CerpenSex

Cerpen sex versi Indonesia

9 Tahun

Comments Off on 9 Tahun

Cerpen Sex 9 Tahun

Cerpensex | Masih ingat pengalaman pertamaku dengan pacarku Yati, pada “Kenikmatan Pertama”? Kali ini aku akan
melanjutkan cerita nyata kehidupanku selanjutnya.
Setahun sejak peristiwa 14 November 1994, aku dan Yati masih berhubungan dan banyak menghabiskan waktu
dengan pacaran dan menikmati indahnya cinta kami. Banyak sudah pengalaman seks kami mulai dalam
kendaraan umum, di rumah temennya, tempat wisata, di hotel dan yang paling sering di rumahnya.

Pernah dalam kendaraan umum luar kota, kuremas payudara montok Yati dengan liar, tentunya tidak ada
orang yang tahu dan tanganku sampai menyusup ke dalam celana dalamnya, dan yang paling hot adalah dia
pernah “karaoke” dengan kontolku dalam bis itu hingga spermaku ditelan habis olehnya. Bahkan di kawasan
wisata Tangkuban Perahu aku pernah berhubungan seks dengannya di rumah-rumah singgah bila kita lelah
berjalan, hanya dengan membuka sedikit resluiting celana panjangnya dan masih berpakaian lengkap,
kususupkan kontolku dalam memeknya, di tengah sejuknya udara Tangkuban Perahu. Sebuah pengalaman eksotis
saat kami berhubungan seks dalam suasana yang tergesa-gesa di tempat terbuka.

Setelah aku lulus dari PT, hubunganku dengannya sedikit agak renggang, dia sering keluar kota ke tempat
saudaranya dan aku yang kesepian dalam kesendirian tak tahu harus kemana, ini terjadi karena keluarganya
kurang begitu bisa menerima diriku, hingga suatu hari aku yang sudah bekerja di sebuah perusahaan,
mendapat telepon darinya, dia mengatakan ingin ketemu denganku, setelah disepakati kami bertemu di
tempat kostku yang tak jauh dari kantorku.

Di kamar itu sejadinya dia menangis dalam pelukanku, dua bulan kami tak ketemu kerinduan di hati kami
terasa sangat berat buat kami. Yang lebih sakit dari itu semua dia mengatakan bahwa dia sudah dilamar
seseorang dan keluarganya sudah menerima lamarannya tinggal menentukan hari pernikahan mereka.

Siang itu aku sangat menghargai dirinya, meski sebenarnya aku sudah ingin melampiaskan hasrat seks yang
sudah lama terpendam, namun kesedihannya membuatku urung untuk melakukannya. Kami hanya berciuman lama,
dan saling memeluk dengan erat, kurasakan tubuhnya agak sedikit kurus dan pantatnya pun tidak begitu
semontok dulu, tapi dengan rasa sayang aku tetap menguatkan dirinya dan kamipun memutuskan hubungan kami
dengan baik-baik dan tetap menyimpan rasa cinta di hati kami masing-masing.

Pada tahun 1997 dia menikah dengan orang lain dan saat ini di tahun 2003 aku baru mendengar bahwa dia
sudah mempunyai seorang anak dan akupun sudah menikah. Lewat telepon di kantor aku mengobrol banyak
dengannya, mengenang masa lalu, kulihat ada kebahagiaan dalam dirinya, meskipun masih ada rasa rindu
dalam hatinya, namun aku ikut berbahagia.

Suatu hari dia meneleponku di kantor dan menangis dalam telepon dia menceritakan ada masalah pribadi
yang tak bisa ditanggungnya sendiri, aku hanya diam mendengarkan sambil sedikit memberikan advise
buatnya, dua jam lebih kami ngobrol di telepon, hingga dia sedikit terhibur dan sudah bisa tertawa
mendengar gurauanku.
“Mas, kita ketemu yuk, aku rindu sekali sama kamu”, katanya pada akhir pembicaraan di telepon itu.
“Boleh, tapi tidak bisa sekarang aku lagi sibuk di kantor, nanti aku hubungi HP-mu ya, kita ketemu di
Bandung-nya dimana?, saat ini aku tidak di kota Bandung, tapi sudah bekerja di Jakarta”.
“Terserah kamu deh Mas”, aku tersenyum sambil mengenang masa pacaran kami dulu.

Saat itu kebetulan aku ada rapat di Bandung, jadwal tiga hari selesai cuma satu setengah hari, aku
memutuskan berpisah dengan rombongan dan menginap di sebuah hotel di Jalan Setiabudi kota Bandung.
Kutelepon HP Yati dan kami janjian ketemu di Gramedia Jln. Merdeka, kutunggu di lantai 2 sambil
melihat-lihat buku.

Baca JUga Cerita Sex Lain nya di CeritasexTerbaru.Net

Lima belas menit berlalu, kulihat jam masih pukul 9.15 pagi, kami janjian pukul 9 pagi. Tiba-tiba dari
eskalator kulihat seorang perempuan yang tak asing buatku, namun wajahnya sudah sangat berubah,
rambutnya yang dulu panjang terurai, kini lebih pendek hanya sebatas bahu, mengenakan paduan rok dan
baju senada warna kuning sungguh sangat cantik sekali bekas pacarku ini.

Kulitnya yang putih mulus masih terpelihara, badannya agak sedikit berisi dibanding dulu, dadanya
kulihat lebih membusung, pantatnya masih montok seperti dulu, satu hal yang pasti betis indahnya masih
putih dan sangat merangsang.

“Apa kabar Mas?, katanya perlahan sambil tersenyum dan menjabat lembut tanganku
“Kabar baik, kamu kelihatan lebih cantik sekarang”, kataku sambil tersenyum dan menjabat erat tangannya,
hmm masih mulus seperti dulu, batinku.
Wangi tubuhnya tak berubah, sungguh aku seperti orang yang jatuh cinta lagi dan terbawa kembali ke masa
lalu yang indah.
“Kita makan dulu yuk?”, ajakku kepadanya sambil memegang bahunya.
“OK, dimana?”
“Di sebelah aja, Hanamasa, ok?”
“Iya deh, jawabnya ringan.
Menuju ke tangga turun, kurangkul bahunya dan setelah jalan datar, kurangkul pinggangnya dan kulihat
dia tersenyum malu menatapku, pinggangnya masih ramping seperti dulu.
“Kamu rajin fitness ya?”, tanyaku sambil jalan.
“Emangnya kenapa?”
“tidak, badan kamu masih langsing dan berisi seperti dulu waktu pacaran”, kataku sambil senyum.
“Ih, ingat lho kita sudah punya anak!” katanya sambil mencubit perutku, kupegang dan kuremas tangannya.

Sambil makan, kami banyak bicara dan ngobrol tentang kehidupan kami masing-masing dan sesekali kami
mengobrol tentang masa lalu kami yang indah.
“Mas kamu kelihatan lebih dewasa dan matang sekarang, aku jadi kagum dengan perubahan kamu”
“Ah masa, kayaknya biasa aja, mungkin karena tuntutan pekerjaan harus seperti ini kali, yang pasti
kayaknya aku lebih matang lagi di ranjang, he.. he.. he..”
“Ih, beraninya, kayaknya untuk urusan yang satu ini kamu tidak berubah deh”, katanya sambil tersenyum
galak.
Sejujurnya, aku tidak ingin mengulangi masa lalu, cerpensex.com namun kerinduan dan suasana romantis yang ada membuat
kami jadi sama-sama lupa dengan status kami sekarang.

“Kita kemana nih?”, tanyaku sambil bersiap-siap keluar dari Hanamasa.
“Terserah kamu aja deh, tapi aku masih ingin ngobrol banyak sama kamu soal kemarin di telepon, cuman aku
hanya bisa sampai jam empat sore aja”, katanya.
“OK, kita naik taksi aja ya? kita ke hotelku aja di Jalan Setiabudi”, ajakku.
Kulihat dia agak bingung, antara ya dan tidak, tapi ada rasa ingin dalam dirinya. Dalam keraguannya
kupeluk pinggangnya dan kuajak masuk ke taksi yang sudah kustop di pinggir jalan.

Dalam taksi kami lebih banyak diam. Kuberanikan meremas tangannya dan tiba-tiba dia merapatkan duduknya
mendekatiku dan menyenderkan kepalanya di dadaku. Sesudah kubayar taksi, kami masuk ke kamar hotel,
lewat room service, kupesan dua jus alpukat kesukaan kami waktu masih pacaran dulu.

Sambil duduk dan menonton TV, kami mengobrol seputar kehidupan kami sekarang, dan diapun menceritakan
masalah keluarga yang dihadapinya. Aku sangat memahami kesedihan dan kebingungannya, akhirnya di kamar
hotel itu aku banyak memberikan nasehat untuknya dan diapun tiba-tiba duduk di sampingku dan memelukku
sambil menangis.

Ting-tong, bel kamar berbunyi, kubuka pintu dan kubawa masuk jus alpukat pesananku. Kutarik tangan Yati,
dan sambil berdiri kupeluk dirinya, diapun membalas pelukanku, kurasakan dadanya terasa hangat, perlahan
kuangkat dagunya kukecup lembut bibirnya kemudian kening dan matanya yang terpejam kukecup juga, sesaat
ujung hidungnya kukecup perlahan hingga bibirku kembali menyapu bibir lembutnya, ciuman bibir yang sudah
lama tidak kami lakukan, seolah ingin kami lampiaskan dengan penuh gelora siang itu, bibirnya kulumat
habis dan lidah kamipun beradu dengan dahsyatnya, sedotan dan pagutan bibir kami mengingatkan saat kami
berpacaran dulu.

Kunjungi JUga CeritaSexHot.Org

“Mas, kamu masih ingat kejadian tanggal 14 November dulu?”, katanya dengan mata sendu dan bibir yang
merekah.
“Saputangan biru bekas kesucianmu masih kusimpan sampai hari ini, aku masih menyimpan tanda cinta kita,
sayang”.
“Aku merindukanmu siang malam mas, aku selalu teringat semua kenangan yang pernah kita jalani, tapi
hanya untuk hari ini saja aku mohon padamu mas, sirami aku dengan cintamu mas, hilangkan sejenak haus
cinta dan rinduku mas, hari ini aku milikmu mas”, Yati perlahan membuka baju yang kupakai, kancing
kemejaku terlepas dan kupandangi Yati dengan penuh rasa cinta, diusapnya dadaku.
“Kamu kelihatan lebih seksi sekarang, mas”.
Perlahan pula kubuka baju kuning-nya, bahu itu masih sangat mulus dan tahi lalat kecil diatas
payudaranya masih terlihat seperti dulu, tubuh putihnya perlahan kuusap, BH krem yang dikenakannya
nampak begitu kecil untuk menahan payudara montok-nya, sembulan payudaranya yang begitu membangkitkan
gairah.
“Kuakui kamu sekarang tampak lebih menarik dan lebih montok”.

Kukecup bahunya perlahan dan kususuri leher putihnya dan kucium belakang telinganya, Yati nampak begitu
pasrah, sambil tangannya memeluk pinggangku. Tanpa tergesa-gesa, aku ingin memberikan foreplay yang
menyenangkan baginya, sambil kucium bibirnya, tanganku meraba pantatnya dan kurasakan pantatnya yang
lebih menantang dan pinggulnya kelihatan sekel dan berisi, rok yang dikenakannya perlahan kubuka, hingga
Yati hanya tersisa memakai sepasang BH dan celana dalam seksi yang hanya menutupi gundukan vaginanya.

Perlahan kembali kujilati bahu dan belakang telinganya, menyusur ke bawah sambil perlahan kubuka pengait
BH yang dipakainya, kelihatannya payudaranya yang lebih besar dibandingkan dulu tapi masih kelihatan
kencang dan tegak, mungkin karena fitness dan senam yang dilakukannya.Cerpen Sex

Tanpa kuremas terlebih dahulu, kujilati sekeliling payudara montok-nya perlahan dengan sapuan lidahku,
dari pinggir hingga memasuki ke area tengahnya, sebelum menjilati putingnya, kupindahkan sapuan lidahku
ke payudara sebelahnya, kulihat Yati merem melek dan mendesis menikmati jilatanku.

Sambil kujilati putingnya yang sudah tegak, tanganku yang satunya meremas dan membelai payudaranya yang
terasa kenyal, hangat dan mengencang, Yati kelihatan makin tak bertenaga, matanya meredup dan bola
matanya nanar dan kelihatan berair.

Sambil kujilati pentil dan kuremas payudaranya, kuturunkan celana dalam Yati dan kemudian pinggulnya
kupeluk dan kugendong Yati, pinggul montoknya kuangkat dan kupeluk pantatnya serta kubaringkan ke atas
ranjang.

Tubuh Yati yang montok itu kuciumi lembut, mulai dari bahu turun ke payudara agak lama, kuhisap pentil
yang sudah mengeras dan kuteruskan ke perut, pinggul dan kuputar serta kujilati pantatnya yang putih,
mulus dan sangat sekel itu. Sedikit kusibakkan jembut hitamnya dan kubuka pelan bibir vaginanya, rupanya
sudah sangat basah sekali, pelan kusibakkan jembutnya dengan bibirku dan lidahku mulai menjelajah bukit
venusnya, kelentitnya kujilat pelan dengan ujung lidahku. Foreplay di titik ini kulakukan agak lama
hingga pinggul dan pantat Yati bergerak-gerak hot sekali.

Aku tiduran di sampingnya, sementara bibirku mencium bibirnya, kulumat habis dan kusedot bibirnya dengan
pelan tapi mantap, Yatipun membalas ciumanku dengan ganas. Tanganku meraba dan meremas kedua payudara
montoknya dan selanjutnya kusedot pentilnya yang masih mengeras, sementara tanganku bergerilya ke arah
vaginanya dan kuraba kelentitnya dengan ujung jari telunjukku.

Mulutku masih bergerilya dengan lidah menjelajah bukit kembarnya dan menyedot pentilnya, sementara ujung
telunjukku memutar perlahan membentuk lingkaran kecil mengelilingi kelentitnya. Yati menggelepar dan
mengangkangkan pahanya lebar-lebar hingga vaginanya terkuak lebar, kepalanya menengadah keatas,
tangannya ada disamping kepala dan meremas sprei tempat tidur, tiba-tiba kurasakan pahanya bergetar
hebat dan sambil terpejam mulutnya mendesis.

“Hhhss.. maas enak sekali, rasanya mau pipis Mas.. ohh, Mass, Mass.. Mass..”
Ada sekitar tiga menitan Yati menggelepar dengan hot dan berteriak merasakan kenikmatan pertamanya,
hingga akhirnya terdiam dan mencium bibirku
“Mas, kurasakan dari awal, sentuhanmu begitu lembut dan jantan, setiap jengkal pori-poriku merasakan
kenikmatan yang tiada tara, kamu sekarang lebih pandai dan jantan sayangku”, katanya sambil mengusap
rambut dan dadaku.
“Sekarang giliranmu Mas, aku akan memberikan kenikmatan buatmu sayang”, kata Yati sambil bangun dari
tidurnya.

“Oh, aku sudah merasakan orgasme, tapi kamu masih pakai celana, kamu jahat ya..”, Kata Yati sambil
menarik ke bawah celana dalamku yang tak muat menutupi kontolku yang sudah berdiri kaku dari tadi.
“Mas, perasaan kontolmu sekarang lebih besar ya dulu aku masih ingat sepertinya etidak segede ini,
katanya sambil membelai dan menarik kontolku yang sudah mengeras dan kaku”.
“Sekarang kamu duduk bersender di sini Mas”, kata Yati sambil memasang bantal untuk senderan punggungku,
aku duduk dengan membuka pahaku lebar-lebar, sementara kontolku sudah berdiri tegak dan kokoh seperti
tugu monas. Memang kuakui kontolku agak lebih besar dibandingkan dulu, sembilan tahun yang lalu, banyak
yang kulakukan untuk menguatkan otot-otot kemaluanku dan kekerasannyapun kurasakan lebih keras
dibandingkan dulu.

Tangan lembut Yati mulai menggenggam lembut kontolku, jari-jemarinya kemudian menari mengikuti urat-urat
yang menonjol sepanjang batang kemaluanku, tiba-tiba pangkal kemaluanku ditekan dengan ibujarinya dan
kurasakan darah mendesir di batang kontolku, serr.. serr.. serr rasanya nikmat sekali, baru kali ini
kurasakan pijatan wanita yang sangat nikmat.

Dengan posisi didepanku, Yati mulai menjulurkan lidahnya mengikuti batang kontolku yang masih tegak
menantang dan kemudian dihisapnya helm kepala kemaluanku yang merah mengkilat, perpaduan antara hisapan
dan jilatan benar-benar merangsang dan memberian sensasi kenikmatan yang luar biasa.

Sementara tanganku tak tinggal diam, kuremas dan kuraba payudara montoknya, sesekali remasanku agak
keras hingga tubuh Yati menggelinjang. Kenikmatan oral seks yang disuguhkan Yati benar-benar membuat
darahku berdesir-desir, sedikit ngilu namun enak sekali, jilatan lidahnya masih menari-nari dengan
lincah, dan yang paling sensasional adalah saat lidahnya menjilat antara pangkal kemaluanku dan anus,
dimana ada gAris yang agak jelas, disitu titik yang sangat memberikan sensasi kenikmatan, dijilatinya
sepanjang gAris penghubung itu dengan ujung lidahnya dan efeknya kemaluanku seperti melonjak-lonjak dan
mengeras tegang sekali. Kuperkirakan sekitar lima belas menit aku merasakan kenikmatan seperti jika kita
naik jetcoaster naik turun dan berdesir merasakan kenikmatan.Cerpen Sex

Yati kemudian terduduk dan pinggulnya kuangkat hingga posisinya duduk berhadapan denganku, dan
kuposisikan kontolku yang sudah tegak berdiri keras sekali ke mulut vaginanya yang sudah membasah, dan
akhirnya perlahan-lahan
Bless.., turun sedikit demi sedikit, seinchi demi seinchi batang kontolku ditelan memeknya yang legit,
berlendir, hangat dan memcengkeram batang kontolku yang membesar, hingga akhirnya seluruh batangku
tenggelam dalam remasan memek legitnya.

Yati mendiamkan sejenak batangku di memeknya, tiba-tiba kurasakan empot-empot dari memeknya mencengkeram
batang kemaluanku, sungguh nikmat sekali, kurasakan darah mendesir di batang kemaluanku.
“Mas, kontolmu enak sekali, kurasakan ada yang mengalir di batangmu, seperti air mengalir”, Kata Yati
sambil duduk di atas batangku.
Akhirnya Yati mulai menaikkan dan menurunkan pantatnya, hingga batangku seperti dilingkari gelang-
gelang yang hangat dan mencengkeram batangku. Kadang perlahan, kadang cepat dan dilain waktu didiamkan
diempot-empot memeknya. Ada kurang lebih duapuluh menit Yati naik dan bermain di atas kontolku,
sementara tanganku meraba dan meremas payudaranya yang terasa makin keras dan kenyal sekali dengan
putingnya yang mengeras.

Tiba-tiba, Yati bergerak naik turun sangat cepat sekali, batang kontolku seperti diremas-remas dan
dibenamkannya hingga tenggelam habis seluruh batang kontolku dalam memeknya.
“Ohh.. ohh.. ohh, Mmmaass akuu keluaar lagi sayaang”, Yati memelukku erat sekali, kepalanya menyender di
bahuku dan kurasakan batangku seperti diremas-remas dengan keras sekali dan kurasakan ada kehangatan di
dalam memeknya.

“Mas, kamu sungguh hebat sekali, dua kali aku merasakan orgasme yang nikmat sekali, aku mencintaimu
sayang, aku sayang kamu Mas”, kata Yati sambil terkulai memelukku erat sekali, sementara aku belum
merasakan tanda-tanda akan orgasme, dan kontolku masih tegak berdiri keras di dalam memek legitnya.

“Kamu capek ya?”, tanyaku.
“Sekarang kamu dibawah ya, aku akan membawamu kembali ke puncak kenikmatan sayang”, kataku sambil
mengangkat pantatnya dan menidurkan Yati diatas ranjang itu.
Kubuka paha Yati, dan kelihatan bibir vaginanya kelihatan sedikit terkuak dan membengkak kemerahan
setelah kumasuki dengan batang kemaluanku. Perlahan pahanya kubuka dan Yati mengangkangkan pahanya
keatas hingga terlihat lubang memeknya menggunung menantang seperti serabi imut. Kuarahkan batangku ke
arah memeknya dan kelihatannya batangku membelah bibir memeknya yang kelihatan sempit menjepit batang
kontolku.

Bless.., perlahan kumasukkan batang kontolku, dengan vAriasi irama kadang masuk setengah, keluar, masuk
penuh, keluar dan seterusnya mengikuti irama yang konstan sekitar sepuluh menitan lamanya. Tiba-tiba
Yati menurunkan kangkangan pahanya ternyata dia menjepit pinggulku dengan kedua kakinya, seakan meminta
kontolku untuk dimasukkan sedalam-dalamnya. Kurasakan kontolku berdenyut-denyut seperti akan memuntahkan
sperma, kudorong dengan geRakan yang agak cepat, ada sekitar sepuluh sampai duabelas keluar masuk,
tiba-tiba CROOT.. CROOT.. CROOT..

“Ooohh.. Mass.. akku.. keluuaar.. laggii..”, Yati berteriak keras sekali sambil meremas sprei dan
menutup matanya.
Aku mendaratkan tubuhku memeluk tubuh Yati yang terlentang dan kurasakan tetesan spermaku masih
mengalir di dalam memeknya, sungguh kenikmatan rruarr biasa, bersamaan kita merasakan orgasme, aku baru
yang pertama dan Yati sudah ketiga kalinya. Kulepaskan batangku dari dalam memeknya, kulihat banyak
sekali cairan menempel di batangku, campuran antara spermaku dan cairan vaginanya.

Sambil berbaring, Yati menyenderkan kepala di dadaku, rambutnya kubelai perlahan, sambil kupeluk erat
hangat tubuhnya, keringat di badan kami mulai membasahi sprei dan ranjang tempat tidur berantakan
seperti kapal pecah.
Kuambil jus alpukat di meja, kuminum setengahnya dan setengahnya kuberikan buat Yati, bibirnya
kelihatan berkumis jus alpukat, sambil kupeluk, “kumis” jus alpukatnya kulumat habis dan Yati tersenyum
memandangku.

“Mas, aku benar-benar makin kagum padamu, perpaduan antara kelembutan dan kejantanan yang kau berikan
sungguh tak terbayangkan, emang bener kamu sekarang lebih matang di ranjang”, katanya sambil melap
batangku yang basah.

Baca Juga Cerita Sex Demi HUtang

“Kamu juga hebat, memeknya masih legit dan jurus empot ayam yang kamu punya, sungguh istimewa sekali,
belum lagi ilmu ‘karaoke’mu yang makin merdu saja he he he”, kataku sambil memencet hidung kecilnya.
“Kita mandi yok?”, kata Yati sambil memeluk perutku.
“OK, kita mandi bersama di bathtub seperti dulu”, ajakku sambil menggendong tubuh seksinya menuju kamar
mandi hotel.

Siang menjelang sore itu, kami mandi bersama dalam bathtub. Kusabuni dan kumandikan tubuh mulusnya dan
diapun menyabuni seluruh tubuhku dengan lembut. Aku sedikit terangsang, batangku kembali tegak berdiri
dan dengan sabun tangannya mengocok batangku, hingga aku mengalami orgasme sekali lagi.

Selesai mandi, kami keringkan badan kami, hanya dengan balutan handuk kami masih melanjutkan obrolan
kami hingga waktu sudah menunjukkan jam 15.30 sore. Setelah berpakaian, kuantarkan Yati dengan taksi
sampai dekat rumahnya, sebelum turun dia mengecup bibirku dan berbisik perlahan, “Aku sayang kamu”.
Diapun turun dan melambaikan tangan padaku, kubalas, dan taksipun kembali ke hotel. Sore itu juga aku
berkemas dan menuju stasiun pulang ke Jakarta, hari yang indah telah kulalui.– Cerita Sex Indonesia ; Cerita Sex Panas ; Cerita Bokep ; Cerita Sex ; Cerita Hot ; Cerita Panas Indonesia ; Cerita Dewasa ; Cerita Seks.