede… tapi Tante Citra tetep seksi… ADAWW!!” Kosim menjerit karena biji-nya diremas Citra.
“Panggil gue Tante lagi… padahal ngaceng juga… awas lu ya?” ancam Citra. Tapi wajahnya berubah dari galak ke senyum nakal. Citra menarik Kosim pergi dari situ.

*****

Cerpen Sex Butuh Uang

“Sher, sekarang kamu pose berdiri ya,” kata Pandu sesudah sekitar 10 kali memotret Sherly yang duduk manis. Untuk membantu Sherly agar makin luwes berpose, Pandu memutar musik dance. Ternyata Sherly bereaksi; mengikuti naluri dancer-nya, Sherly tanpa malu-malu bergoyang.
“Musiknya asyik nih Bang,” kata Sherly, tersenyum-senyum.
“Tapi jangan terlalu hot goyangnya, nanti susah difoto,” Pandu tertawa melihat Sherly menari-nari, tidak tahan terbawa irama. “Eh Sher kamu bisa ngedance ya? Kelihatannya udah biasa tuh.”
“Bisa Bang, aku kan dulu ekskul dance waktu SMA,” kata Sherly. “Suka nggak ngelihatnya?”
“Suka, suka banget dong. Ntar kapan-kapan clubbing bareng, yuk. Pasti asyik nih ngedance bareng kamu,” ajak Pandu. “Tapi sekarang kita foto-foto dulu ya.”
Beberapa kali foto kemudian, mulailah Pandu menjalankan rencananya. “Sher, bikin foto seksi lagi yuk…”
Sherly senyum. “Dibayar lebih gak Bang?” tanyanya.
“Tenang ajaaa. Apa sih yang ga bisa buat Sherly. Gini, ngelihatin kamu pake baju itu aku jadi punya ide. Gimana kalau… Kamu pake kebaya sama kainnya aja, ga usah sama kembennya?”
“Ihh gila. Kebaya-nya kan tipis transparan gini Bang?” ujar Sherly tak percaya. “Entar tetep kelihatan dong semuanya…”
Pandu mendekati Sherly dan memegang kedua bahu Sherly. “Itu intinya Sher… bikin foto seksi pake kebaya ini.”
Sentuhan Pandu entah kenapa membikin Sherly teringat lagi orgasme waktu itu. “Tapi entar beneran dibayar yaaa…” pinta Sherly.
“Pasti Sher… sekarang buka kembennya ya?” bujuk Pandu.
Sherly masuk ke ruang ganti untuk mengubah penampilan seperti yang diminta Pandu. Agak repot berubah kostumnya karena yang diminta dibuka itu dalaman. Jadinya Sherly buka kebaya dulu, lalu buka kemben, dan memakai lagi kebaya tipisnya. Bahannya yang menerawang sama sekali tidak menutupi keindahan tubuh atas Sherly. Bahkan bentuk payudaranya terlihat jelas. Hanya saja putingnya tertutup ornamen payet di kebaya itu. Malu-malu, Sherly kembali ke tempat pemotretan dan mulai berpose. Pandu menjepret berkali-kali, sambil terus memuji keseksian Sherly. Kadang Pandu menunjukkan foto yang diambilnya ke Sherly dan bilang bahwa Sherly kelihatan cantik di foto itu. Dan sedikit demi sedikit Pandu berusaha mengurangi tutupan pakaian di badan Sherly. Pertama-tama kancing kebaya lepas satu demi satu. Kain penutup tubuh bawahnya juga diminta disingkap sehingga paha Sherly pun tampil utuh di kamera. Pandu terus mengarahkan dan memberi semangat

“Iya gitu posenya Sher” “Cakep Sher” “Yang tadi bagus banget” “Kamu bakat jadi model besar nantinya” “Senyum yang manis Sher!”
Dipuji seperti itu membuat Sherly makin pede. Sesudahnya Sherly makin santai dan foto-foto yang dibuat makin berani. Kainnya pun disuruh lepas, memperlihatkan bahwa di bawah kain itu Sherly memakai CD putih transparan. Pada satu pose, Pandu menyuruh Sherly berpose merangkak membelakanginya. Ketika berposisi itulah Pandu memperhatikan… ada yang basah! Sherly mulai terangsang! Pandu lalu menyuruh Sherly telentang dengan alasan mau memotret pose seperti itu dari atas. Sherly masih memakai kebaya tipis tapi bagian bawah tubuhnya hanya tertutup CD. Pandu berdiri mengangkang di atas tubuh telentang Sherly dan memotret terus.
“Buka kakinya Sher” perintah Pandu, sambil dia melangkah mundur. Sherly merenggangkan kedua pahanya, selangkangannya terbuka di depan pandangan Pandu. Pandu jongkok dan mengarahkan kameranya ke arah kemaluan Sherly.

Kunjungi JUga CeritaSexHot.Org

“Lebarin lagi,” suruh Pandu sambil memegang dan merentangkan paha Sherly lebih lanjut. Pandu bisa mendengar nafas Sherly memburu ketika selangkangannya yang basah di balik CD dipotreti Pandu dari dekat. Si model itu malah nafsu ketika difoto dalam posisi tak senonoh. Tanpa terasa Sherly jadi nafsu lagi ketika difoto. Rasa malu sudah hilang dalam diri gadis muda itu, yang ada malah sisi liar yang pelan-pelan terkuak dalam dirinya akibat pujian dan tatapan nafsu dari si fotografer. Sherly sudah mulai berimprovisasi dengan pose yang lebih menantang. Dada ditonjolkan, bibir dibasah-basahkan dan senyum nakal menggoda. Sherly malah tak butuh berpikir lama saat sang fotografer meminta dia melepas sisa penutup tubuh sexynya. Tanpa protes Sherly mencopot kebaya tipis dan CD. Tampaklah vagina yang masih sempit dan berwarna merah segar itu. Ada jeda sebentar ketika Pandu menikmati pemandangan indah itu, sebelum akhirnya kembali lanjut mengabadikannya dalam foto. Fokus jepretan adalah ke daerah di sekitar selangkangan gadis berusia 18 tahun tersebut. Bulu kemaluan si model yang nampak kontras dengan kulitnya yang putih mulus menjadi sasaran kameranya.  Sherly benar-benar enjoy dan relax saat ini. Rasa malu sudah hilang. Ada kebanggaan tersendiri di dalam diri gadis muda itu saat menyadari dirinya dikagumi oleh lelaki. Apalagi Sherly tahu kalau Pandu sudah konak melihat kepolosan tubuhnya saat itu. Dia bisa menyaksikan tonjolan di balik celana fotografer itu.
“Gimana bagus ga poseku bang?” tanya Sherly.
“Bagus banget. Sumpah, aku suka banget Sher.”
“Kalau suka berarti nanti honornya dobel dong. Hehe….”
“Asal kamu mau nurut, honor tambahan ga masalah.”
“Siap Bos…” jawab Sherly.
Kemudian Pandu mulai berani menyentuh vagina gadis itu. Diusap-usapnya liang sempit itu, dengan alasan biar basah dan bagus ditangkap kamera. Malah Pandu meminta Sherly untuk menggosok-gosok vaginanya sendiri sambil difoto. Trik si fotografer berhasil, karena Sherly makin lama makin horny. Rasa canggung melakukan masturbasi di depan orang lain sudah hilang. Yang ada malah rasa nafsu yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Bagaimanapun dia adalah gadis muda normal yang nafsunya cepat naik saat berduaan telanjang seperti ini.

“Ini saatnya,” kata Pandu dalam hati.
Dia mulai berani memajukan wajahnya ke Sherly. Sherly yang sudah terangsang tak bisa menolak saat fotografer cabul itu melumat bibirnya. Mereka melakukan french kiss. Pandu kemudian mengarahkan tangan gadis itu ke celananya. Sambil berciuman dengan hot, si model amatir itu meremas batang Pandu. Pandu keluarkan penisnya dari celana, Sherly bisa melihat batang kokoh itu. Belum sempat gadis itu memegang kontol Pandu, Pandu sudah menggerakkan badan dan siap mengarahkan kontolnya ke liang gadis itu. Sherly kontan bergerak menolak saat Pandu menggesekkan batangnya.
“Jangan Bang. Ga mau sejauh itu…”
“Ayolah sherly. Kita berdua udah sama-sama horny nih. Ayo kita tuntasin, sayang…”
Tapi Sherly masih menolak dengan tegas. Dia tak mau dicap gadis gampangan. Pandu berusaha membujuk gadis itu dengan diiming-imingi bayaran asal mau menurut. Lama-lama Sherly goyah juga. Dirinya memang sedang butuh uang. Cerpen Sex
“Okelah bang. Tapi jangan ML ya. Aku sepong aja gimana?”
“Ya udah kalau gitu,” kata Pandu sambil menarik kepala gadis itu dengan kasar ke batangnya. Dia agak kesal karena belum dapat menembus pertahanan Sherly sepenuhnya.
Sherly menatap sebentar batang hitam besar itu sebelum akhirnya memasukkan batang Pandu ke bibir mungilnya. Penis di mulutnya ia hisap, oral sex bukan hal yang aneh buat gadis seperti dia, maka ia pun menggunakan semua pengalamannya dalam urusan sex, agar semuanya cepat selesai.
“Arghhhhhhh…” desah Pandu menikmati perlakuan Sherly.
Sherly menahan bau penis itu dengan berkonsentrasi mengulum. Penis Pandu ia hisap dari pelan lalu keras lalu pelan lagi, diselingi pula dengan jilatan-jilatan yang membuat Pandu belingsatan. Kemudian Pandu minta mengubah posisi jadi 69 dengan pria di atas. Dia juga ingin menikmati vagina gadis itu. Sherly sepertinya tak punya pilihan dan membiarkan Pandu menaiki tubuhnya.
“Memek super nih…” kata fotografer itu. Pandu benar-benar mengagumi meki Sherly yang memang OK punya, masih kelihatan garis vertikalnya dengan kelentit yang sungguh imut dan mengeras. Segera Pandu meremas pantat Sherly dan menjilat perlahan paha dalam Sherly sebelum memasuki area vagina. Sherly melenguh, dan fotografer itu makin terangsang dengan suara sang model yang sendu. Sherly memainkan penis Pandu yang menggantung dengan mulutnya. Sedangkan Pandu sibuk melumat vagina Sherly, sampai membuat paha mulus sherly menegang dan menjepit kepala fotografer cabul itu. Benar-benar pemandangan yang sanggat menggetarkan jiwa. Kalau saja cowok Sherly melihat, bisa-bisa kedua orang ini dibunuhnya karena kalap.

Sherly yang makin terangsang karena mekinya dikerjai Pandu makin lama makin meningkatkan permainannya juga. Penis si fotografer yg besar dan panjang itu dikocok dengan cepat dan kepalanya langsung dijilati, diisap-isap, dikelamuti dan diemut-emut. Kadang penisnya dimasukkan mulut sampai hampir separo dan kemudian dikenyut-kenyut dengan mulut dan lidahnya. Pandu yang sudah punya jam terbang tinggi menghentikan sejenak aktivitasnya lalu menghadap Sherly. Dia tahu Sherly sudah sangat terangsang. Ini saatnya dia menikmati hidangan utama dari semua “perjuangan”-nya beberapa hari ini. Dilihatnya wajah gadis itu sudah merah karena horny.
“Kamu sudah horny banget ya. Jadi gimana nih kelanjutannya…” Pandu menggoda Sherly dengan menggesekkan penisnya ke vagina Sherly yang basah. Sherly hanya diam saja sambil menggigit bibirnya. Walau sudah terangsang, dia masih tetap jaga image untuk tidak minta duluan.
Pandu terus menggoda sherly, sambil membisiki Sherly, “Mau nggak… kalo mau minta dong.” Pandu mau membuat Sherly minta dicoblos sendiri. Sentuhan ujung penis Pandu di bibir vagina sherly membuat Sherly menggeliat. Gesekan-gesekan Pandu di luar vaginanya membuat Sherly akhirnya luluh, dia sudah tak peduli dengan tawaran bayaran Pandu. Dia minta dimasuki.
“Ayo masukin Baaang… Sherly sudah ga tahan!” gadis itu meminta.
“Masukin apa sayang?” Pandu masih tetap menggoda.
“Masukin kontol abang ke memekku… Cepetan. Please!” pinta gadis itu.
Pandu tertawa penuh kemenangan. Dan perlahan tapi pasti, fotografer itu mulai mendorong pantatnya maju, membuat penisnya menyeruak masuk ke dalam vagina Sherly secara perlahan-lahan. Sherly meringis menahan sesak pada vaginanya. Vaginanya masih sempit, terlalu kecil untuk dimasuki penis yang berukuran di atas rata-rata itu. Pandu sendiri merasa kesulitan saat memasukkan penisnya ke dalam vagina Sherly. Dia merasakan jepitan vagina Sherly begitu kuat, seperti melawan desakan penisnya, tapi dengan satu dorongan kuat, penis si fotografer akhirnya amblas seluruhnya di dalam vagina Sherly.
“Ahhhkk…” Sherly merintih kecil merasakan sesuatu yang besar memenuhi liang vaginanya yang sempit.
“Ehhh… akhirnya masuk juga…” fotografer itu mengerang lirih. “Gila, memekmu masih kenceng banget… jarang dipake sama cowokmu ya?”
Pandu sedang meresapi nikmatnya jepitan vagina Sherly yang masih sempit untuk beberapa saat. Baru kemudian secara perlahan si fotografer mulai menggoyangkan pantatnya, melakukan gerakan memompa untuk menggenjot vagina Sherly dengan penisnya, mula-mula pelan, tapi saat vagina Sherly mulai terbiasa oleh penisnya, dia mulai mempercepat genjotan.

Baca Juga Cerita Sex Burung Mudaku

Badan Sherly terguncang-guncang keras maju mundur, kakinya mengejang-ngejang dan menyentak-nyentak, kedua payudaranya bergoyang cepat, kepalanya terdongak ke atas, dan bibirnya terkatup rapat antara menahan sakit dan sensasi yang dirasakan di dalam vaginanya. Melihat itu Pandu jadi makin nafsu, sambil terus menggenjot vagina Sherly dia juga menciumi dan menjilati payudara Sherly sambil sesekali bibirnya mengulum puting susu Sherly. Kenyotan bibir si fotografer pada payudara Sherly menimbulkan sensasi baru dalam tubuh Sherly, membuat gerakannya menjadi semakin liar.
“Aaahhh… ooohhhhh… aaahhhh…  ooohhhh…” desahan keras Sherly mulai terdengar manja.
Rasa sakit pada vaginanya sudah hilang dan digantikan oleh kenikmatan yang luar biasa. Pandu sangat lihai memainkan penisnya, ditambah lagi kata-kata Pandu yang memuji sekaligus mengintimidasi Sherly yang membuat gadis itu makin melayang. Sungguh kenikmatan yang tiada tara bagi Sherly. Setelah 10 menit, si fotografer menyuruh Sherly menungging di atas sofa, lalu kembali diserangnya vagina Sherly dari belakang seperti seekor anjing. Kedua tangan kekarnya memegang pinggul Sherly dan menariknya hingga posisi pantat Sherly kini merapat dengan pinggul si fotografer, membuat penis Pandu membenam seluruhnya di dalam vagina Sherly.
“Aaghhhhh!” erang si model dengan mata terpejam ketika penis Pandu mulai memasuki tubuhnya.
Lalu mulailah Pandu menggenjot kembali vagina Sherly dengan kedua tangan memegangi pinggul Sherly. Dia mulai memaju-mundurkan kemaluannya mulai dari irama pelan kemudian makin cepat sehingga membuat tubuh Sherly tersodok-sodok dengan kencangnya.
“Aahh… aahh… aahhh… oohh… oohh…” Sherly kembali menjerit-jerit saat Pandu menggenjotnya lagi.
Tubuhnya sekarang basah oleh keringat. Payudaranya yang menggantung indah bergoyang-goyang seirama genjotan si fotografer itu. Perlahan Pandu mulai menjamah payudara Sherly dari belakang, sambil terus menggenjot vagina Sherly. Dia juga meremas-remas payudara Sherly. Erangan-erangan Sherly semakin keras, badan dan kepala semakin bergoyang-goyang tidak beraturan mencari titik-titik nikmat di dalam vaginanya.
“Ahhhhh… terus… sodok… bang… Ahhhhhh….”
Sherly semakin larut dengan permainan lelaki itu pada vaginanya. Pandu memompa vagina Sherly dengan cepat kemudian melambat dan cepat lagi, begitu seterusnya. Ini membuat Sherly semakin mendesah-desah keenakan, lelehan cairan kewanitaannya sudah keluar dan membasahi kedua paha bagian dalam Sherly.

Saking larutnya dalam permainan, tanpa sadar Sherly menggerakkan pinggulnya apabila si fotografer dengan sengaja menghentikan genjotan pada vagina Sherly. Sherly dibuat melayang-layang. Sungguh kenikmatan seks yang belum pernah dia dapatkan dari Lucky pacarnya. cerpensex.com Kalau sedang seperti ini, Lucky pasti sudah keluar dari tadi. Tapi Pandu berbeda, dia masih bertahan memuaskan gadis muda itu. Sherly menggerakkan badannya sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam ke liangnya. Dia sepertinya sudah mau orgasme. Mengetahui Sherly sudah di ambang klimaks, tiba-tiba Pandu melepaskan pelukannya dan berbaring telentang. Disuruhnya sherly membalikkan badan, berhadapan dengannya. Sherly harus mengakui stamina fotografer cabul ini sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsunya yang menggebu-gebu. Pandu memberi isyarat sambil menunjuk batangnya yang perkasa agar dinaiki Sherly. Sepertinya Pandu membiarkan gadis manis itu untuk mencari kepuasan sendiri dalam gaya woman on top, yang memang disenangi Sherly. Tanpa ragu si model amatir menuntun penis Pandu yang sudah mengeras ke arah vaginanya dan Sherly mengambil posisi menduduki perut Pandu yang buncit. Dengan bernafsu Sherly menggoyangkan pinggulnya diatas tubuh gempal itu. Sherly sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap dia menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggama sungguh membuatnya seperti terbang ke awang-awang.
“Ahhhh… ahhhhh… ahhhhhh…” desah gadis itu sambil menaikturunkan tubuhnya. Payudaranya yang besar itu naik turun seirama goyangan tubuhnya. Benar-benar pemandangan yang menggiurkan.
“Ayo… goyang Sher… oohh!” Pandu sepertinya ketagihan dengan goyangan gadis itu. Pandu meraih kedua bukit mulus itu, meremas dan memilinnya, sehingga membuat Sherly makin liar saja.
“Hebat banget goyangan kamu Sherly. Kapan pertama kali ngentot?” tanya Pandu sambil tetap meremas dada gadis yang sedang “bekerja” itu.
Sambil menggoyangkan pinggulnya, Sherly menjawab terbata-bata, “Dulu di… SMA… hhhmmmhh… pas kelas… dua… aah…!” jawabnya.
“Sama siapa?”
“Sama… kakak kelas… ahhhhh…” desah Sherly dengan tertahan karena takut suaranya kedengaran sampai keluar ruangan studio foto.
Dia makin liar memacu dan menggoyangkan pinggulnya. Pandu juga ikut melenguh keras saat merasakan vagina Sherly berkontraksi hebat seolah menyempit mencengkeram penisnya. Dilihatnya wajah Sherly merah padam menahan desakan orgasme.
‘Oh… bang… Sherly… mau ke… lu… ar… rrrrr!” jerit Sherly.
Pandu juga merasakan akan segera orgasme. Sekitar 2 menit kemudian, akhirnya fotografer itu mengirimkan hentakan yang cukup keras disertai lenguhan panjang. Demikian pula halnya Sherly yang mencapai klimaks secara bersamaan, matanya membeliak dan tubuhnya berkelejotan. Ketika Sherly memandang ke depan, dilihatnya wajah fotografer itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum kenikmatan karena telah berhasil menikmati modelnya sendiri.Cerpen Sex

===

Sesudah beristirahat, mereka akhirnya bangkit, bebersih, dan berpakaian. Sherly agak lama bebersih di kamar mandi karena dia sekalian menghapus rias wajahnya. Kemudian dia kembali memakai baju biasa. Ketika keluar lagi, dia melihat Pandu menonton foto-foto di kamera.
“Besok mampir sini Sher, kita lihat bareng foto-fotonya yang udah diolah,” pesan Pandu. Sherly tak memperhatikan itu.
“Bang, bayaranku?” pintanya.
“Oh, iya,” kata Pandu, lalu dia merogoh dompetnya. Sepuluh lembar seratus ribu disodorkan. Sherly menghitungnya.
“Delapan… sembilan… sepuluh… Kok cuma sejuta Bang?? Kurang nih!” protes Sherly. “Kan kemarin yang belum dibayar lima ratus, terus buat shoot yang ini lima ratus, sama tadi… tadi Bang Pandu ngejanjiin sejuta lagi kalau kita…”
“Sori banget Sher! Adanya baru segitu. Tadi Citra baru bayar DP aja, jadi duitnya yang ada ya segini. Makanya besok kamu datang, ntar aku bayarin deh sisanya!” Pandu ngeles, padahal sebenarnya dia sengaja mengikat Sherly.
“Awas ya Bang. Beneran dibayar loh! Kalo enggak…” ancam Sherly, tapi wajah gadis itu senyum-senyum karena merasa kemaluannya ngilu seperti masih ada penis di dalamnya.
“Kalo enggak apa?” goda Pandu.
“…Ada deeh,” Sherly balas meledek. Pandu tertawa dan merangkulnya.
“Yaudah, makasih ya buat hari ini. Ntar biar Kosim yang antar kamu pulang.”– Cerita Sex Indonesia ; Cerita Sex Panas ; Cerita Bokep ; Cerita Sex ; Cerita Panas Indonesia ; Cerita Dewasa ; Cerita Seks.