CerpenSex

Cerpen sex versi Indonesia

Black Note 3

Cerpensex | Uang dan kekuasaan. Dua hal tersebut adalah ‘tuhan’ di negeri yang korup ini. Apapun bisa dilakukan dan terjadi dengan keduanya. Penjara yang seharusnya menjadi tempat yang dingin dan menyeramkan sekalipun bisa berubah menjadi ‘kamar hotel’ yang nyaman. Lihat saja mantan jaksa yang terlibat kasus suap BLBI dan telah divonis penjara, Urip Tri Gunawan. Alih alih ditempatkan di sel berjeruji, ia malah mendapatkan sebuah ruangan yang meski agak sempit namun lengkap dengan segala fasilitas yang menjamin kenyamanan. Kasur empuk plus selimut, televisi dan DVD player lengkap dengan setumpuk film kesukaannya ( termasuk didalamnya JAV movies ) dan juga lantai berkarpet tebal. Satu satunya yang masih mencirikan jika ruangan itu adalah penjara hanyalah sebuah pintu besi dan jendela berjeruji yang terletak tinggi mendekati atap. Urip tak mempermasalahkan ukuran ruangan yang tak terlalu besar. Yang penting baginya ia bisa menghabiskan masa hukuman dengan ‘nyaman’. Uang dan kekuasaan yang dimilikinya telah menjamin itu semua.

Baca Cerita Sebelumnya di Black Note 1 Dan Black Note 2

Salah satu previlige lain yang dimiliki Urip adalah dibolehkannya dia untuk menerima tamu kapan saja dan siapa saja tanpa ada batasan atau aturan apapun. Seperti halnya hari itu, Urip sedang menerima tamu khusus. Disebut khusus karena tamunya hari ini adalah juga terpidana kasus suap BLBI, ‘partner in crime’ nya, dia adalah si tante modis Artalyta Suryani (Ayin). Ayin pun sebenarnya sudah divonis penjara seperti halnya Urip. Namun kombinasi dari setumpuk uang, sepasukan pengacara tangguh dan sederet koneksi di kejaksaan membuat Ayin bebas keluar masuk dari tempatnya ditahan. Alasan yang digunakan adalah klise, yaitu sakit dan harus berobat. Bahkan dengan alasan fasilitas yang tak memadai, Ayin sudah mengantongi izin untuk berobat ke rumah sakit di Singapura.
“aku gak bakal balik lagi ke sini…” bisik Ayin pada Urip.

Tak adanya perjanjian ekstradisi dengan Indonesia membuat Singapura menjadi surga pelarian bagi para koruptor kakap negeri ini.

Urip memang sudah menduga jika Ayin akan merencanakan itu, karenanya ia tak terlihat terkejut. Urip hanya menanggapi seperlunya saja saat Ayin membeberkan rencana pelariannya dan mengatur skenario alibi bersama. Urip menganggap saat ini sebaiknya baik dirinya maupun Ayin mengurus diri masing – masing. Sikap dingin Urip rupanya membuat Ayin kecewa dan agak tersinggung. Ia pun meninggalkan sel Urip dengan ekspresi kesal dan mengomel tak jelas dalam bahasa Mandarin.

“mau lari ke neraka juga…peduli amat…!!!” gerutu Urip setelah Ayin pergi. Ia memang cenderung menyalahkan Ayin atas gagalnya ‘kerjasama’ mereka, apalagi terbongkarnya kasus merekapun disebabkan juga dengan tersadapnya sambungan telepon milik Ayin.

Sepeninggal Ayin, Urip duduk gelisah menunggu kedatangan tamunya yang lain. Ia berkali kali melirik jam di meja, tamunya sudah terlambat satu jam. Urip kian gelisah. Ia berbaring tak tenang untuk sesaat lalu bangkit dan menyalakan TV. Urip menatap layar TV tanpa minat, chanelnya terus menerus ia ganti hingga akhirnya bosan sendiri dan mematikan TV. Kembali melihat jam, tamunya sudah terlambat dua jam dari yang dijanjikan. Urip mendengus kesal dan menjatuhkan tubuhnya dengan keras ke tempat tidur. Matanya terpejam, entah berusaha untuk tidur atau hanya menenangkan diri saja.

Beberapa menit kemudian Urip terlonjak kaget saat pintu selnya terdengar terbuka, ia bangkit dan menatap penuh harap. Seorang penjaga masuk dengan bahasa tubuh layaknya seorang bawahan yang sedang menghadap atasannya.

”maaf pak….anu…tamunya sudah datang….”

”akhirnya….” Urip menghembuskan nafas lega , ” ya sudah…langsung suruh masuk…dari tadi kek…..”

”baik pak….permisi….”

Cerpen Sex Black Note 3 Sheila Marcia

Sheila Marcia

Penjaga itu segera menghilang di balik pintu dan tak lama kemudian berganti dua orang wanita cantik memasuki sel Urip. Saat masuk, kedua wanita itu menunjukan ekspresi wajah yang berlainan. Yang seorang terlihat santai dan terseyum manis sedangkan yang lain terlihat tegang dan tak nyaman sambil bersilang tangan di dada seolah hendak menutupi tonjolan payudaranya. Wanita kedua itu memandangi seluruh penjuru ruangan ruangan sel Urip dengan delikan sinis. Urip tak menyadari delikan tersebut, ia berdiri memandangi bergantian kedua wanita itu sambil bertolak pinggang .

Baca JUga Cerita Sex Lain nya di CeritasexTerbaru.Net

“kemana aja sih kalian…..harusnya kalian datang dua jam yang lalu…..??!!”

“sorry deh oom….” wanita pertama yang menjawab , ” soalnya tadi banyak wartawan…..bisa heboh kan kalo ada yang tahu…..ya gak mbak….??” disenggolnya teman disebelahnya. Yang disenggol hanya mengangguk pelan sambil tersenyum dipaksakan.

Kali ini Urip bisa melihat jika wanita kedua terlihat tak nyaman, namun Urip justru menyukainya. Ketidaknyamanannya justru menjadi poin plus bagi Urip. Selain itu Urip pun bisa memahami alasan keterlambatan mereka , bagaimanapun juga mereka adalah selebritis meski saat ini sedang bermasalah dengan hukum. Wanita pertama yang terlihat santai adalah Sheila Marcia, artis cantik yang terjerat kasus narkoba sedangkan wanita kedua yang terlihat tegang adalah Marcella Zalianty yang baru saja terjerat kasus penganiayaan seorang designer interior. Berbeda dengan Urip yang cukup nyaman dengan kehidupan ‘penjara’nya , bagi Sheila dan Marcella hidup di penjara sangatlah tidak menyenangkan. Bagi keduanya yang selebritis, mereka terbiasa hidup dengan berbagai kemudahan, glamoritas dan party sana sini. Dan ketika mendadak mereka harus terkurung di satu tempat dalam waktu yang cukup lama, senyaman apapun tempat itu, bukanlah sesuatu yang mudah dihadapi. Itulah sebabnya saat ada tawaran pengurangan masa hukuman dengan syarat harus melayani para pejabat dan orang penting yang berada dalam penjara, Sheila tanpa berpikir lama langsung setuju.

Cerpen Sex Black Note 3 Marcella Zalianty

Marcela Zalianty

Gaya hidup Sheila kesehariannya memang bebas terlebih lagi ia tinggal jauh dengan orangtua. Baginya memang tak masalah dengan siapa ia ‘tidur’ selama memberinya keuntungan. Sheila memang kerap ‘tidur’ dengan produser untuk mendapatkan peran utama dalam sebuah produksi film. Lain Sheila, lain pula Marcella. Baginya butuh waktu lama sebelum akhirnya memutuskan menerima tawaran itu meski berat hati. Tanpa bermaksud untuk munafik, namun Marcella memang cenderung pilih pilih untuk urusan sex. Selama ini Marcella hanya melakukannya dengan pacar pacarnya saja dengan alasan suka, mau dan tentu saja cinta. Tak pernah sekalipun dirinya ‘menjual diri’ untuk sejumlah uang ataupun peran dalam film. Namun kali ini situasinya lain, Marcella mengkhawatirkan kariernya jika terlalu lama di penjara. Marcella dan Sheila datang memakai pakaian yang secara spesifik telah diisntruksikan Urip sebelumnya. Sheila yang lebih muda , memakai seragam putih abu abu SMA dengan rok tinggi di atas lutut dan baju putihnya terbuka satu kancing. cerpensex.com Tak sampai memperlihatkan buah dada ataupun belahannya memang, namun tetap memberi kesan sexy. Untuk Marcella, Urip menyuruhnya untuk memakai pakaian tennis yang ternyata sangat cocok dengan postur tubuhnya yang tinggi semampai. T-shirt putihnya berpotongan leher rendah memperlihatkan sedikit belahan dadanya. Ukurannya yang begitu ketat , menonjolkan buah dada dan puting Marcella yang memang tak memakai pelapis apapun lagi. Roknya yang lebih pendek dari Sheila, begitu sempurna memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus. Urip tersenyum cabul dan menjijikan , menatap penuh minat kedua artis cantik dihadapannya. Dan Ia memutuskan untuk menikmati Marcella terlebih dahulu.

Iklan Sponsor :

Sikap Marcella yang agak rikuh membuatnya penasaran sekaligus bergairah. Tangan Urip terulur berniat hendak menyentuh payudara Marcella, namun secara refleks gadis itu menepisnya. Urip tersentak kaget, senyumnya langsung hilang. Marcella memandang Urip dengan pandangan tak senang, wajahnya terlihat bersusah payah menahan emosi. Sesaat situasinya mendadak menjadi sangat kaku.

“mbak….!!!” ,Sheila menyenggol Marcella dengan siku untuk mengingatkan.

Wajah Marcella mengendur meski masih menatap kesal. Sudut bibir Urip membentuk seulas senyum kemenangan. Sekali lagi tangannya terulur untuk menyentuh payudara Marcella. Dan kali ini tak ada perlawanan.

“hehehehe….”, Urip tertawa menyebalkan saat mulai meraba dan meremas payudara Marcella.

Iklan Sponsor :

Mata Marcella terpejam namun bukan karena ia menikmati sentuhan Urip melainkan karena menahan segala kegalauan yang ia rasakan dan mencoba membesarkan hati menguatkan mental. Urip mendorong tubuh Marcella hingga menyentuh dinding lalu kembali melakukan remasan dengan kedua tangannya sambil pula menciumi dan menjilati leher jenjang gadis itu. Harum tubuh Marcella semakin meningkatkan level birahi Urip.

“uuuhh…..” Marcella mengeluh pendek saat payudaranya diremas terlalu keras.

Batin Marcella kini bergejolak, ia mulai berpikir jika keputusannya menerima tawaran pengurangan masa hukuman dengan mantan jaksa ini adalah sebuah kesalahan.

”angkat tanganmu ke belakang kepala…”perintah Urip.

Kunjungi JUga CeritaSexHot.Org

Dengan enggan Marcella mengangkat tangan seperti orang yang sedang Ditangkap polisi. Tatapan matanya bercampur antara tak suka dan heran. Urip menyingkap perlahan t-shirt Marcella hingga sebatas leher. Dan tentunya sekarang ia lebih leluasa menggerayangi payudara artis cantik mantan bintang lux itu. Urip terlihat sangat menikmati sekali empuk dan kenyalnya bukit kembar yang begitu mulus dan putih bersih tersebut. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya Urip merasa puas bermain dengan payudara, kini ia menyuruh Marcella untuk berlutut. Tak perlu banyak kata, Marcella langsung paham apa yang dia harus lakukan. Dengan gontai ia melepas celana pria itu dan mengeluarkan penis yang terkurung di dalamnya. Sejenak Marcella menghembuskan nafas panjang untuk membuang seluruh keraguannya lalu penis itu ia masukan ke dalam mulutnya.

”ooop…aaapp……sabar dulu nona cantik….hehehehe….” Urip mendorong kepala Marcella menjauh, ” jilatin dulu dong…..biar enak gitu…hehehee….”

Cukup sudah ..!!! marcella kini tak lagi menyembunyikan kekesalannya. Ia bangkit sambil menatap Urip dengan marah.

“kenapa ..??? gak mau….??” Urip tetap terlihat tenang dan menantang, ” mungkin kamu lebih suka kalau melayani tahanan di blok timur..heh…!!!”

Tanpa direncanakan, Marcella refleks bergidik ngeri. Blok timur adalah tempat para kriminal sesungguhnya, pembunuh, pemerkosa, drug dealer, dan sejenisnya. Nasib Marcella jelas tak akan ‘seberuntung’ sekarang seandainya ia dimasukkan kesana.

Sadar tak ada pilihan yang lebih baik, Marcella kembali berlutut meraih penis Urip dan menjilatinya dengan setengah hati.

“nahh..hehehe..gitu dong…..kepalanya dong non..ujungnya jilat…yaaa..aahhh…yess…that’s it girl,,,thats it…!!! “Urip terus memberi instruksi yang dijalankan dengan patuh oleh Marcella.

Sambil terus menikmati jilatan Marcella , Urip memberi isyarat pada Sheila agar mendekat. Sheila yang sedari tadi hanya menonton saja, menghampiri dengan genit.

Tanpa banyak basa basi, Urip melepas seluruh kancing baju Sheila, meremas buah dada gadis itu sambil mencium bibirnya. Sheila menyambut ciuman itu dengan sama bernafsunya. Bibir keduanya berpagut ganas, remasan Urip di dada Sheila pun kian gencar. Melihat Urip mulai asyik dengan Sheila, Marcella mengentikan jilatannya dan langsung memasukan penis itu ke dalam mulutnya. Urip membiarkannya kali ini, namun dari gerak matanya, terlihat Urip merasakan sebuah sensasi kenikmatan yang tak biasa.

Berniat ingin segera mengakhiri semua ini, Marcella memberikan kuluman dan kocokan terbaiknya. Kepalanya bergerak maju mundur teratur, sedotan mulutnya yang begitu membuai jiwa dikombinasikan dengan pijatan tangan yang dahsyat. Efek kenikmatan yang luar biasa membuat Urip sejenak melepas ciumannya dengan Sheila untuk sekedar melenguh panjang mengekspresikan rasa nikmatnya. Sheila mengambil jeda tersebut untuk melepas seluruh pakaiannya dan memberi keleluasaan yang lebih lagi pada Urip untuk menggerayangi tiap lekuk indah tubuhnya.

”uuoohh..aahhhh..oom….aahhh…aaaahh…..sssshhaahh…..” Sheila mengerang erotis saat jemari Urip menggelitik vaginanya. Suasana sel tersebut makin ‘panas’ saja tiap menitnya.

Kuluman terbaik Marcella dan erangan erotis Sheila ternyata sangat efektif mengantarkan Urip mencapai puncak kenikmatan lebih cepat. Sejenak Urip melepas Sheila untuk berkonsentrasi pada Marcella. Kepala gadis itu ia dorong agar bergerak lebih cepat lagi. Marcella paham hanya beberapa saat lagi maka Urip akan klimaks, maka ia pun semakin bersemangat menggerakn kepalanya. Semenit kemudian Urip mulai merasakan tekanan dahsyat dari dalam tubuhnya. Seluruh persendiannya terasa menegang. Rasa dingin merinding turun dari tengkuk Urip dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

”aaaarrggghhh…..!!!!”

Urip menahan kuat kepala Marcella saat menyemburkan spermanya. Gadis itu kontan gelagapan apalagi saat cairan itu mulai memenuhi mulutnya. Marcella berusaha mendorong dan memukul mukul tubuh Urip karena ia mulai sulit bernafas. Saat berhasil melepaskan diri dari Urip, Marcella langsung terbatuk batuk mencoba meraih nafas sebanyak mungkin, sisa-sisa sperma menetes keluar dari mulutnya. Ia pun menangis marah sambil memukul lantai, tak mempercayai dirinya mau merendahkan diri seperti ini. Dalam hatinya ia menyalahkan Ananda Mikola dan Moreno yang membuatnya terjebak dalam situasi seperti ini.

“oom..kenapa oom…???” suara Sheila yang terdengar panik sedikit mengejutkan Marcella.

Iklan Sponsor :

Urip masih berdiri di tempatnya semula, mulutnya masih menganga dan tangannya terangkat mencengkram dada, seolah tersiksa oleh rasa sakit yang luar biasa.

“hhagggh……haaaggghhhh…hheeeakkgg…..”

Nafas Urip terdengar pendek pendek seperti sedang terserang asma. Sheila dan Marcella saling berpandangan sama sama tak menngerti apa yang terjadi. Marcella memberanikan diri mendekat dan menyentuh pundak Urip.

“hahaaaaaaaaggggggghhhkkkkk……..!!!!!!”

Urip mendadak melolong panjang kesakitan dan roboh ke lantai. Secara bersamaan Sheila dan Marcella langsung melompat mundur sambil menatap dengan ketakutan.

Nafas Urip masih terdengar pendek dengan jeda waktu yang semakin panjang, matanya melotot, wajahnya terlihat memerah mengerikan. Tangannya masih mencengkram dada.

Sheila yang semakin ketakutan segera saja menggedor pintu sel dan memanggil penjaga.

Hanya beberapa detik saja, seorang penjaga datang dengan sigap.

“ada apa….ada apa….???”

Saat penjaga itu masuk, ia tak langsung menuju Urip karena perhatiannya teralihkan pada tubuh Sheila yang telanjang dan payudara Marcella yang terlihat. Dan bukannya menolong , ia malah bengong memandangi keindahan yang jarang dilihatnya itu.

“itu….!!!!!” Dengan kesal Marcella menurunkan t -shirtnya lalu mendorong si penjaga ke arah Urip yang masih kelojotan di lantai. Barulah orang itu sadar apa yang terjadi dan segera keluar untuk memanggil dokter.
Beberapa jam kemudian hampir seluruh siaran berita di televisi di dominasi oleh kabar tewasnya mantan jaksa Urip Tri Gunawan di selnya karena serangan jantung. Beritanya semakin menghebohkan karena beberapa wartawan mencium keberadaan Sheila dan Marcella di tempat kejadian. Berita kematian Urip juga diikuti oleh berita kedua tentang jatuhnya pesawat Air Asia tujuan Singapura di Selat Sunda. Seluruh penumpang dan awak pesawat dipastikan tewas. Gagal mesin diduga sebagai penyebab kecelakaan tersebut. berita ini menjadi menarik saat diketahui ternyata Artalyta Suryani adalah salah satu penumpang pesawat tersebut. Namun yang paling mengejutkan ternyata adalah berita ketiga. Tak ada yang tak terkejut melihat berita ketiga, semuanya melongo tak percaya. Beberapa penonton yang lebih cerdas menyadari jika berita ketiga ini bisa memicu kekacauan yang luar biasa. Mereka bahkan khawatir berita ini bisa membuat sebuah de ja vu akan kerusuhan Mei 1998.Cerpen Sex

‘K’ pun menyaksikan siaran berita tersebut dan terlihat agak terpukul karena ini berarti dia kalah langkah. Dengan muram , ia memandang ’7′ dan ’11′ lalu berkata , “it’s a new level of black note…..damn it!!”
Ballroom Hotel Orion -sebuah hotel berbintang di Jakarta – siang itu sudah ramai oleh para tamu undangan yang menghadiri resepsi pernikahan. Bramantyo Hadi, seorang pengusaha muda yang sukses bergerak di bisnis otomotif merayakan pernikahannya dengan Dita Anastasya , seorang mahasisiwi tingkat IV sebuah universitas terkemuka di Jakarta yang juga merupakan teman sekampus Doni. Kedua mempelai terlihat sangat serasi sekali di pelaminan, pria tampan dan gadis cantik dibalut busana pengantin bernuansa putih. Khusus Dita, gaun pengantinnya yang setengah dada berpadu sangat pas sekali dengan kulitnya yang bersih, membuatnya terlihat semakin cerah dan terang. Dita memancarkan aura kecantikan yang membuat banyak pria merasa iri pada keberuntungan bram yang mempersuntingnya. Doni pun dalam hati mengakui jika hari itu Dita terlihat beberapa kali lebih cantik dari biasanya, namun hal tersebut tetap tak membuat Doni membatalkan rencananya. Kehadirannya di pesta itu bukan untuk mengagumi atau sekedar memberi ucapan selamat pada Dita. Doni hadir karena dendam. Dita adalah satu satunya perempuan yang tak bisa ia taklukan. Harta dan ketampanan yang selama ini menjadi senjata andalan Doni ternyata tak mempan terhadap Dita. Dita memang istimewa. Cantik, pintar, mudah bergaul dan aktif berorganisasi yang membuatnya menjadi banyak teman dan populer. Dan meski bergaul dengan banyak orang , Dita sungguh pandai menjaga diri dan kehormatannya. Prinsipnya tegas, no free sex, no drugs, no alcohol.

Dita sangat tahu siapa dan bagaimana Doni. Reputasinya sebagai ‘playboy kampus’ membuat Dita otomatis menjaga jarak. Harta dan ketampanan Doni tak membuatnya menjadi silau. Berbagai cara Doni lakukan untuk mendapatkan Dita, namun gadis itu selalu menolaknya dengan halus. Sangatlah beralasan Doni begitu ngotot mendapatkan Dita. Bahkan hampir semua pria di kampusnya jatuh hati pada Dita, apalagi setelah gadis itu terpilih sebagai ‘putri kampus’ dalam sebuah acara pemilihan yang digelar tiap akhir tahun ajaran.

Namun elemen yang paling membuat Doni tertarik pada sang putri kampus adalah keperawanannya yang ia yakini masih terjaga dengan baik. Doni ingin menjadi orang pertama yang merenggutnya dan menikmatinya. Tapi sekali lagi, Dita tak jatuh oleh segala tipu daya Doni. cerpensex.com Apapun yang Doni tawarkan tak membuat dirinya membuka hati pada pria itu. Bahkan lama kelamaan sikapnya mulai tak ramah lagi. Dita tak segan lagi menunjukkan ketidak sukaannya karena Doni terus mengejarnya. Ia mulai merasa terganggu oleh segala rayuan Doni setiap hari. Dan puncaknya suatu hari di perpustakaan. Dita yang sudah sangat kesal melempar buku yang dibacanya ke arah Doni seraya memakinya sebagai playboy kampung tak tahu malu. Suasana perpustakaan yang tenang membuat insiden sekecil apapun akan menjadi sangat kentara dan otomatis menjadi pusat perhatian. Doni menjadi bahan tertawaan orang orang disana dan seolah belum cukup membuatnya malu, seorang satpam dengan lagaknya yang sok penting mengusir Doni keluar. Rasa malu dan marah menggunung di dada Doni, bibit dendam mulai tumbuh. Sejak saat itu Doni memang tak lagi mendekati Dita, namun ia terus berpikir untuk membalas penghinaan yang dirasakannya saat di perpustakaan itu. Dan sekarang adalah saatnya. ‘black note’ akan membantunya membalaskan dendam. Doni pun tersenyum saat melihat ke arah pelaminan. Tak diragukan lagi , efek ‘black note’ mulai bekerja.
Dita mendadak terlihat gelisah , berkali kali ia merubah posisi duduknya. Sesekali ia menggigit bibir, dahinya berkerut seperti sedang menahan sesuatu.

“kamu kenapa sayang…” tanya Bram dengan suara pelan saat melihat Dita bersikap aneh.

“engg..enggak kok…ini…emmm…..perutku gak enak…..” jawab Dita berbohong.

Bukan perutnya yang bermasalah melainkan seluruh bagian sensitifnya. Buah dada dan vaginanya mendadak terasa ‘gatal’ ingin sgera disentuh. Birahinya mendadak naik begitu cepat. Tanpa bisa dicegah , bayangan indah dan nikmatnya malam pertama memenuhi kepala Dita.dan itu sungguh menyiksanya. Saat Bram melirik cemas, Dita segera memegang perut untuk memberi kesan seolah ia memang sedang sakit perut. Dan dengan gerakan ‘tak sengaja’ jempol Dita menyentuh payudaranya sendiri. Satu sentuhan kecil namun efeknya luar biasa. Sebuah aliran dingin berdesir cepat ke seluruh tubuh Dita. Perasaannya makin kacau diterror birahi yang terus meninggi. Nafasnya mulai tak teratur.

Akhirnya Dita tak tahan lagi, ia meremas sebelah payudaranya sambil memejamkan mata.rasanya begitu nyaman dan nikmat sekali. Bram jelas terkejut melihat sikap Dita , dengan cepat Ditariknya tangan istrinya itu sambil menegurnya dengan suara pelan namun tegas, “Dita….!!!!”

Bram memandangi Dita dengan perasaan aneh , apapun yang dirasakan istrinya saat ini diyakininya pastilah bukan sekedar sakit perut. Bram ingin bertanya lebih lanjut, namun sepasang tamu datang naik ke pelaminan untuk memberi ucapan selamat. Bram pun hanya menepuk bahu Dita dan berharap istrinya bisa menjaga sikap. Tamu yang naik adalah Anneu, teman kampus Dita yang datang bersama pacarnya yang sekilas mirip pemain sinetron Teuku Wisnu.

“selamat ya Dita honey…..” Anneu menyalami Dita, cipika cipiki lalu memeluknya.

Apa yang dilakukan Anneu sebenarnya hal yang wajar dan biasa antar teman. Namun bagi Dita yang sedang dialnda birahi hebat, rasanya menjadi sangat berbeda. Hampir saja Dita tak mampu menahan hasrat untuk mencium bibir sahabatnya itu, namun untungnya ia masih bisa mengendalikan diri. Alih alih mencium, ia memeluk erat tubuh Anneu sehingga buah dada keduanya saling menekan. Meski terkejut, Anneu tak merasa curiga. Ia mengira jika pelukan erat ini adalah luapan ekspresi kegembiraan. Masalah baru muncul ketika pacar Anneu menyalami Dita. Pria itu sebenarnya hanya berniat bersalaman saja karena ia pun tak terlalu mengenal dekat Dita. Namun justru Dita mendadak memeluknya erat dan diikuti dengan mencium bibirnya. Sentuhan tangan soerang pria tampan akhirnya membuat pertahanan Dita akhirnya jebol juga. Seisi ballroom medadak hening untuk sesaat, bahkan wedding singer pun berhenti bernyanyi padahal lagunya belum selesai. Suara bisik bisik mulai terdengar disana sini yang kemudian semakin ramai bagaikan suara dengungan lebah. Di pelaminan, suasananya lebih menegangkan lagi. Anneu dan bram menatap pasangan masing masing dengan curiga dan marah. Pacar anneu terlihat sangat canggung dan salah tingkah karena ia sendiri tak tahu kenapa Dita menciumnya. Belum sempat ada yang buka suara .tiba tiba Dita berlari meninggalkan pelaminan dan keluar melalui pintu samping. Saking terkejut dan terpananya, tak ada seorangpun yang berusaha mencegah Dita. Barulah beberapa detik setelah Dita menghilang di balik pintu , mereka sadar seharusnya mereka mengejar Dita. Dipimpin oleh Bram yang berlari paling depan, beberapa orang segera berusaha mengejar Dita. namun gadis itu sudah tak terlihat lagi.
Dita tak tahu atau merencanakan untuk lari ke basement tempat parkir, namun hati dan langkah kakinya telah membawanya kesana. Dan ledakan birahi itupun kembali terasa bahkan lebih parah. Dita duduk terpuruk bersandar pada sebuah mobil. Tangannya menyusup masuk dari bagian atas gaun pengantinnya untuk meremas langsung buah dadanya sendiri. Satu tangan lainnya tanpa ragu menyingkap bagian bawah gaunnya, menyelipkan tangan ke balik celana dalamnya dan mulai menggelitik vaginanya.

“ooohhmmmmhh……” Dita mendesah nyaman. Matanya terpejam, mulutnya sedikit terbuka.

Dita bahkan sudah tak peduli lagi jika ini adalah tempat umum dimana seseorang bisa saja muncul dan memergokinya. Justru dalam pikiran Dita saat ini, ia berharap ada yang memergokinya , menyeretnya ke kamar mandi dan memperkosanya disana. Wajahnya terlihat meringis seakan hendak menangis meski sebenarnya ia sedang meresapi kenikmatan yang sedang dirasakannya saat ini. Tangannya terus sibuk menggelitiki vagina dan meremas buah dadanya sendiri. Namun keasyikan Dita sontak terganggu saat suara suara bernada panik terdengar memanggil namanya. Dita mengintip dari balik mobil dan melihat Bram berikut beberapa anggota keluarga lain sedang mencarinya. Merasa birahinya masih belum terpuaskan sekaligus pula menghindari banyak pertanyaan, Dita enggan untuk segera kembali atau cepat ditemukan oleh keluarganya. Dengan menenteng alas kakinya agar tak bersuara, Dita berjalan merunduk diantara mobil mobil, menghindari para pencarinya. Meski bergerak dengan hati hati, namun Dita bergerak tanpa tujuan yang pasti selain terus kucing kucingan dengan keluarganya di antara deretan mobil yang diparkir. Sampai akhirnya Dita pun terkepung, kemanapun ia bergerak pasti akan ada yang melihatnya.Cerpen Sex

Dengan panik Dita memandang sekeliling mencari jalan keluar lain namun tak ada. Hampir saja Dita memutuskan untuk menyerah saja ketika ia menyadari jika ia saat ini sedang bersembunyi di balik sebuah mobil box yang berukuran agak besar. Dan yang terpenting pintu box mobil itu tak tertutup rapat. Tanpa banyak berpikir juga tanpa suara, Dita membuka pintu box dan melompat masuk kedalamnya. Jantungnya berdebar keras saat mendengar suara suara langkah yang mencarinya terdengar di sekitar mobil box tersebut. Tangan Dita kuat memegang handle pintu seolah hendak menahan sekuat tenaga jika seandainya ada yang berusaha membukanya. Namun ternyata tak ada seorangpun yang terpikir untuk memeriksa mobil box tersebut. Mereka bahkan tak menyadari jika pintu box tersebut tak tertutup rapat. Mereka hanya berkeliling di sekitar mobil lalu bergumam kecewa saat tak menemukan apa apa. Langkah langkah kaki terdengar menjauh membuat Dita merasa sedikit lega.

“uhuk..uhuk…ehemm…!!”

Suara batuk di belakangnya menyadarkan Dita jika ia tak sendiri di dalam mobil box tersebut. Seorang pria lusuh berusia lewat 40-an terduduk melongo memandanginya. Nyaris tak ada yang ingat nama asli pria itu karena selama bertahun tahun orang memanggilnya Petot. Hari ini, Petot bersama Entang ( supir ) dan Udin ( kenek ) baru saja mengantarkan barang pesanan hotel. Dan sementara Entang dan Udin naik ke lantai atas untuk mengurusi uang jasa mereka. Petot lebih memilih beristirahat sejenak di mobil.

Ia sedang tidur tidur ayam di atas tumpukan kardus gepeng saat merasakan mobilnya berguncang. Semula ia mengira kawan kawannya telah kembali namun ternyata yang muncul adalah mahluk cantik berbusana pengantin yang langsung membuatnya terpana. Reaksi yang langsung terlihat jelas adalah celana pendeknya yang mendadak menggembung, apalagi Petot tak menggunakan celana dalam. Petot dan Dita sesaat hanya saling memandang sama sama terkejut.

Dita lantas tersenyum sambil merangkak mendekati Petot sambil menaruh telunjuk di mulutnya , ” ssssstttt…..!!!”

Petot yang masih terbengong bengong hanya mengangguk patuh bagai boneka saat Dita menyuruhnya untuk diam. Dan Petot pun semakin melongo saat penisnya dielus elus oleh Dita.

“sssshhh…..!!!” sekali lagi Dita memberi isyarat Petot untuk diam, kali ini dengan sedikit lebih mendesah.

“he eh..he eh…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Petot. Sekilas ia malah mirip orang yang cacat mental.

Dan jangan pernah membayangkan seperti apa ekspresi Petot saat celananya diturunkan oleh Dita untuk kemudian penisnya tanpa ragu dikulum gadis itu. Petot memang ditakdirkan berwajah tak menarik ( mungkin waktu Tuhan bagi bagi wajah, Petot tak hadir ). Sulit bagi Petot untuk mendekati wanita, bahkan perempuan nakal sekalipun enggan melayaninya. Itu pula sebabnya Petot belum menikah hingga sekarang.

Tapi secara tak terduga, saat ini ada seorang pengantin yang sangat cantik bersedia melayaninya dengan suka rela, Petot pun ( mungkin ) rela mati untuk menikmatinya. Sungguh mengherankan, Dita yang sebelumnya tak pernah melakukan hubungan seksual dengan siapapun, mendadak menjadi sangat ahli mengoral penis layaknya seorang professional. Itulah salah satu efek ‘black note’. Seorang introvert sekalipun bisa berubah menjadi binal. Petot bergidik girang saat menikmati sapuan nakal lidah Dita di seputaran penisnya, apalagi dikombinasikan dengan kocokan mulut yang jarang bisa dinikmatinya.Untuk menambah panas suasana, Dita bahkan sengaja mengerang dan menggumam bagaikan bintang film porno.

Dengan gemetar dan takut takut, Petot menggerakan tangannya untuk menyentuh buah dada Dita yang melekuk indah di balik gaun pengantin.

“hooohh..ooohhh…..”

Tak banyak yang bisa Petot ucapkan saking senangnya saat ia berhasil menyentuh payudara Dita. Tangannya bermain main nakal disana mencoba meniru pada apa yang pernah ia lihat di film bokep. Saat tangan Petot berusaha menelusup masuk dari atas, tiba tiba saja Dita menepisnya dengan keras. Dita menghentikan oral servicenya lalu menggeleng gelengkan kepala.

“eehh..emmm…anu..emmm..ahh..ehh….” Petot bergumam tak jelas, salah tingkah dan terkejut. Tangannya bergerak gerak tanpa arti seperti hendak menjelaskan sesuatu.

Petot mengira Dita pastilah marah karena wajah gadis itu terlihat datar. Namun tentu saja Dita tak marah, ia hanya menggoda Petot saja. Sambil tersenyum, Dita melonggarkan bagian belakang gaunnya dan lalu menurunkannya memperlihatkan dengan suka rela keindahan tonjolan buah dadanya. Tak sempat bagi Petot untuk terkejut sekalipun, Dita telah menarik kepala Petot ke arah buah dadanya. Sempat terdiam sejenak, namun segera dengan rakusnya menyeruput buah dada nan mulus tersebut. Begitu ganas, begitu rakus, hingga suara liurnya pun terdengar jelas. Agar posisinya lebih nyaman, Petot membaringkan Dita di lantai beralaskan kardus gepeng. Lalu dengan lebih ganas dari sebelumnya, Petot meremas dan mengulum kedua bukit mulus Dita bergantian.

Baca Juga Cerita Sex Istri Yang Nakal

“anjing lu tot..!!! ngapain luh….??!!!!”

Entang dan Udin rupanya telah kembali setelah menerima pembayaran atas barang yang mereka kirim. Saat menuju tempat parkir basement, mereka mendengar kehebohan tentang pengantin wanita yang mendadak lari dan menghilang, mereka juga sempat bertemu dengan orang orang yang sedang mencarinya. Tentu saja mereka terkejut saat menemukan pengantin yang hilang itu berada di dalam mobil box mereka dan sedang digumuli oleh Petot.

Mereka awalnya mengira Petot ( yang putus asa karena tak punya pacar ) telah menyeret dan membawa pengantin itu ke dalam mobil lalu memperkosanya. Namun dalam sekejap pula, Entang dan Udin tercengang. bukan hanya terlihat pasrah, tapi pengantin itu menatapnya dengan pandangan menggoda. Bibirnya membuka sedemikian rupa memberi kesan sexy dan erotis. Dengan gerakan jari, Dita memanggil Entang dan Udin untuk mendekat. Dua pria itu tak langsung bergerak, mereka justru saling berpandangan. Setan dan malaikat sedang bergumul di hati masing masing. Namun kala melihat Petot yang buruk rupa begitu asyik menikmati buah dada gadis itu yang juga terlihat pasrah, maka setan lah yang memenangkan pertarungan batin tersebut.

“din…nyetir….” kata Entang menyerahkan kunci mobil sambil matanya terus menatap Dita penuh minat.

“tapi….”Udin mencoba protes

“udah nyetir sana ….!!!”

“tapi…”

“eehh….mau uang hasil tadi gak dibagi..???”

“iya…sok lah…gak dibayar juga gak apa apa…..” jelas sekali Udin pun sama bernafsunya untuk meniduri Dita. Antara uang dan Dita , Udin memilih Dita.

“eehh..siah belegug…!!!! Kaditu nyetir …!!!! Cabok geura ku aing…” Entang mendorong tubuh Udin sambil menendang pelan pantatnya.

Sambil bergumam kesal, Udin akhirnya pergi ke depan. Kekesalannya ia lampiaskan dengan membanting pintu sekeras mungkin. Udin pun tetap mengomel sendirian kala menyalakan mesin dan membawa mobil box tersebut meninggalkan hotel. Entang dengan semangat melompat masuk ke dalam box dan menutup pintunya rapat. Sebuah tingkap kecil di atap ia buka untuk sirkulasi udara.

“neng..ikutan yah…boleh….??” Tanya Entang sambil meringis cabul.

Saat Entang mendekat, Dita mendorong tubuh Petot menjauh. Tanpa bicara apa apa selain senyuman menggoda, Dita mengatkan kedua tangannya, memberi isyarat pada Entang dan Petot untuk tak mendekatinya dulu.

Dibumbui dengan kerlingan nakal, senyuman menggoda dan gerakan erotis, Dita melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya tanpa kecuali. Ia juga melepas berbagai hiasan kepalanya lalu menggerai rambutnya. Kemudian masih dengan gerakan tangan, Dita menyuruh kedua pria itu untuk melepas juga pakaian masing masing. Bagai sedang berlomba, Entang dan Petot saling adu cepat melepas pakaian. Tentu saja Petot yang hanya memakai kaus lusuh dan celana pendek tanpa dalaman, selesai lebih dulu dibanding Entang yang berpakaian lebih rapi. Dita mendekati Petot, diciumnya sejenak bibir pria itu. Lalu ciuman Dita beralih ke leher. Disana ia melakukan jilatan jilatan pembangkit nafsu, diawali dari leher hingga menuju puting Petot. Gerakan memutar lidah Dita yang menggelitik puting Petot, sungguh sulit dicari bandingan nikmatnya. Dita berhenti sejenak saat Entang mendekat. Disambutnya pria itu dengan senyuman termanisnya. Entang mendekatkan wajah hendak mencium bibir Dita, namun ia justru diarahkan menuju payudara. Dita pun membawa kepala Petot menuju buah dadanya.Cerpen Sex

Dua pria itu tentu saja dengan senang hati menerima ‘tawaran’ tersebut. Hanya butuh waktu beberapa detik untuk mereka tenggelam dalam keasyikan menikmati fresh-nya buah dada Dita. Kuluman, jilatan, sedotan, gigitan, apapun yang bisa dilakukan mulut mereka lakukan. Dan mulut mereka pun semakin ganas saat Dita mengocok penis mereka masing masing. Decapan, erangan, rintihan dan geliatan erotis semakin panas mengisi tiap sudut dari mobil box tersebut. Sementara masih dengan mengomel sendirian, Udin membawa mobil itu melintasi jalan jalan ramai ibukota tanpa ada yang tahu dan menyadari jika di dalam mobil box tersebut sedang berlangsung pergulatan birahi yang makin membara saja.

Di dalam, posisi mereka sudah berubah. Entang kini sedang dalam posisi bersiap siap melakukan eksekusi. Dengan duduk bersandar pada dinding box, Petot merangkul Dita dari belakang, tangannya tak sedetik pun lepas dari payudara gadis itu. Tanpa diperintah, Dita membuka kakinya lebar lebar memperlihatkan vagiannya yang belum sekalipun pernah tersentuh oleh laki laki. Entang yang punya sedikit ‘pengalaman’ rupanya bisa menduga juga jika Dita masih virgin. Karena itu ia tak terburu buru dan cenderung berhati hati. Penisnya yang menegang tak sabar, ia sodorkan ke mulut Dita dan membiarkan gadis itu mengocoknya hingga basah. Setelah dirasa cukup basah, Entang menarik penisnya dan memposisikan tepat di depan vagina Dita. Dengan tegang Dita menarik nafas, menantikan penis pertama yang akan mengoyak kesuciannya. Perlahan dan penuh kelembutan (sepertinya Entang memang sudah berpengalaman) penis itu mencoba menyeruak masuk ke dalam lubang sempit tersebut. Dita memejamkan mata, menunggu sebuah rasa yang selama ini belum pernah dirasakannya. Dan Dita pun mencengkram kuat paha Petot seraya mengerang panjang saat momen itu tiba. Satu dorongan kuat membenamkan penis Entang kian dalam sekaligus juga merobek keperawanan Dita. Air mata Dita mengalir bersamaan dengan darah kesuciannya. Matanya masih terpejam mencoba menkondisikan diri dengan keadaanya sekarang. Entang pun mengerti itu, meski birahinya semakin naik namun ia tak mau terlalu memaksakan Dita. Penisnya ia biarkan dulu terbenam di vagina gadis itu tanpa seinchi pun ia gerakkan. Selain menunggu Dita terbiasa, Entang pun juga menikmatinya. Petot pun ‘berusaha’ untuk membuat Dita rileks dengan menciumi leher dan belakang telinga gadis itu sambil tentu saja meremas payudaranya. Dita memang terlihat mulai rileks, ia membuka matanya memberi isyarat pada Entang untuk melanjutkan penetrasinya meskipun senyumnya masih agak dipaksakan.

“siap ya neng….” Kata Entang.

Entang menghentakan tubuhnya sekali lalu diam sejenak , Dita meresponnya dengan helaan nafas. Ia menghentak lagi satu kali, lalu diam lagi. Dita kembali menghela nafas. Begitu seterusnya.

Dita menarik nafas terhenyak setiap tubuhnya tersentak, diikuti oleh rintihan pendek. Kadang pula mulut Dita terbuka tanpa suara selain desah sengau layaknya penderita asma. Vaginanya terasa panas, perih sekaligus juga nikmat. Setelah beberapa kali melakukan hentakan tunggal, gerakan Entang perlahan tapi pasti mulai teratur dan konstan. Dita mulai merasakan perih yang lebih di vaginanya, secara naluriah ia mendorong tubuh Entang untuk menjauh meski tanpa tenaga. Petot dengan sigap mengambil tangan Dita dan menahannya memberi keleluasaan Entang untuk menggenjot gadis itu. Payudara Dita yang padat, kencang dan kenyal, berguncang begitu indahnya mengikuti irama hentakan tubuh Entang. Jerit dan rintihan seperti orang yang akan menangis terus meluncur dari bibir Dita, bersahutan dengan errangan nikmat dari Entang. Wajah gadis itu pun kini sudah basah oleh keringat dan air mata. Entah berapa lama Entang melakukan genjotan sampai akhirnya Dita merasakan pengalaman pertamanya. Dita merasakan seluruh tubuhnya menegang dan mengejang lalu dengan drastis melemas. Darahnya terasa berdesir lebih cepat , tubuhnya terasa dingin dan merinding. Dita pun menjerit panjang di awal lalu berubah terputus putus saat puncak kenikmatan itu dirasakannya. Kakinya untuk beberapa saat menendang nendang liar , tangannya menekan kuat lantai mobil box. Tubuh Dita pun berguncang lemah tak berdaya saat Entang yang masih mencari klimaks menggenjotnya lebih kencang. Dan akhirnya Entang pun mengerang panjang sambil meremas buah dada Dita. Spermanya ia biarkan memenuhi vagiana gadis itu.

“fiiuiihh…gilee,….adem beneeerrrr……” ucap Entang saat mencabut penisnya sambil duduk kelelahan bersandar pada dinding box.

Dita terbaring lemas di lantai, nafasnya masih terengah engah seperti pelari marathon yang baru tiba di finish. Pikirannya sedang berusaha ‘menerjemahkan’ pengalaman pertamanya tadi.

Sakitkah atau nikmat……haruskah merasa senang atau sedih……benarkah yang dilakukannya atau salah……..

Benar atau salah…..???? apa yang terjadi…..???? kenapa terjadi…..??? siapa mereka….????

Sedikit demi sedikit akal sehat Dita mulai kembali. memorinya mulai melacak mundur pada apa yang terjadi sebelumnya. Efek ‘black note’ perlahan mulai memudar. Dan pada saat Petot sudah menancapkan penisnya ke vagina Dita, saat itu pula kesadaran Dita benar benar kembali. sontak Dita menjerit histeris . kali ini ia berontak, meronta, menjerit dan meraung raung minta tolong.

“tolong…tolong..tol,…emmppphh…..”

Jeritan Dita tertahan oleh sumpalan kemeja dari Entang dan dengan sigap pula Entang mengunci tangan Dita hingga tak bisa bergerak. Tak mau kehilangan momen , Petot menggenjot tubuh Dita dengan kasar dan terburu buru. Entah karena sadar perlawanannya sia sia atau memang karena tenaganya sudah habis, Dita tak lagi meronta dan menjadi pasrah. Tubuhnya lemah terguncang selain karena hentakan Petot, juga karena isakan tangisnya. Melihat Dita sudah kembali pasrah, Entang melepas kunciannya, bekapan di mulut Dita pun ia singkirkan. Petotpun terlihat lebih santai melakukan genjotan, ia sempat menyelingi dengan remasan di payudara, bahkan sejenak mengulumnya dan menggigiti lembut putting Dita.

Dita menutup wajah dengan kedua tangannya, sedu sedan tangisannya semakin keras diselingi rintihan lirih saat vaginanya terasa perih atau saat gigitan Petot di putingnya terasa menyengat. Seharusnya hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Seharusnya hari ini ia menikmati indahnya malam pengantin bersama lelaki pilihannya. Seharusnya malam ini ia mempersembahkan dan melepas kesuciannya yang selama ini terjaga dengan baik pada sang suami tercinta. Tapi entah kenapa hari ini berakhir tragis. Kesuciannya harus terenggut oleh orang yang tak ia kenal, di tempat yang tak seharusnya pula. Dita tak mengerti kenapa bisa begini. Ia ingat apa yang terjadi sebelumnya, kehebohan yang dia buat saat mencium pacar sahabatnya sendiri di depan semua orang, di hari pernikahannya. Tapi ia tak tahu kenapa ia melakukannya. Dan mobil box itupun terus meluncur ke luar Jakarta, semakin menjauhkannya dari impian yang seharusnya dinikmati oleh pengantin baru.– Cerita Sex Indonesia ; Cerita Sex Panas ; Cerita Bokep ; Cerita Sex ; Cerita Hot ; Cerita Panas Indonesia ; Cerita Dewasa ; Cerita Seks, Cerita Hot Terbaru.